Dr. Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp. Kardio (K) – Ketua Pengurus Pusat IDAI
Dr. Dr. Klara Yuliarti, Sp.A., Subsp. N.P.M (K) – Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI
Hati-hati dengan Label "Sehat" pada Makanan Anak, Ini Panduannya

Label makanan anak tidak selalu mencerminkan kandungan gizi sebenarnya, sehingga orang tua perlu lebih waspada sebelum memilih produk
Kesalahan membaca label dapat membuat anak kehilangan nutrisi penting, bahkan berisiko mengalami masalah kesehatan serius
Memahami label makanan menjadi langkah penting agar orang tua tidak keliru dalam memenuhi kebutuhan gizi anak
Pernahkah Mama berdiri lama di depan rak camilan sambil membaca kemasan dan label kandungan gizi, tapi akhirnya tetap bingung mana yang benar-benar aman untuk anak?
Tulisan “tanpa pengawet” atau “tinggi kalsium” sering terasa meyakinkan, padahal belum tentu sesuai dengan isi produknya. Kebingungan ini ternyata bukan tanpa alasan. Banyak label makanan memang dirancang agar terlihat “sehat” di permukaan, meski kenyataannya belum tentu demikian.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar seminar media pada Selasa (27/1/2026) dengan tema "Label Makanan yang Harus Diketahui Orangtua untuk Anak". Acara ini menghadirkan dua narasumber kompeten:
Berikut Popmama.com erangkum informasi tentang label “sehat” pada makanan anak serta panduan untuk Mama dalam memilih produk.
Table of Content
1. Produk berlabel susu ternyata bukan susu

Label “susu” pada kemasan tidak selalu menunjukkan bahwa produk tersebut merupakan susu murni, karena ada produk yang sebenarnya hanya minuman mengandung susu.
Susu adalah cairan putih yang berasal dari mamalia, dan produk yang dapat disebut sebagai “susu” harus memiliki bahan baku utama berupa susu.
Jika kandungan susunya sedikit, produk tersebut seharusnya diberi nama "minuman mengandung susu" untuk produk cair, atau "minuman serbuk mengandung susu" untuk produk bubuk.
Kesalahan dalam memilih produk dapat berdampak serius. Salah satu kasus di RSCM menunjukkan seorang pasien anak mengalami defisiensi vitamin C dan nyeri sendi parah akibat rutin mengonsumsi susu kental manis yang dikira sebagai susu biasa.
"Susu kental manis itu bukan susu. Itu adalah produk krimer yang tinggi gula," kata Dr. Klara.
Akibat kesalahan ini, anak tidak mendapat nutrisi yang diharapkan dan malah mengalami kekurangan vitamin penting. Dalam kasus yang lebih parah, anak bisa mengalami stunting dan gizi buruk karena makanan bergizi digantikan dengan produk yang minim nutrisi.
2. Formula gizi buruk dijual bebas di E-Commerce

IDAI menemukan produk yang mengklaim sebagai F-100 atau Formula 100 dijual bebas di platform e-commerce, padahal produk ini merupakan formula khusus untuk anak dengan gizi buruk yang seharusnya hanya diberikan atas resep dokter spesialis anak.
F-100 merupakan formula yang direkomendasikan WHO dan termasuk dalam kategori PKMK (Pangan Keperluan Medis Khusus) yang penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi medis pasien.
Namun, setelah dilakukan pengecekan nomor registrasi BPOM, produk yang mengklaim sebagai F-100 tersebut ternyata hanya terdaftar sebagai minuman serbuk mengandung susu, bukan sebagai PKMK.
Selain itu, informasi nilai gizi (ING) yang tercantum juga tidak lengkap, padahal produk PKMK wajib mencantumkan seluruh vitamin dan mineral secara detail.
Produk PKMK juga tidak boleh diperjualbelikan secara bebas, baik di toko fisik maupun daring, karena penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis anak.
3. Cara cek MPASI asli dan palsu

Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah produk penting untuk tumbuh kembang anak usia 6 bulan ke atas. Namun tidak semua produk yang mengklaim sebagai MPASI memenuhi standar yang ditetapkan BPOM.
Dr. Klara menjelaskan bahwa MPASI yang terdaftar resmi di BPOM memiliki ciri khusus yang mudah dikenali, yaitu kelengkapan informasi nilai gizi (ING) pada label, sementara label yang hanya berisi keterangan singkat bukan merupakan MPASI sesuai persyaratan BPOM.
MPASI yang benar harus mencantumkan semua vitamin dan mineral satu per satu, bukan hanya sebagian. Daftar lengkapnya meliputi Vitamin A, D, E, K, B1, B2, B3, B9, B12, Biotin, Vitamin C, Karnitin, Kolin, Inositol, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Zat Besi, Zinc, dan nutrisi penting lainnya.
Selain itu, label MPASI harus mencantumkan informasi dalam dua satuan, misalnya per 100 gram (atau 100 mili untuk produk cair) dan per 100 kalori. Tujuannya agar dokter spesialis anak bisa menghitung dengan tepat berapa nutrisi yang akan diterima anak berdasarkan jumlah kalori yang dikonsumsi.
4. Panduan keamanan, hal yang wajib dicek pada label makanan anak

