Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Penyusutan Otak pada Anak Akibat Video Pendek, Waspada 7 Dampaknya!

Kasus Penyusutan Otak pada Anak Akibat Video Pendek, Waspada 7 Dampaknya!
Magnific/Freepik
Share Article

Anak jaman sekarang memang sudah melekat banget sama gadget dan media sosial ya, Ma. Mulai dari nonton YouTube, main game, sampai scroll short video yang lagi hits banget.

Tapi siapa sangka, kebiasaan scrolling video pendek yang kelihatannya sepele bisa bawa dampak serius buat si Kecil, lho.

Belakangan ini heboh di media sosial cerita seorang mama yang anaknya divonis mengalami penyusutan otak, yang disebut terjadi karena sang anak tiap hari nggak berhenti scroll short video di media sosial.

Pemberitaan yang viral ini tentu bikin orangtua yang membaca ikut merinding dan takut terjadi pada anaknya juga, kan? 

Nah, biar Mama lebih aware, berikut Popmama.com rangkumkan soal bahaya kecanduan nonton video pendek yang bisa dijadikan bahan evaluasi bersama di rumah.

1. Rentang perhatian jadi pendek

anak bermain gadget bersama
Magnific/pch.vector

Video pendek dirancang super cepat dan langsung ke inti, yang justru bisa bikin otak anak jadi terbiasa dengan sajian instan yang nggak perlu usaha ekstra untuk dicerna. 

Meski menyenangkan ditonton berlama-lama, ini bisa berakibat pada hilangnya fokus anak, Ma.

Nggak jarang mereka jadi susah untuk duduk tenang, gampang bosan saat mengerjakan tugas, atau nggak betah membaca buku cerita. 

Ini terjadi karena otaknya sudah terlatih untuk menerima stimulasi cepat dan berganti-ganti tanpa jeda, seperti yang disajikan pada video pendek di media sosial.

2. Kecanduan

mama bersama anaknya
Magnific/freepik

Algoritma di balik video pendek memang dibuat untuk terus menarik perhatian. Setiap kita scroll, ini akan memberikan sensasi baru yang bikin otak melepaskan hormon kebahagiaan yang bikin nagih.

Anak yang sudah kecanduan biasanya susah terlepas dari gadget, jadi ia akan selalu minta Mama agar diberikan tontonan tiap hari, dan kalau dibatasi bisa tantrum atau rewel. Mirip seperti efek candu, anak akan terus mencari kepuasan instan yang didapat dari setiap video baru yang muncul.

3. Gangguan perkembangan otak dan emosi

pelaku perundungan
Magnific/freepik/AI

Studi ilmiah menunjukkan bahwa kecanduan video pendek dapat memengaruhi struktur otak, terutama di area prefrontal cortex yang bertanggung jawab untuk kontrol diri dan pengaturan emosi.

Anak yang terlalu sering terpapar stimulasi cepat dari video pendek biasanya jadi lebih sulit mengelola emosinya. Kesabaran menipis, kontrol diri melemah, dan anak cenderung lebih impulsif. 

Nah, kondisi ini yang bikin anak gampang marah atau nangis saat keinginannya nggak langsung terpenuhi. Jadi sering tantrum, Ma!

4. Gangguan tidur

batasi screentime sebelum tidur
Magnific/freepik

Kebiasaan nonton video pendek sebelum tidur adalah mimpi buruk buat kualitas istirahat anak. Blue screen atau cahaya biru pada layar bisa menghambat produksi melatonin, yang merupakan hormon penyebab kantuk.

Akibatnya, anak jadi tidur lebih larut, kualitas tidur menurun, dan bangun dengan kondisi lelah. Kalau seperti ini, anak pun jadi lebih rewel, susah konsentrasi, dan daya tahan tubuhnya ikut menurun.

5. Meniru perilaku yang tidak sesuai

anak dibully
Magnific/freepik

Nggak semua konten di platform video pendek cocok buat anak-anak, Ma. Banyak konten yang mengandung bahasa kasar, perilaku berbahaya, atau tren-trens aneh yang nggak mendidik.

Sebagai peniru ulung, anak akan cenderung meniru apa yang mereka lihat. Kalau dibiarkan terus tanpa pengawasan ketat, risiko anak meniru perilaku negatif atau bahkan berbahaya jadi sangat besar, Ma.

6. Kurang aktivitas fisik dan sosial

anak belajar dengan gadget
Magnific/pressfoto

Screen time yang berlebihan otomatis mengurangi waktu anak untuk bergerak dan berinteraksi. Anak jadi malas main di luar, jarang ketemu teman, dan kehilangan momen berharga bersama keluarga.

Nah, kalau anak kekurangan aktivitas fisik, tentunya ini juga sangat berisiko bagi kesehatan fisiknya, Ma. Yang nggak kalah penting, keterampilan sosial anak jadi terhambat karena interaksi tatap muka berkurang akibat terlalu asyik scroll gadget.

7. Brainrot atau pembusukan otak

active recall belajar
Magnific/jcomp

Fenomena ini bahkan sampai dinobatkan sebagai "Word of the Year" 2024 oleh Oxford. Istilah brainrot menggambarkan penurunan kemampuan intelektual akibat terlalu banyak mengonsumsi konten online yang nggak bermutu.

Anak yang mengalami kondisi ini jadi kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya konten fiktif. Respons emosionalnya juga jadi kacau,Ma, bahkan bisa mengalami mati rasa terhadap situasi serius di dunia nyata. 

Nah, efek inilah yang paling mengerikan dan perlu kita waspadai, Ma. Meskipun membatasi screen time di era digital ini sangat berat, tapi kesehatan otak mereka jauh lebih penting. 

Jadi, mulai sekarang yuk kita lebih tegas bikin aturan main HP sekaligus ajak anak lebih banyak bergerak dan berinteraksi langsung. Karena masa depan anak ditentukan dari bagaimana kita mendampingi mereka hari ini, Ma.

Share Article
Curated For You

Anak Lebih Suka Scroll Video? Waspada Pembajakan Dopamin di Otaknya

03 Jul 2026, 15:09 WIBKid
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More
6 Nama Negara dari Huruf C

6 Nama Negara dari Huruf C

08 Jul 2026, 00:05 WIBBig Kid