Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kisah Haru Orangtua Relakan Anaknya Masuk Sekolah Rakyat, Apa Bedanya dengan Sekolah Biasa?

Kisah Haru Orangtua Relakan Anaknya Masuk Sekolah Rakyat, Apa Bedanya dengan Sekolah Biasa?
Banyuwangikab.go.id
Intinya Sih
  • Para orangtua di Semarang melepas anak-anak mereka masuk Sekolah Rakyat Rowosari dengan haru, berharap pendidikan gratis ini bisa mengubah nasib keluarga dari keterbatasan ekonomi.
  • Siswa baru menghadapi tantangan emosional tinggal di asrama, namun tetap bersemangat menempuh pendidikan demi masa depan yang lebih baik dan kesempatan kuliah gratis.
  • Sekolah Rakyat menawarkan sistem asrama penuh, pendidikan gratis bagi keluarga miskin, pengawasan ketat anti-bullying, serta kurikulum nasional dengan pendekatan karakter dan teknologi berbasis AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap orangtua pasti pernah merasakan perasaan campur aduk ketika akan melepas anaknya pergi jauh. Baik ketika anak berlibur, atau saat akan mengenyam pendidikan.

Begitulah yang dirasakan para orangtua siswa Sekolah Rakyat Rowosari Semarang saat mengantarkan putra-putri mereka mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), pada Selasa (14/7/2026).

Di balik semangat ratusan siswa baru yang memulai babak baru pendidikan mereka, tersimpan cerita getir dari orangtua yang harus merelakan anaknya tinggal di asrama.

Ada yang menangis, ada yang pasrah, namun semuanya memiliki satu harapan besar agar pendidikan yang didapat anak-anak mereka bisa mengubah nasib keluarga.

Sekolah Rakyat sendiri hadir sebagai tempat yang memberikan harapan bagi keluarga yang selama ini kesulitan biaya sekolah. Lantas, apa yang membedakan dengan sekolah pada umumnya?

Berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

1. Keterbatasan ekonomi jadi alasan utama

sekolah rakyat
IDN Times/Fariz Fardianto

Mengutip dari wawancara yang dilakukan IDN Times, Kaminem, seorang pekerja rumah tangga (PRT) dengan penghasilan sekitar Rp500 ribu per bulan, rela mengantarkan putri kesayangannya, Ela Nur Setyaningrum (13 tahun), untuk memulai pendidikan SMP di Sekolah Rakyat Rowosari.

Bersama suaminya yang bekerja sebagai tukang bangunan dengan penghasilan tidak tetap, Kaminem mengaku pilu dengan harus mengikhlaskan putrinya tinggal di asrama.

"Berharapnya dia jadi anak yang pinter, cerdas, sholehah begitu," ujar Kaminem seperti di kutip dari IDN Times.

Meski perasaannya campur aduk dan sempat merasa kasihan karena harus melepaskan putrinya tinggal di asrama, Kaminem menyadari bahwa Sekolah Rakyat adalah jalan terbaik untuk masa depan Ela.

"Pertama-tama ya kayak gitu. Tapi lama-lama (terbiasa) sudah saya ikhlas dia sekolah di sini," ungkapnya.

2. Perasaan galau dan rindu menghantui para siswa

sekolah rakyat semarang
IDN Times/Fariz Fardianto

Bukan hanya Mama dan Papa mereka yang merasakan perasaan campur aduk, para siswa dari berbagai jenjang di Sekolah Rakyat pun mengaku bahwa memasuki lingkungan baru tentu bukan hal mudah.

Dalam wawancara serupa, Jasmin Nadira, siswi kelas 1 SMP, juga menjelaskan bahwa dirinya mengaku tidak bisa tidur semalaman sebelum hari pertama MPLS.

"Semalaman saya ndak bisa tidur. Di kamar cuma rebahan. Rasanya kangen sama teman-teman satu geng di rumah," ujar perempuan berusia 13 tahun tersebut.

Jasmin sempat bertanya-tanya kapan bisa pulang, terutama saat perayaan hari besar keagamaan.

Sama seperti Jasmin, ada pula Nurin Safita, siswi SMA yang juga berasal dari keluarga kurang mampu yang tinggal bersama Papanya sebagai seorang kuli bangunan dan Mama penjahit, akhirnya memilih pasrah demi masa depan.

"Habis lulus dari sini penginnya kuliah. Kan katanya bisa dapat kuliah gratis," ucap Nurin penuh harap.

3. Harapan baru pendidikan gratis dengan pengawasan ketat

sekolah rakyat
Kpai.go.id

Diketahui dari masa MPLS tahun ajaran baru ini, Sekolah Rakyat Rowosari menerima 270 siswa, terdiri dari 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Total ada 61 tenaga pendamping dengan rasio satu wali asuh untuk 10 anak.

Kepala Sekolah Rakyat Rowosari, Ridho Irwanto, menekankan pentingnya pencegahan bullying melalui pengawasan menyeluruh bagi semua jenjang pendidikan.

Dengan sistem asrama dan larangan membawa HP dan uang jajan, sekolah ini dirancang untuk membentuk karakter serta melindungi siswa dari pengaruh negatif.

Adanya Sekolah Rakyat Rowosari ini disebut para orangtua sebagai harapan baru pendidikan gratis untuk mereka yang membutuhkan.

Harapannya, dengan adanya pembelajaran dan pengawasan ketat, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tak hanya pintar secara pemahaman, tapi juga akhlak dan etika.

4. Perbedaan Sekolah Rakyat dan sekolah pada umumnya

sekolah rakyat
Dinsos.acehbaratdayakab.go.id

Perbedaan paling mendasar antara Sekolah Rakyat dan sekolah pada umumnya adalah pada sistem asrama atau boarding school, di mana siswa tinggal dan belajar di lingkungan sekolah dengan seluruh kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, seragam, dan buku pelajaran ditanggung sepenuhnya.

Berbeda dengan sekolah umum yang tidak menyediakan fasilitas asrama, siswa Sekolah Rakyat harus berkomitmen tinggal di asrama selama mengenyam pendidikan.

Dari sisi sasaran, Sekolah Rakyat memang dirancang pemerintah untuk memberi harapan baru bagi pendidikan gratis khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Adanya sekolah ini tentu memiliki tujuannya agar pemerintah bisa memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Meskipun masih menggunakan Kurikulum Nasional seperti sekolah biasa, Sekolah Rakyat menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dengan sistem multi-entry dan multi-exit, yang memungkinkan siswa masuk kapan saja dan menyelesaikan pendidikan sesuai capaian belajar masing-masing.

Pembelajaran juga dilengkapi dengan penguatan karakter, kepemimpinan, nasionalisme, spiritualitas, dan keterampilan hidup. Bahkan, sekolah ini menggunakan teknologi berbasis AI untuk memetakan bakat dan potensi siswa secara mendalam.

Namun tenang saja, Ma, meski gratis dan dinilai begitu spesifik, ijazah Sekolah Rakyat tetap setara dengan sekolah umum lainnya, kok!

Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tapi harapan baru bagi keluarga yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.

Di balik tangis perpisahan dan rasa rindu, para orangtua berharap pendidikan bisa mengubah nasib anak-anak mereka. Semangat selalu untuk semua anak-anak Indonesia dalam meraih mimpi!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More