Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Kebiasaan Pagi Orangtua yang Bikin Anak Sulit Fokus di Sekolah

7 Kebiasaan Pagi Orangtua yang Bikin Anak Sulit Fokus di Sekolah
Pexels/rdnestockproject
Intinya Sih
  • Kebiasaan pagi orangtua seperti membentak, bertengkar, atau terlalu sibuk dengan gadget dapat meningkatkan stres anak dan menurunkan fokus belajar di sekolah.
  • Melewatkan sarapan serta kurangnya waktu bagi anak untuk benar-benar bangun membuat energi dan konsentrasi mereka menurun sepanjang hari.
  • Suasana pagi yang tenang, penuh dukungan emosional, dan interaksi hangat membantu anak lebih percaya diri, stabil secara emosi, serta siap menghadapi aktivitas belajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pagi hari ternyata punya pengaruh besar terhadap kondisi emosi dan kemampuan belajar anak sepanjang hari, Ma. Bukan soal membuat anak “jadi kurang pintar” secara permanen, tetapi kebiasaan kecil di pagi hari bisa memengaruhi fokus, perhatian, memori, hingga mood anak saat belajar dan beraktivitas.

Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa suasana rumah yang penuh stres, konflik, atau terburu-buru dapat membuat performa kognitif anak menurun sementara selama hari itu. Sebaliknya, pagi yang tenang dan suportif membantu anak lebih siap menghadapi aktivitasnya.

Berikut Popmama.com rangkum 7 kebiasaan pagi orangtua yang diam-diam bisa memengaruhi fokus dan performa belajar anak.

1. Membentak anak karena bergerak terlalu lambat

anak laki-laki menyilangkan tangannya dengan ekspresi kesal
Pexels/monsteraproduction

Pagi hari memang sering terasa buru-buru, apalagi kalau anak sulit bangun atau lama bersiap. Namun, kebiasaan membentak ternyata bisa membuat anak lebih stres sejak pagi.

Saat anak merasa tertekan, tubuhnya akan memproduksi hormon stres yang dapat mengganggu fokus, daya ingat, dan kemampuan mengatur emosi. Akibatnya, anak jadi lebih mudah tantrum, sulit konsentrasi, atau tidak semangat belajar di sekolah.

Daripada langsung marah, Mama bisa mencoba memberi arahan dengan nada lebih tenang atau membuat rutinitas pagi yang lebih terstruktur agar anak tidak terburu-buru.

2. Membiarkan anak berangkat tanpa sarapan

papa dan kedua anaknya sedang bercngkrama
Pexels/paveldanilyuk

Sarapan bukan sekadar mengisi perut, Ma. Dilansir dari jurnal Advances in Nutrition menunjukkan bahwa sarapan membantu meningkatkan perhatian, memori, dan fungsi kognitif anak sepanjang hari.

Anak yang melewatkan sarapan biasanya lebih cepat lemas, sulit fokus, dan gampang mengantuk saat belajar. Terutama pada anak usia sekolah yang membutuhkan energi untuk berpikir dan bergerak aktif.

Tidak perlu menu rumit, yang penting ada kombinasi karbohidrat, protein, dan cairan yang cukup sebelum anak memulai aktivitasnya.

3. Orangtua bertengkar di depan anak sebelum sekolah

seorang anak laki-laki terlihat pusing
Pexels/cottonbrostudio

Anak ternyata sangat sensitif terhadap suasana rumah, bahkan ketika mereka terlihat diam saja. Pertengkaran orangtua di pagi hari bisa membuat anak merasa cemas dan tidak aman.

Dilansir dari Interdiciplinary Journal of Applied Family Science, kondisi emosional seperti ini dapat mengganggu perhatian dan kemampuan anak menyerap informasi selama belajar. Beberapa anak bahkan membawa rasa cemas itu seharian tanpa bisa mengungkapkannya.

Karena itu, sebisa mungkin hindari konflik besar di depan anak, terutama sebelum mereka memulai hari.

4. Pagi hari terlalu sibuk dengan gadget

papa dan anak laki-lakinya sedang berbincang
Pexels/timurweber

Kadang tanpa sadar, orangtua sibuk mengecek ponsel sambil menemani anak sarapan atau bersiap sekolah. Padahal, interaksi kecil di pagi hari sangat penting untuk membangun koneksi emosional anak.

Dilansir dari alodokter.com, ketika anak merasa diabaikan, mereka bisa menjadi lebih rewel, sulit diatur, atau justru menarik diri.

Cukup dengan kontak mata, mendengarkan cerita singkat anak, atau memberi pelukan sebelum berangkat sekolah, anak bisa merasa lebih tenang dan percaya diri menjalani harinya.

5. Terlalu banyak mengkritik sejak pagi

Anak sedang dimarahi oleh orangtua
Pexels/MonsteraProduction

Komentar seperti “Kok lama banget sih?”, “Jangan ceroboh terus!”, atau “Kamu bikin Mama capek” mungkin terdengar sepele. Namun jika terlalu sering dilakukan, anak bisa merasa dirinya selalu salah.

Pagi hari seharusnya menjadi momen membangun semangat anak, bukan justru menurunkan rasa percaya dirinya.

Anak yang merasa didukung biasanya lebih berani mencoba, lebih fokus belajar, dan lebih mudah mengatur emosinya sepanjang hari.

6. Tidak memberi waktu anak untuk benar-benar bangun

Anak sedang mengusap air mata dengan tangan
Pexels/Vikaglitter

Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar “siap” setelah bangun tidur. Jika langsung diburu-buru sejak membuka mata, tubuh dan otaknya bisa terasa kaget dan belum siap menerima banyak instruksi.

Coba bangunkan anak sedikit lebih awal agar ia punya waktu untuk stretching ringan, minum air, atau mengobrol santai sebelum memulai aktivitas.

Rutinitas kecil seperti ini dapat membantu anak lebih tenang dan fokus sepanjang hari.

7. Pagi tanpa koneksi emosional dengan anak

seorang anak perempuan terlihat kesal kepada sang mama
Pexels/RDNESTOCKPROJECT

Kadang pagi terasa begitu sibuk sampai orangtua lupa menyapa anak dengan hangat. Padahal, hal sederhana seperti memeluk anak, menanyakan perasaannya, atau mengucapkan “semangat ya hari ini” bisa memberi dampak besar.

Anak yang merasa diperhatikan cenderung lebih stabil emosinya, lebih percaya diri, dan lebih siap belajar.

Bukan berarti orangtua harus selalu sempurna, Ma. Namun suasana pagi yang lebih tenang, hangat, dan suportif bisa membantu anak memulai hari dengan kondisi emosional dan fokus yang lebih baik.

Share Article
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More