Untuk membantu orang tua menjadi konsumen yang lebih cermat, IDAI membagikan panduan mengenai sejumlah hal penting yang wajib diperhatikan pada label makanan anak.
Tanggal kedaluwarsa
Ada perbedaan antara expired date dan best before.
Expired date artinya setelah lewat tanggal tersebut, produk sudah tidak boleh dikonsumsi karena bisa berbahaya. Produk yang sudah kadaluwarsa berisiko mengandung cemaran mikroorganisme atau bakteri berbahaya.
Sementara best before berarti produk baik digunakan sebelum tanggal tertera, tapi aturannya lebih longgar. Biasanya digunakan untuk produk yang tidak cepat rusak.
Daftar komposisi bahan
Urutan komposisi pada label sangat penting karena menunjukkan jumlah. Bahan yang ditulis paling awal artinya paling banyak jumlahnya, sedangkan yang paling akhir adalah yang paling sedikit.
Contohnya jika tertulis "susu sapi segar 85,92%, susu skim bubuk, sukrosa, kakao bubuk 0,75%", artinya mayoritas produk adalah susu sapi segar, dan kandungan kakao hanya sedikit.
Mama juga harus hati-hati dengan nama-nama gula yang disamarkan. Gula tidak hanya disebut "gula" atau "sukrosa", tapi juga bisa berupa maltodextrin, fruktosa, glukosa, sirup jagung, madu, dan lain-lain. Semakin banyak jenis gula yang tercantum, semakin tinggi kandungan gula totalnya.
ING
ING atau Nutrition Facts memberikan informasi detail tentang kandungan nutrisi produk. Untuk produk umum, ING berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2150 kalori per hari.
Mama bisa menghitung sendiri apakah produk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Misalnya jika tertulis "Kalsium 25%", artinya satu porsi produk menyediakan 25% dari kebutuhan kalsium harian.
Untuk produk khusus anak 0-3 tahun seperti susu formula atau MPASI, ING harus jauh lebih detail dengan mencantumkan semua vitamin dan mineral.
Klaim produk
Hati-hati dengan klaim seperti "tanpa gula tambahan", "organik", "diperkaya vitamin", atau "alami". Klaim ini sering digunakan sebagai strategi marketing tapi tidak selalu berarti produk lebih sehat.
Mama juga perlu tahu perbedaan antara "sumber kalsium" dan "tinggi kalsium". Produk yang mengklaim "sumber" berarti mengandung minimal 15% dari AKG, sedangkan "tinggi" harus mengandung minimal 30% atau dua kali lipat dari sumber. Jika ada produk yang mengklaim demikian, itu melanggar aturan BPOM.
Kategori produk
Anak usia 0-3 tahun dianggap sebagai populasi khusus yang dilindungi, sehingga syarat untuk produk mereka jauh lebih ketat.
Pastikan kategori produk sesuai dengan yang tertera di sistem BPOM. Jangan sampai produk yang sebenarnya kategori "minuman mengandung susu" dikira sebagai "susu formula" atau "MPASI".
Nama produk, gambar kemasan, dan merek juga tidak boleh menyesatkan. BPOM sangat ketat mengawasi hal ini, terutama untuk produk anak.
5. Pesan IDAI untuk orangtua

Sebagai langkah awal, Dr. Piprim menekankan bahwa makanan segar yang diolah sendiri (real food) tetap yang terbaik untuk anak. Makanan seperti nasi, sayur, buah, daging, ikan, telur, dan tahu tempe yang dimasak di rumah jauh lebih baik dibandingkan produk kemasan.
Makanan segar tidak mengandung bahan tambahan pangan, pewarna, atau pengawet yang berpotensi berbahaya. Kandungan nutrisinya juga lebih lengkap dan alami.
Namun dalam praktik sehari-hari, pola makan anak sering kali terkendala oleh kebiasaan jajan. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah anak kenyang karena snack kemasan sehingga menolak makanan bergizi.
Banyak snack kemasan yang rendah protein tapi tinggi gula dan garam. Anak yang sering jajan akan merasa kenyang, tapi sebenarnya nutrisinya tidak terpenuhi.
Ketika pulang ke rumah dan disediakan nasi dengan lauk bergizi, anak sudah tidak mau makan karena perutnya sudah terisi snack yang minim nutrisi.
Edukasi tentang label makanan dan pemilihan jajanan sehat perlu diperkuat di sekolah dengan membekali guru PAUD dan TK pengetahuan tentang komposisi makanan dan jajanan sehat.
Di sisi lain, pengawasan produk makanan membutuhkan peran bersama. BPOM memiliki keterbatasan dalam mengecek semua produk secaraberkala karena jumlahnya sangat banyak. Karena itu, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.
Jika menemukan produk yang tidak sesuai standar, labelnya menyesatkan, atau mencurigakan, Mama bisa melaporkannya melalui website atau aplikasi BPOM.
Pesan terakhir dari IDAI adalah agar orang tua membiasakan diri memahami dan membaca label makanan. Sudahkah Mama benar-benar membaca dan memahami label makanan sebelum memberikannya pada anak?


















