Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Cara Mengajarkan Anak Hidup Prihatin, Hemat Pangkal Kaya
Pexels/Joslyn Pickens
  • Penting untuk mengajarkan anak hidup prihatin di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil dan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat.

  • Terdapat tujuh langkah praktis seperti berdiskusi soal keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung, hemat energi, serta merawat barang agar anak belajar tanggung jawab finansial.

  • Rasa syukur menjadi pondasi utama agar anak tetap positif, menghargai rezeki yang dimiliki, dan mampu menjalani gaya hidup hemat tanpa merasa terbebani.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini, pasti Mama sering dihadapkan pada realita kondisi keuangan global yang tidak stabil, nilai tukar rupiah yang sempat melemah, hingga lonjakan harga-harga bahan makanan pokok di pasar yang kian mencekik kantong. 

Untuk menghadapi situasi yang serba tidak menentu seperti ini, mengenalkan konsep kesederhanaan serta menanamkan prinsip hemat pangkal kaya kepada anak sejak dini adalah sesuatu yang bisa Mama lakukan. 

Mengajarkan anak untuk hidup prihatin bukan berarti menyiksa atau bersikap kikir kepada anak, melainkan sebuah bentuk edukasi finansial agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bersyukur, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Berikut Popmama.com rangkum 7 cara mengajarkan anak hidup prihatin di tengah kondisi ekonomi yang menantang!

1. Berdiskusi secara jujur mengenai lonjakan harga kebutuhan pokok

Pexels/Suki Lee

Langkah awal yang paling mendasar untuk membangun pemahaman anak adalah dengan mengajak mereka mengobrol secara terbuka mengenai kondisi dapur. 

Saat Mama sedang memasak atau menyusun anggaran bulanan, selipkan cerita ringan mengenai fenomena harga bahan makanan yang saat ini sedang melambung tinggi di pasaran. 

Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami tanpa perlu membuat anak menjadi cemas atau merasa terbebani. 

Berikan pengertian bahwa situasi keuangan yang tidak stabil ini membuat Mama dan keluarga harus lebih bijak dalam memilah mana barang yang benar-benar mendesak untuk dibeli dan mana yang bisa ditunda. 

Edukasi dini ini sangat penting agar anak mulai memahami realita kehidupan dan tidak menuntut hal-hal yang di luar kemampuan finansial Mama dan Papa.

2. Membedakan kebutuhan utama dan keinginan sesaat

Pexels/Julia M Cameron

Menanamkan mental hemat pangkal kaya bisa dimulai dengan melatih ketajaman anak dalam membedakan antara kebutuhan primer dengan keinginan mata semata. 

Ketika anak meminta dibelikan baju baru yang sedang tren, ajak mereka berpikir sejenak apakah barang tersebut benar-benar penting atau hanya lapar mata akibat pengaruh lingkungan. 

Jelaskan secara perlahan bahwa di tengah nilai mata uang rupiah yang sedang mengalami fluktuasi, prioritas utama keluarga harus dialihkan untuk mengamankan kebutuhan pokok terlebih dahulu seperti biaya pendidikan dan asupan nutrisi harian. 

Hal ini akan membentuk karakter anak yang tidak mudah goyah oleh arus konsumerisme dan lebih menghargai setiap pengeluaran yang dilakukan Mama dan Papa.

3. Melatih anak untuk menghabiskan makanan tanpa ada yang tersisa

Pexels/Max Fischer

Kebiasaan membuang-buang makanan atau menyisakan isi piring merupakan hal yang harus segera dihentikan, terutama di tengah situasi harga pangan yang tidak menentu seperti sekarang. 

Mengajarkan anak hidup prihatin bisa dipraktikkan langsung di meja makan dengan membuat aturan bahwa setiap makanan yang sudah diambil harus dihabiskan secara bersih. 

Berikan pemahaman yang mendalam bahwa untuk menyajikan sepiring nasi dan lauk pauk yang bergizi, ada perjuangan kerja keras Mama dan Papa serta biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan. 

Dengan menghargai makanan yang terhidang di atas meja, anak secara tidak langsung sedang diajarkan untuk menyayangi jerih payah keluarga sekaligus memupuk rasa empati yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.

