Guru SD di Bali Gambar Doodle untuk Mengoreksi Lembar Jawaban Siswa

Pernah nggak, Mama lihat lembar jawaban anak yang dikoreksi guru bukan cuma dengan angka, tapi juga gambar lucu? Seorang guru di Bali bernama Putu Putri Adelia Savitri melakukan hal itu dan unggahannya pun viral.
Alih-alih memberi nilai biasa, ia menyelipkan doodle dengan ekspresi terheran-heran, jitak, bahkan dua karakter yang marah dan bingung. Semua itu ternyata punya pesan tersendiri untuk murid-muridnya, sesuai nilai yang diberikan.
Lewat goresan sederhana, guru ini mengajak anak-anak tidak takut dengan nilai jelek, justru lebih semangat memperbaiki diri dengan cara yang unik dan seru.
Yuk, simak ulasan selengkapnya dalam artikel yang sudah Popmama.com rangkum berikut ini.
1. Nilai kecil, anak diajak introspeksi

Guru yang diketahui mengajar bahasa Bali ini membagikan kumpulan lembaran jawaban muridnya dari berbagai jenjang, mulai dari kelas 3 sampai kelas 6.
Dari banyaknya yang ia koreksi, ang guru menemukan murid yang hanya mendapat nilai 18. Tanpa marah, ia justru menggambar doodle dengan ekspresi terheran-heran, lengkap dengan tulisan, "Ne nilai ape nomor absen?"
Pertanyaan itu terdengar lucu sekaligus menyentil ya, Ma.
Tak berbeda jauh, lembar lain dengan nilai 15 juga mendapat doodle serupa dengan karakter mengangkat kedua alisnya, tanda tanya besar di atas kepala.
Dengan cara ini, anak tidak merasa dihakimi, tapi diajak berpikir kenapa hasil belajarnya belum maksimal.
Buat Mama di rumah, ini bisa jadi inspirasi. Alih-alih marah, humor ringan justru membuat anak lebih jujur mengakui kesalahannya, dan belajar untuk memerbaikinya lagi.
2. Nilai cukup, anak tetap dapat apresiasi

Guru ini tidak hanya fokus pada nilai tinggi saja, Ma. Ketika ada muridnya yang mendapat 60, ia menggambar doodle karakter yang mengedipkan mata dan tangan menyentikkan jari.
Pesan yang dituliskannya, "Cuma kalah di nilai, yen soal seleg + anteng di sekolah, kamu menang!!" Artinya, meski nilai belum tinggi, usaha dan ketekunan di sekolah tetap patut dirayakan.
Lembar lain dengan nilai 62 bahkan dibuat dua karakter lucu, Ma. Di mana satu sang guru, satu murid. Guru menulis, "De asal silang (jawaban)" dan muridnya menjawab, "Ampun buk" dari balik bubble chat.
Dialog sederhana ini mengajarkan anak agar tidak asal menjawab soal dan lebih teliti di ulangan berikutnya, tapi tetap tanpa kesan menggurui.
Ini pelajaran berharga bahwa apresiasi tidak selalu untuk nilai sempurna. Ketika anak mendapat 60 atau 62, Mama bisa membuat doodle kecil di rumah sebagai bentuk “selamat kamu sudah berusaha”.
Dengan begitu, anak pun akan lebih percaya diri, Ma.
3. Nilai sempurna tapi lupa isi nama

Lucunya, ada murid yang berhasil mendapat nilai sempurna 100, tapi sang guru justru menggambar dua karakter kebingungan sekaligus marah!
Tulisan di bubble pesan berbunyi, "Maan 100, tapi singi misi identitiku?" (Dapat 100, tapi tidak ada identitasnya). Ya, murid itu lupa menulis nama sendiri, Ma.
Doodle ini menjadi pengingat yang tidak akan dilupakan. Anak jadi tahu bahwa kelalaian kecil seperti lupa nama bisa mengurangi makna dari pencapaian besar.
Namun, cara penyampaian sang guru ini tetap lucu tanpa menyakitkan. Anak pun diharapkan lebih teliti untuk memperbaiki kebiasaan kecil seperti menulis nama atau mengumpulkan tugas tepat waktu.
4. Viral di media sosial, netizen salut dengan sang guru

Kumpulan foto sang guru mengoreksi lembar jawaban dengan doodle pun viral di media sosial. Netizen memuji cara kreatifnya mengoreksi lembar jawaban.
Tak sedikit yang berkomentar mengingat kilas balik semasa sekolah, seperti komengtar, "wkwk andai dulu guru gue begini, salah jawab malah dikasih doodle lucu, auto semangat sekolah sih ini mah."
Yang membuatnya istimewa, guru ini tidak pernah mengejek atau merendahkan murid. Setiap doodle dibuat sesuai kepribadian anak, dan setiap pesan mengandung dorongan positif.
Bahkan untuk nilai kecil, ia tetap menyelipkan humor dan ajakan memperbaiki diri. Dengan cara menyenangkan seperti ini, murid-murid jadi merasa diperhatikan.
Cara inilah yang membuat anak-anak di kelasnya makin antusias belajar, terutama mata pelajaran Bahasa Bali yang kadang dianggap sulit.


















