“Buku saku ini disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami agar dapat digunakan oleh berbagai kalangan, terutama orang tua, guru, dan masyarakat umum,” jelas Prof. Tjhin Wiguna.
7 Fakta Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja untuk Orangtua

- Google dan YouTube meluncurkan Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja hasil kolaborasi dengan PDSKJI, RSCM, UI, serta dukungan Komdigi untuk mendampingi remaja menghadapi tantangan digital.
- Panduan disusun dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami orangtua dan guru, menekankan pentingnya komunikasi terbuka serta pendekatan suportif dalam membangun kebiasaan digital yang sehat.
- Pemerintah melalui Komdigi menegaskan tujuan utama program ini adalah melindungi remaja di ruang digital, bukan membatasi kreativitas mereka dalam beraktivitas dan belajar secara aman.
Di tengah semakin tingginya aktivitas remaja di dunia digital, Google dan YouTube resmi meluncurkan Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) pada Senin (8/6/2026). Panduan ini hadir sebagai upaya membantu orangtua, guru, dan komunitas sekolah dalam mendampingi remaja menghadapi berbagai tantangan di era digital, mulai dari kesehatan mental, keamanan berinternet, hingga kebiasaan penggunaan gawai yang lebih sehat.
Peluncuran panduan ini merupakan hasil kolaborasi Google dan YouTube bersama sejumlah pakar kesehatan jiwa anak dan remaja dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta Universitas Indonesia. Inisiatif ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi generasi muda Indonesia.
Melalui panduan ini, orangtua dan pendidik diharapkan dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi remaja saat menggunakan teknologi sekaligus mengetahui cara mendampingi mereka dengan pendekatan yang sehat dan suportif.
1. Google dan YouTube meluncurkan panduan khusus kesehatan mental remaja

Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja merupakan bagian dari program AKSI Digital yang sebelumnya telah diluncurkan pada Januari 2026.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Google dan YouTube bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Universitas Indonesia, serta mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Tujuannya adalah membantu keluarga dan sekolah memahami cara mendampingi remaja menghadapi tantangan dunia digital yang terus berkembang.
2. Disusun dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami orangtua dan guru

Salah satu keunggulan panduan ini adalah penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), Pakar Psikiatri Anak dan Remaja sekaligus tim penulis utama buku tersebut menjelaskan bahwa panduan ini memang dirancang agar bisa digunakan oleh berbagai kalangan.
Menurutnya, buku tersebut membahas perkembangan remaja di era digital, tantangan psikologis yang muncul, hingga strategi pendampingan yang bisa diterapkan di rumah maupun di sekolah.
3. Menekankan pentingnya komunikasi terbuka dengan remaja

Tidak hanya membahas risiko dunia digital, panduan ini juga menyoroti pentingnya hubungan yang sehat antara orangtua dan anak.
Prof. Tjhin menjelaskan bahwa komunikasi yang terbuka, pendekatan yang suportif, serta keteladanan dari orang dewasa menjadi fondasi penting untuk membantu remaja membangun kebiasaan digital yang sehat.
Dengan kata lain, pengawasan saja tidak cukup. Remaja juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi, bertanya, dan merasa didengarkan saat menghadapi berbagai pengalaman di internet.
4. Sekitar 2.500 guru BK akan mendapatkan pelatihan khusus

Peluncuran buku ini tidak berhenti pada penyediaan materi saja.
Melalui kerja sama dengan BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta, program ini juga akan melatih sekitar 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK) agar mampu menjadi garda terdepan dalam mendampingi siswa di sekolah.
Hingga saat ini, sekitar 1.000 guru telah mengikuti pelatihan tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat membantu sekolah menangani berbagai isu yang berkaitan dengan kesehatan mental dan keselamatan digital remaja.
5. YouTube menghadirkan fitur yang membantu remaja mengatur waktu layar

Sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat, YouTube juga terus mengembangkan berbagai fitur keamanan untuk remaja.
Salah satunya adalah fitur pengatur durasi menonton Shorts dan pengingat waktu tidur atau Bedtime Reminder yang dapat disesuaikan.
Fitur-fitur tersebut dirancang untuk membantu keluarga membangun kebiasaan penggunaan gawai yang lebih seimbang, sekaligus mendorong remaja agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar.
6. Data menunjukkan YouTube kini banyak dimanfaatkan sebagai sarana belajar

Selain menjadi platform hiburan, YouTube ternyata juga telah berkembang menjadi salah satu sumber belajar yang banyak digunakan di Indonesia.
Berdasarkan studi Ipsos yang dirilis pada Agustus 2025:
- 89 persen orangtua merasa anak mereka memperoleh manfaat dari YouTube untuk belajar.
- 92 persen orangtua menilai YouTube membuat pendidikan lebih mudah diakses.
- 82 persen guru mengatakan YouTube membantu siswa memahami materi pelajaran yang kompleks.
- 96 persen guru di Indonesia telah menggunakan YouTube dalam metode pembelajaran atau tugas sekolah.
Data ini menunjukkan bahwa platform digital dapat memberikan manfaat besar jika digunakan secara bijak dan dengan pendampingan yang tepat.
7. Pemerintah menegaskan tujuan utamanya adalah melindungi, bukan melarang

Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, menegaskan bahwa berbagai regulasi dan program perlindungan anak di ruang digital tidak bertujuan membatasi kreativitas generasi muda.
Menurutnya, yang ingin dilakukan pemerintah adalah mengurangi risiko yang dapat membahayakan anak-anak saat beraktivitas di internet.
“Dunia digital hari ini adalah rumah baru bagi anak-anak kita, di mana kita wajib menjaga pintu dan jendela agar mereka tetap aman di dalam ruang siber,” ujar Meutya Hafid.
Ia juga menambahkan bahwa tujuan utama PP TUNAS dan berbagai program pendampingan digital adalah membantu orangtua dan guru lebih siap menghadapi tantangan dunia digital yang semakin kompleks.
Ma, kehadiran teknologi memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak dan remaja saat ini. Karena itu, pendampingan yang tepat menjadi kunci agar mereka bisa memanfaatkan dunia digital untuk belajar, berkembang, dan bereksplorasi tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun keselamatan mereka.


