4. Menabung guna mengantisipasi masa depan yang tidak pasti

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Membiasakan anak menyisihkan sebagian kecil uang saku mereka ke dalam celengan merupakan cara klasik yang tetap paling ampuh untuk melatih kemandirian finansial. 

Di tengah ketidakstabilan ekonomi yang melanda, memiliki dana cadangan atau tabungan pribadi adalah sebuah keharusan yang tidak boleh ditawar lagi. 

Berikan motivasi kepada anak bahwa dengan hidup berhemat dan rajin menabung, mereka sedang mengumpulkan kekuatan untuk membantu mewujudkan impian mereka sendiri di masa depan tanpa merepotkan orang lain. 

Jelaskan bahwa setiap rupiah yang berhasil mereka simpan hari ini akan menjadi pelindung yang sangat berharga ketika keluarga sedang menghadapi masa-masa sulit atau ada keperluan mendadak yang tidak terduga.

5. Membiasakan hemat energi untuk menekan pengeluaran rumah tangga

Pexels/Artem Podrez

Mengajarkan hidup prihatin juga bisa diwujudkan melalui aksi nyata yang sederhana dalam mengelola penggunaan fasilitas energi di dalam rumah sehari-hari. 

Ketika nilai rupiah sedang melemah dan biaya hidup merangkak naik, ajaklah anak disiplin mematikan lampu kamar yang tidak digunakan. 

Berikan pemahaman kepada anak mengenai pentingnya mencabut kabel pengisi daya ponsel yang sudah penuh serta menutup kran air dengan rapat setelah mereka selesai menyikat gigi atau mandi. 

Jelaskan secara perlahan bahwa setiap tetes air dan listrik yang berhasil mereka hemat akan sangat membantu Mama dalam memangkas pengeluaran tagihan bulanan, sehingga sisa dananya bisa dialokasikan untuk mengamankan persediaan bahan makanan pokok.

6. Membiasakan untuk merawat barang agar tahan lama

Pexels/Katerina Holmes

Mengajarkan hidup prihatin juga erat kaitannya dengan bagaimana cara kita memperlakukan barang-barang yang sudah kita miliki di rumah. 

Latihlah anak untuk selalu bertanggung jawab menjaga, membersihkan, dan menyimpan kembali mainan atau perlengkapan sekolah mereka ke tempat semula setelah selesai digunakan. 

Berikan pemahaman bahwa membeli barang baru sebagai pengganti barang yang rusak akibat kelalaian adalah sebuah bentuk pemborosan yang sangat merugikan keuangan keluarga. 

Dengan merawat pakaian, sepatu, dan buku pelajaran secara baik agar tidak mudah rusak, anak belajar untuk menghargai nilai suatu barang dan menekan pengeluaran rumah tangga secara signifikan.

7. Menanamkan rasa syukur atas rezeki yang masih dimiliki

Pexels/Anna Shvets

Pondasi paling utama dalam mengajarkan hidup prihatin kepada buah hati adalah dengan senantiasa menumbuhkan rasa syukur yang mendalam di dalam hati mereka. 

Di tengah kabar mengenai pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakstabilan ekonomi yang sering terdengar, ajaklah anak untuk tetap melihat sisi positif dari kehidupan harian keluarga. 

Ingatkan anak bahwa memiliki tempat tinggal yang aman untuk berteduh dan masih bisa berkumpul bersama anggota keluarga dalam keadaan sehat adalah sebuah berkah yang luar biasa. 

Rasa syukur yang konsisten ini akan menjaga mental anak tetap positif, mencegah mereka dari sifat suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain, serta membuat aktivitas hidup hemat terasa ringan dijalani.

Intinya, Ma, di tengah badai ekonomi dan harga kebutuhan yang terus merangkak naik, kekuatan mental untuk selalu hidup hemat akan menjadi modal utama bagi anak agar mampu berdiri tegak menghadapi tantangan zaman.

Dari ketujuh cara sederhana di atas, langkah nomor berapa yang rencananya akan Mama terapkan terlebih dahulu dalam rutinitas harian bersama anak minggu ini?

Editorial Team

Related Article