Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Women Empowerment ala Puteri Indonesia 2026, Bukan Sekadar Mahkota

Women Empowerment ala Puteri Indonesia 2026, Bukan Sekadar Mahkota
Dok. Puteri Indonesia 2026
Intinya Sih
  • Kolaborasi YPI dan Netzme lewat program Women Empowerment Journey: Crown of Impact x Mocha 2026 menekankan pentingnya dampak sosial berkelanjutan, bukan sekadar ajang kecantikan atau kegiatan amal sesaat.

  • Finalis asal Kalimantan Timur, Cheryl Lidia Regar, meraih penghargaan Best Advokasi berkat platform CIRO WASTE yang mengubah limbah menjadi peluang ekonomi sirkular dan mendapat dukungan investasi dari Netzme.

  • Program ini juga membekali finalis dengan pelatihan public speaking agar mampu menyampaikan ide advokasi secara percaya diri dan substansial, memperkuat peran perempuan sebagai komunikator perubahan sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia memang tak pernah kekurangan perempuan hebat dengan ide-ide brilian. Masalahnya sering kali bukan pada gagasan, melainkan pada keberanian untuk menyuarakannya dan ekosistem yang mau mendengarkan serta mendanainya.

Nah, itulah yang coba diubah oleh kolaborasi antara Yayasan Puteri Indonesia (YPI) dan PT Netzme Kreasi Indonesia (Netzme) melalui program Women Empowerment Journey: Crown of Impact x The 5th Motion Challenge (Mocha) di ajang Puteri Indonesia 2026.

Di tengah kompetisi kecantikan yang kerap dinilai sebelah mata, acara yang digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Selasa (14/04/2026) ini membawa angin segar.

Bukan sekadar tentang mahkota dan selempang, tapi tentang seberapa besar dampak sosial yang bisa dihasilkan seorang perempuan.

Berikut Popmama.com rangkumkan tiga sorotan utama bagaimana acara ini mengubah paradigma advokasi menjadi gerakan nyata yang berkelanjutan. Dari kegiatan ini, bisa memotivasi generasi muda agar menjadikannya sebagai inspirasi dan motivasi untuk gagasan positif di masa mendatang.

1. Bukan sekadar amal, tapi model bisnis sosial berkelanjutan

Puteri Indonesia 2026
Dok. Puteri Indonesia 2026

kegiatan amal sekali putus atau charity memang mulia, tapi dampaknya sering tidak bertahan lama. Nah, melalui kolaborasi ini, Netzme dan YPI mengajak para finalis untuk berpikir lebih jauh, Ma.

Adapun kolaborasi ini mengajak para finalis untuk menciptakan model bisnis sosial yang bisa menggerakkan roda ekonomi sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan.

Di sini, para finalis tak hanya diminta berbagi mimpi, tapi juga mempresentasikan proposal advokasi yang memiliki keberlanjutan bisnis.

CEO PT Netzme Kreasi Indonesia, Vicky Ganda Saputra, menegaskan:

“Kami ingin mendorong para finalis untuk tidak hanya sekadar menjalankan program inisiatif advokasi biasa yang dampaknya sulit terukur secara maksimal. Kami menantang mereka agar proposal tersebut mampu memberikan dampak nyata, baik dari sisi sosial, kemanusiaan, maupun dari sisi keberlanjutan bisnisnya.”

Artinya, program yang diusulkan harus bisa hidup dan berkembang tanpa terus-menerus bergantung pada donasi. Pendekatan inilah yang sejalan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang selama ini konsisten dijalankan Netzme dalam memberdayakan UMKM di seluruh Indonesia.

2. Cerita salah seorang finalis yang meraih penghargaan Best Advokasi

Puteri Indonesia 2026
Instagram.com/cherrgr

Direktur PT Mustika Ratu Tbk dan Ketua Pemilihan Puteri Indonesia, Kusuma Anjani, juga menjelaskan:

“Melalui acara Crown of Impact, para finalis tidak hanya diuji dari sisi ide, tetapi juga dari sisi kemampuan merancang program advokasi yang memiliki sustainability serta relevansi jangka panjang. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ecosystem of impact.”

Cheryl Lidia Regar, perwakilan Kalimantan Timur, jadi salah satu perempuan muda inspiratif, yang berhasil meraih penghargaan Best Advokasi berkat inisiatifnya yang brilian.

Ia menciptakan platform ekonomi sirkular bernama CIRO WASTE atau CIROES, sebuah platform digital yang memungkinkan pengelolaan limbah secara efisien sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Gagasan ini dinilai inovatif dan implementatif karena bukan cuma menyelesaikan masalah sampah, tapi juga membuka lapangan ekonomi baru bagi warga sekitar.

Yang lebih membanggakan, Cheryl bukan cuma mendapatkan piala saja, Ma, tapi berhak memperoleh dukungan investasi dan pendampingan langsung dari Netzme.

Artinya, ide cerdasnya akan benar-benar dijalankan berkelanjutan, bukan sekadar menjadi bahan berita lalu dilupakan.

3. Gagasan hebat butuh penyampaian yang tepat

Puteri Indonesia 2026
Instagram.com/officialputeriindonesia

Bukan sekadar ajang unjuk penampilan demi meraih sebuah mahkota, tapi ada satu pelajaran penting dari acara ini, yakni sehebat apa pun ide seorang perempuan, kalau ia tak bisa menyampaikannya dengan percaya diri, maka potensi besar itu akan sia-sia.

Itulah mengapa Motion Challenge menghadirkan pelatihan public speaking untuk membekali para finalis dalam mengutarakan gagasannya. Bukan hanya dilatih berani bicara, tapi juga berbicara dengan substansi.

Sebab, seperti yang disampaikan sang pelatih, seorang founder atau penggerak perubahan sejatinya adalah komunikator. Tanpa kemampuan menyampaikan ide secara tepat, gagasan besar hanya akan berhenti sebagai potensi.

Antusiasme publik pun cukup tinggi, baik yang hadir langsung maupun melalui siaran langsung di kanal YouTube UP NOW Media by Mustika Ratu Entertainment.

Masyarakat juga masih bisa mendukung finalis favorit melalui voting di laman vote.puteri-indonesia.com hingga malam puncak Grand Final pada Jumat, 24 April 2026 mendatang.

Mereka tak hanya mengejar mahkota, tapi juga membawa misi berkelanjutan untuk lingkungan dan sesama. Selamat berjuang untuk semua finalis Puteri Indonesia 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More