Benarkah Stres Orangtua Bisa Menular ke Anak? Ini Faktanya!

- dr. Herlin Ramadhanti menjelaskan bahwa kondisi emosional keluarga, termasuk stres orangtua, dapat memengaruhi kesehatan anak melalui interaksi dan suasana di rumah.
- Stres berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol yang bisa melemahkan sistem imun anak, membuatnya lebih rentan terhadap penyakit atau memperburuk kondisi yang sudah ada.
- Penelitian menunjukkan stres pengasuhan tinggi berhubungan dengan kekambuhan asma dan gangguan emosional anak, sehingga menjaga kesehatan mental orangtua penting bagi kesejahteraan keluarga.
Saat anak sering sakit, kebanyakan orangtua akan langsung mencari penyebabnya dari makanan, cuaca, virus, atau alergi. Padahal, dalam beberapa kasus, ada faktor lain yang juga perlu diperhatikan, yaitu kondisi emosional keluarga.
Hal ini diceritakan oleh dokter anak dr. Herlin Ramadhanti melalui akun Instagram @dr.herlin.ramadhanti. Ia membagikan kisah seorang anak berinisial R yang sebelumnya jarang sakit ketika tinggal di Bogor. Namun setelah keluarganya pindah rumah, anak tersebut hampir setiap bulan mengalami batuk, pilek, hingga sesak yang kemudian mengarah pada diagnosis asma.
Awalnya, keluarga mengira perubahan lingkungan menjadi penyebab utama. Namun setelah berkonsultasi lebih dalam, dr. Herlin menemukan bahwa keluarga tersebut juga sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari proses adaptasi di tempat baru, kondisi ekonomi, hingga stres yang dialami sang ibu setelah kepindahan.
Meski begitu, dr. Herlin tidak menyimpulkan bahwa stres menjadi penyebab utama penyakit anak. Menurutnya, kesehatan anak dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan, sehingga penanganannya pun perlu melihat kondisi keluarga secara menyeluruh.
Lantas, benarkah stres orangtua memang bisa memengaruhi kesehatan anak? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.
1. Anak bisa merasakan stres yang dialami orangtuanya

Anak, terutama balita dan usia prasekolah, sangat peka terhadap perubahan emosi orangtua. Mereka mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi, tetapi mampu menangkap ekspresi wajah, nada bicara, hingga suasana emosional di rumah.
Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional contagion atau penularan emosi. Anak dapat ikut merasakan kecemasan, kesedihan, maupun ketegangan yang dialami orangtuanya, meskipun tidak diberi tahu secara langsung.
Stres orangtua dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis anak melalui interaksi sehari-hari, pola pengasuhan, serta lingkungan emosional di rumah. Karena itu, kesehatan mental orangtua menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak.
2. Stres berkepanjangan dapat memengaruhi sistem imun anak

Ketika seseorang mengalami stres terus-menerus, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan sistem imun dan meningkatkan respons peradangan di dalam tubuh.
Menurut tinjauan dalam jurnal Nature Reviews Immunology, hubungan antara sistem saraf, hormon stres, dan sistem imun sangat erat. Stres kronis diketahui dapat mengubah cara tubuh merespons infeksi maupun proses inflamasi.
Pada anak, kondisi tersebut tidak selalu menyebabkan penyakit secara langsung. Namun, stres yang berlangsung lama dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan atau memperburuk penyakit yang sudah dimiliki sebelumnya.
3. Penelitian menemukan kaitan antara stres orangtua dan asma pada anak

Asma merupakan penyakit yang dipengaruhi banyak faktor, seperti genetik, alergi, infeksi saluran napas, kualitas udara, hingga paparan asap rokok. Namun, penelitian juga menemukan bahwa faktor psikososial dalam keluarga ikut berperan terhadap perjalanan penyakit ini.
Beberapa studi prospektif menunjukkan bahwa tingkat stres pengasuhan yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko kekambuhan asma serta kontrol penyakit yang lebih buruk pada anak.
Hal ini bukan berarti stres menjadi penyebab utama asma. Namun, stres dapat memengaruhi sistem imun dan meningkatkan proses inflamasi sehingga gejala asma lebih mudah muncul pada anak yang memang memiliki kerentanan.
4. Bukan hanya kesehatan fisik, perkembangan emosional anak juga bisa terdampak

Anak yang tumbuh di lingkungan dengan tingkat stres tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami kecemasan, gangguan tidur, sulit mengendalikan emosi, hingga masalah perilaku.
Menurut American Psychological Association (APA), anak belajar mengatur emosinya dari orang-orang terdekat. Ketika orangtua mampu menghadapi tekanan dengan tenang, anak pun cenderung mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.
Sebaliknya, jika ketegangan di rumah berlangsung terus-menerus tanpa penyelesaian, anak dapat mengalami stres kronis yang berdampak pada kesejahteraan psikologis maupun kesehatan fisiknya.
5. Menjaga kesehatan mental orangtua juga merupakan bagian dari merawat anak

Di akhir kisah yang dibagikannya, dr. Herlin menuliskan bahwa saat menangani pasien anak, terkadang yang juga perlu didampingi adalah sang ibu.
Menurutnya, ibu yang merasa lebih tenang dan memperoleh dukungan akan lebih kuat menjalani proses merawat anak yang sedang sakit. Karena itu, selain memberikan terapi medis, keluarga R juga didampingi untuk memperbaiki pola makan, pola hidup, mengelola stres, serta menjalani suplementasi sesuai kebutuhan.
Pesan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kesehatan keluarga bersifat saling memengaruhi. Ketika orangtua memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, mereka lebih mampu memberikan pengasuhan yang hangat, responsif, dan konsisten, yang pada akhirnya mendukung kesehatan anak secara menyeluruh.
Itulah tadi informasi mengenai benarkah stres orangtua bisa menular ke anak dan faktanya. Semoga membantu ya!


















