Menghadapi situasi ini, panduan resmi dari National Kidney Foundation menegaskan agar orangtua tidak sembarangan melakukan diagnosis mandiri.
Mata telanjang kita tidak bisa memastikan apakah busa tersebut benar-benar berisi protein atau hanya sekadar gelembung air biasa. Langkah paling aman adalah segera membawa si Anak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Saat berkonsultasi, dokter spesialis anak biasanya akan langsung merekomendasikan tes urinalisis sebagai langkah penanganan utama. Tes medis sederhana di laboratorium ini mampu mengonfirmasi ada atau tidaknya kadar protein berlebih di dalam urine dengan sangat akurat.
Jika hasilnya menunjukkan suatu kejanggalan, dokter mungkin akan meminta pemeriksaan darah lanjutan sesuai kondisi indikasi si Anak.
Terkait pentingnya pemeriksaan medis ini, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) turut membagikan pandangannya,
“yang harus dilakukan jika pipis anak berbusa secara menetap dan sering? jangan self diagnosis, lakukan konsultasi ke dokter untuk wawancara medis dan pemeriksaan fisis anak. Setelahnya lakukan pemeriksaan urine (urinalisis atau protein urine kuantitatif) dan pemeriksaan lain sesuai indikasi.”
Nasihat dari dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K) menjadi pengingat Mama untuk selalu mengutamakan konsultasi profesional demi keselamatan anak.
Dengan memastikan kelancaran asupan cairan harian dan membangun komunikasi terbuka soal kebiasaan di toilet, Mama bisa lebih cepat melakukan langkah deteksi dini. Tetaplah tenang dan selalu jadikan anjuran dari praktisi kesehatan sebagai panduan utama jika menemukan tanda-tanda medis yang mencurigakan.