Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Gagal Gentle Parenting, Ini Penjelasan Anak Susah Dibilangin!

Bukan Gagal Gentle Parenting, Ini Penjelasan Anak Susah Dibilangin!
Pexels/Keira Burton
Intinya Sih
  • Perilaku anak yang tampak membangkang sering kali merupakan respons sistem saraf yang kewalahan, bukan tanda ketidakpatuhan atau karakter keras kepala.
  • Gentle parenting menekankan rasa aman, batasan penuh kasih, dan dukungan emosional agar anak tidak merasa terancam saat menerima arahan.
  • Regulasi emosi anak dimulai dari ketenangan orangtua melalui proses co-regulation, membantu anak belajar menenangkan diri secara bertahap.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orangtua merasa frustasi ketika anak tidak merespons nasihat dengan cara yang tenang. Bahkan, muncul anggapan bahwa gentle parenting hanya cocok untuk anak yang “mudah diatur”. Padahal, menurut penjelasan psikolog klinis dan keluarga Audrey T. Susanto, M.Psi., M.Sc., melalui unggahan Instagramnya, perilaku anak yang terlihat membangkang sering kali bukan soal ketidakpatuhan, tetapi sinyal bahwa sistem saraf mereka sedang kewalahan.

Dalam pendekatan neuropsikologi, respons anak sangat dipengaruhi oleh rasa aman yang mereka rasakan. Ketika rasa aman terganggu, anak tidak bisa sepenuhnya mengakses logika dan kemampuan mendengar arahan. Berikut penjelasan lengkap mengenai bagaimana memahami perilaku anak dari sudut pandang gentle parenting dan sistem saraf.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Anak “susah diatur” bukan selalu karena bandel

ilustrasi gentle parenting
Pexels/Gustavo Fring

Banyak orangtua menganggap anak yang tidak nurut sebagai anak yang keras kepala atau sengaja melawan. Namun, menurut psikolog, respons seperti itu sering muncul ketika anak sedang merasa kewalahan secara emosional.

Dalam kondisi tersebut, anak sebenarnya tidak sedang “menantang”, melainkan tubuhnya sedang bereaksi terhadap stres. Jadi, perilaku yang terlihat membangkang bisa jadi merupakan cara anak mengekspresikan ketidaknyamanan yang belum bisa mereka jelaskan dengan kata-kata.

2. Sistem saraf anak bisa masuk mode “alarm”

ilustrasi gentle parenting
Pexels/Yan Krukau

Sistem saraf anak dapat diibaratkan seperti alarm keamanan. Ketika anak merasa terancam, baik karena nada suara tinggi, tekanan, atau situasi yang tidak nyaman alarm ini bisa langsung aktif.

Saat alarm menyala, tubuh anak masuk ke mode siaga atau survival mode. Dalam kondisi ini, anak lebih fokus pada rasa aman dibandingkan memahami penjelasan orangtua, sehingga nasihat sering tidak masuk.

3. Logika anak “mati sementara” saat stres

ilustrasi anak stres
Pexels/Keira Burton

Ketika sistem alarm aktif, bagian otak yang berfungsi untuk berpikir logis tidak bekerja optimal. Inilah alasan mengapa anak yang sedang tantrum atau marah tidak bisa langsung diberi ceramah panjang.

Secara sederhana, otak anak sedang “sibuk bertahan hidup”, bukan belajar. Karena itu, pendekatan yang penuh ketenangan jauh lebih efektif dibandingkan bentakan atau hukuman saat momen tersebut terjadi.

4. Gentle parenting bukan berarti harus selalu lembut

ilustrasi gentle parenting
Pexels/August de Richelieu

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap gentle parenting berarti orangtua harus selalu berbicara pelan, sabar, dan tanpa batasan. Padahal, bukan itu intinya.

Menurut Audrey T. Susanto, gentle parenting justru berfokus pada tiga hal utama: menciptakan rasa aman, memberi batasan dengan kasih, dan membantu anak pulih dari kondisi stres emosional. Artinya, tetap ada aturan, tetapi disampaikan tanpa mengaktifkan “alarm ancaman” pada anak.

5. Regulasi emosi anak dimulai dari orangtua

ilustrasi gentle parenting
Pexels/Antoni Shkraba

Anak belum bisa mengatur emosinya sendiri sepenuhnya, sehingga mereka membutuhkan bantuan orang dewasa di sekitarnya. Inilah yang disebut co-regulation, yaitu proses menenangkan anak melalui kehadiran orangtua.

Cara sederhana seperti sentuhan, suara yang tenang, atau kehadiran fisik yang stabil dapat membantu sistem saraf anak kembali merasa aman. Dari situ, anak perlahan belajar bagaimana menenangkan dirinya sendiri di masa depan.

6. “Gagal gentle parenting” bukan berarti anaknya tidak cocok

ilustrasi gentle parenting
Pexels/Ketut Subiyanto

Banyak orangtua merasa metode ini tidak berhasil ketika anak masih sering tantrum atau sulit diatur. Namun, menurut psikolog, hal ini bukan tanda bahwa gentle parenting tidak cocok.

Sebaliknya, ini bisa berarti pendekatan yang digunakan belum menyentuh kebutuhan dasar anak, yaitu rasa aman. Perubahan pada anak biasanya terjadi bertahap, bukan instan, karena sistem saraf juga perlu waktu untuk belajar merasa aman kembali.

7. Regulasi emosi adalah proses dua arah

ilustrasi penerapan gentle parenting pada anak (pexels.com/August de Richelieu)
ilustrasi penerapan gentle parenting pada anak (pexels.com/August de Richelieu)

Regulasi emosi bukan hanya tugas anak, tetapi juga orangtua. Anak belajar dari cara orang dewasa merespons situasi sulit di sekitarnya.

Ketika orangtua mampu tetap tenang, hadir, dan konsisten, anak akan lebih mudah meniru pola tersebut. Pada akhirnya, kemampuan mengelola emosi bukan hanya terbentuk dari teknik, tetapi dari hubungan yang aman dan stabil antara anak dan orangtua.

Gentle parenting bukan tentang menjadi orangtua yang selalu lembut, tetapi tentang bagaimana menciptakan rasa aman agar anak bisa belajar mengelola emosinya dengan baik. Perilaku “susah diatur” sering kali bukan masalah karakter, melainkan respons dari sistem saraf yang sedang kewalahan.

Itulah tadi informasi soal bagaimana jika orangtua merasa gentle parenting gagal ke anak. Semoga membantu ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More