7 Cara Menegur Anak Tanpa Membentak

- Penelitian menunjukkan membentak anak dapat berdampak negatif pada psikologis, perilaku, dan hubungan dengan orangtua, bahkan meningkatkan risiko anak menjadi memberontak atau menjauh.
- Orangtua disarankan menegur dengan tenang, bersikap tegas tanpa bentakan, serta menjelaskan kesalahan anak agar ia memahami tindakan yang perlu diperbaiki.
- Mendengarkan penjelasan anak, memberi teladan positif, dan memberikan apresiasi atas perubahan sikap membantu memperkuat komunikasi serta motivasi anak untuk berperilaku baik.
Membentak sering kali menjadi respons spontan ketika anak sulit diatur atau mengulang kesalahan yang sama. Padahal, cara ini belum tentu efektif untuk membuat anak memahami kesalahannya.
Dilansir dari primayahospital.com, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membentak anak dapat berdampak pada kondisi psikologis, perilaku, hingga hubungan anak dengan orangtuanya. Bahkan, menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health (NIH), pola asuh yang disertai bentakan justru dapat meningkatkan perilaku memberontak pada anak. Jika terus terjadi, anak juga berisiko menjadi lebih tertutup dan menjauh dari orangtua.
Lantas, bagaimana cara menegur anak tanpa harus membentak? Berikut Popmama.com telah merangkum tujuh caranya.
1. Tenangkan emosi sebelum menegur anak

Jangan langsung menegur saat Mama atau Papa masih dipenuhi rasa marah. Luangkan waktu sejenak untuk menenangkan diri agar kata-kata yang keluar tidak dipengaruhi emosi sesaat.
Ketika orangtua berbicara dengan tenang, anak juga cenderung lebih mudah mendengarkan dan memahami maksud yang disampaikan.
2. Bedakan sikap tegas dengan membentak

Bersikap tegas bukan berarti harus meninggikan suara. Orangtua tetap bisa memberikan batasan dengan nada yang tenang, tetapi jelas dan konsisten.
Anak justru lebih mudah memahami aturan ketika pesan disampaikan dengan tegas tanpa disertai ancaman atau bentakan.
3. Buat aturan yang jelas sejak awal

Anak akan lebih mudah menerima teguran jika ia sudah mengetahui aturan yang berlaku di rumah.
Misalnya, sepakati bersama bahwa mainan harus dibereskan setelah digunakan atau waktu bermain gawai memiliki batas tertentu. Saat anak melanggar, orangtua cukup mengingatkan kembali aturan yang sudah disepakati.
4. Jelaskan kesalahan yang dilakukan anak

Alih-alih hanya mengatakan, “Kamu nakal,” jelaskan perilaku mana yang kurang tepat dan mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan.
Dengan begitu, anak memahami bahwa yang dikoreksi adalah tindakannya, bukan dirinya sebagai pribadi.
5. Beri kesempatan anak untuk menjelaskan

Setelah menegur, jangan lupa mendengarkan sudut pandang anak. Bisa jadi ada alasan yang belum diketahui orangtua.
Membuka ruang diskusi juga membantu anak belajar mengungkapkan perasaan, bertanggung jawab atas tindakannya, sekaligus melatih kemampuan menyelesaikan masalah.
6. Tunjukkan contoh perilaku yang diharapkan

Anak belajar paling banyak dari apa yang ia lihat setiap hari. Karena itu, jangan hanya meminta anak bersikap sopan, sabar, atau jujur, tetapi tunjukkan langsung melalui perilaku orangtua.
Keteladanan sering kali lebih efektif daripada nasihat yang panjang.
7. Berikan apresiasi saat anak memperbaiki sikapnya

Ketika anak berusaha memperbaiki kesalahannya atau berhasil mengikuti aturan, jangan ragu memberikan pujian atau apresiasi sederhana.
Penguatan positif membuat anak lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku baik, dibandingkan jika ia hanya mendapat perhatian saat melakukan kesalahan.

















