Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Kesalahan Orangtua dalam Mendidik Anak Laki-Laki
pexels/RDNEstockproject
  • Tujuh kesalahan umum orangtua dalam mendidik anak laki-laki, mulai dari penerapan standar gender kaku hingga kurangnya apresiasi terhadap usaha dan emosi anak.

  • pentingnya mengajarkan anak laki-laki mengenali serta mengekspresikan emosi dengan sehat, bukan menekan perasaan demi memenuhi stereotip bahwa laki-laki harus selalu kuat.

  • Orangtua diimbau memberi tanggung jawab sesuai usia, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah, serta menanamkan sikap menghormati perempuan agar tumbuh menjadi pribadi empatik dan seimbang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membesarkan anak laki-laki tentu memiliki tantangan tersendiri. Namun, tanpa disadari, ada beberapa pola asuh yang masih sering dilakukan orangtua karena dianggap “normal” atau sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Padahal, pola asuh tersebut bisa memengaruhi perkembangan emosional, sosial, hingga cara anak memandang dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.

Berikut Popmama.com beberapa kesalahan yang perlu dihindari saat mendidik anak laki-laki.

1. Terlalu Kaku dengan Standar Gender

pexels/RDNEstockproject

Masih banyak anak laki-laki yang dibatasi karena dianggap harus sesuai dengan stereotip tertentu.

Misalnya, anak tidak boleh bermain permainan tertentu, tidak boleh menyukai warna tertentu, atau harus selalu terlihat kuat dan berani.

Padahal setiap anak memiliki minat, bakat, dan kepribadian yang berbeda. Terlalu membatasi mereka dengan standar gender yang kaku bisa menghambat proses eksplorasi dan perkembangan diri anak.

2. Mewajari Kenakalan karena “Namanya Juga Cowok”

Pexels/vikaglitter

Kalimat seperti:

  • “Namanya juga cowok.”

  • “Boys will be boys.”

  • “Anak laki memang aktif.”

sering digunakan untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya perlu dikoreksi.

Aktif dan energik memang hal yang wajar. Namun, perilaku seperti memukul, merundung teman, merusak barang, atau tidak menghormati orang lain tetap perlu diarahkan sejak dini.

Mewajari semua kenakalan hanya karena jenis kelaminnya dapat membuat anak kesulitan memahami batasan perilaku yang sehat.

3. Jarang Memberikan Apresiasi

Pexels/timurweber

Sebagian orangtua lebih sering menuntut anak laki-laki untuk kuat dan mandiri dibandingkan memberikan pujian atau penghargaan atas usahanya.

Padahal anak laki-laki juga membutuhkan validasi dan apresiasi dari orangtuanya.

Ucapan sederhana seperti “Ayah bangga sama kamu” atau “Kamu sudah berusaha dengan baik” dapat membantu membangun rasa percaya diri dan harga diri yang sehat.

4. Mengabaikan Emosi Anak

Unsplash/yang mao

Masih banyak anak laki-laki yang tumbuh dengan mendengar kalimat:

  • “Anak laki kok cengeng.”

  • “Jangan nangis, kamu kan laki-laki.”

  • “Cowok harus kuat.”

Akibatnya, anak belajar untuk menekan emosi daripada memahami dan mengelolanya.

Padahal menangis, sedih, kecewa, atau takut adalah emosi yang normal dirasakan semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Anak perlu diajarkan cara mengenali dan mengekspresikan emosinya dengan sehat.

5. Memberikan Tanggung Jawab yang Tidak Sesuai Usia

Pexels/KATRINBOLOVTSOVA

Mengajarkan tanggung jawab sejak kecil memang penting.

Namun, terkadang ada orangtua yang memberikan beban atau ekspektasi yang terlalu besar kepada anak laki-laki karena dianggap sebagai “calon kepala keluarga” atau “harus jadi laki-laki yang kuat.”

Padahal kemampuan anak berkembang sesuai usianya. Tanggung jawab perlu diberikan secara bertahap dan realistis agar menjadi sarana belajar, bukan sumber tekanan.

6. Tidak Membiasakan Anak Membantu Pekerjaan Rumah

Pexels/GustavoFring

Masih ada anggapan bahwa pekerjaan rumah adalah tugas perempuan, sehingga anak laki-laki tidak perlu dilibatkan.

Padahal keterampilan hidup seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring, menyapu, memasak sederhana, atau membereskan mainan merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki semua anak.

Melibatkan anak laki-laki dalam pekerjaan rumah juga membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian.

7. Tidak Mengajarkan Cara Menghormati dan Memperlakukan Perempuan

Pexels/Normamortenson

Pendidikan tentang menghormati orang lain sebaiknya dimulai sejak dini, termasuk dalam hubungan dengan perempuan.

Anak laki-laki perlu belajar tentang:

  • menghargai batasan orang lain,

  • berbicara dengan sopan,

  • menghormati persetujuan (consent),

  • tidak meremehkan atau merendahkan perempuan,

  • serta memperlakukan semua orang dengan setara.

Pelajaran sederhana ini dapat menjadi bekal penting bagi anak dalam membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Anak Laki-Laki Juga Butuh Ruang untuk Bertumbuh Secara Utuh

Anak laki-laki tidak hanya perlu diajarkan untuk kuat, tetapi juga untuk berempati, bertanggung jawab, mampu mengelola emosi, dan menghormati orang lain. Ketika orangtua memberikan ruang bagi semua aspek perkembangan tersebut, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara emosional maupun sosial.

Editorial Team

Related Article