Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Manfaat Les untuk Masa Depan Anak, Bukan Sekadar Hobi

7 Manfaat Les untuk Masa Depan Anak, Bukan Sekadar Hobi
Pexels/Thái Trường Giang
Intinya Sih
  • Les seperti musik, seni, dan olahraga melatih fungsi eksekutif otak anak, termasuk fokus, pengendalian diri, serta kemampuan berpikir kritis yang penting untuk masa depan akademik dan profesional.
  • Kegiatan ekstrakurikuler membantu anak mengembangkan disiplin, regulasi emosi, kontrol impuls, serta pola pikir bertumbuh yang membuat mereka lebih tangguh menghadapi tantangan hidup.
  • Melalui latihan terstruktur sejak dini, anak membangun cadangan kognitif dan soft skill seperti kerja sama, komunikasi, serta kreativitas yang menjadi bekal berharga di berbagai aspek kehidupan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mama mungkin pernah bertanya-tanya, apakah les piano, balet, coding, basket, atau matematika benar-benar memberikan manfaat bagi masa depan anak?

Melalui unggahan di Instagram pribadinya @dr_dono, dr. Dono Baswardono menjelaskan bahwa berbagai aktivitas seperti musik, seni, olahraga, hingga matematika memiliki kesamaan.

Semuanya melatih kemampuan berpikir, fokus, serta fungsi eksekutif otak yang sangat dibutuhkan dalam dunia akademik maupun profesional.

Misalnya saat bermain piano, anak harus membaca not balok, mengatur tempo, menggerakkan kedua tangan secara berbeda, sekaligus mendengarkan hasil permainan mereka.

Hal serupa juga terjadi saat balet maupun basket, di mana anak perlu memahami posisi tubuh, memperhatikan lingkungan sekitar, dan mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Proses inilah yang melatih kemampuan mengenali pola (pattern recognition), penalaran spasial, konsentrasi, hingga memori kerja.

Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal penting untuk berbagai profesi di masa depan, terutama pada bidang yang membutuhkan pemecahan masalah, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Lalu apa saja manfaat les untuk masa depan anak? Berikut Popmama.com telah merangkumnya. Yuk, simak!

1. Disiplin dan ketekunan membuat anak belajar bahwa keberhasilan membutuhkan proses

Les membantu anak untuk displin dan belajar proses untuk berhasil
Pexels/Gustavo Fring

Setiap keterampilan baru tidak bisa dikuasai hanya dalam satu atau dua kali latihan. Anak perlu mengulang gerakan, memperbaiki kesalahan, mendengarkan arahan guru, hingga mencoba lagi berkali-kali sampai akhirnya berhasil.

Proses tersebut mengajarkan bahwa hasil yang baik selalu membutuhkan usaha yang konsisten.

Menurut dr. Dono Baswardono, ketika anak berusaha menguasai lagu piano yang sulit, menghafal koreografi balet, atau mempelajari teknik bermain basket yang lebih kompleks, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

Anak juga akan terbiasa menerima koreksi dan masukan sebagai bagian dari proses belajar.

Pengalaman ini membantu mereka memahami bahwa kesalahan bukanlah tanda kegagalan, melainkan kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik.

Kebiasaan seperti ini akan membentuk pola pikir bertumbuh atau growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat terus meningkat melalui latihan dan kerja keras.

Pola pikir tersebut sangat penting ketika anak menghadapi tantangan akademik di sekolah, misalnya saat mempelajari mata pelajaran yang dianggap sulit atau mengerjakan tugas yang membutuhkan waktu lebih lama.

Disiplin dan ketekunan yang telah dilatih sejak kecil juga akan membantu anak lebih siap menghadapi tekanan di dunia kerja maupun saat membangun usaha sendiri.

2. Regulasi emosi membantu anak lebih mampu mengelola perasaan dan membangun empati

Anak lebih mampu meregulasi emosi karena les seperti ballet, basket, piano dan lainnya
Pexels/Mikhail Nilov

Regulasi emosi adalah kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola perasaan sendiri dengan cara yang sehat, sekaligus mampu menghargai emosi orang lain.

Keterampilan ini termasuk salah satu fungsi eksekutif yang sangat penting karena berpengaruh terhadap hubungan sosial, kesehatan mental, hingga keberhasilan anak saat bekerja sama dengan orang lain.

Saat mengikuti les piano, misalnya, anak mungkin merasa gugup ketika harus tampil di depan banyak orang.

Di sisi lain, anak yang mengikuti pertandingan basket bisa merasakan kecewa ketika timnya kalah, sedangkan anak yang belajar balet perlu mengatasi rasa frustrasi ketika belum berhasil menguasai suatu gerakan.

Berbagai pengalaman tersebut secara perlahan mengajarkan bahwa setiap emosi dapat dikelola tanpa harus dilampiaskan secara berlebihan.

Anak belajar tetap tenang, kembali mencoba, serta menghargai proses yang sedang dijalani. Menurut dr. Dono Baswardono, kegiatan seni maupun olahraga juga menjadi sarana yang sehat bagi anak untuk melepaskan stres dan mengurangi kecemasan.

Saat bermain musik atau berolahraga, anak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaannya secara positif.

Mereka juga belajar berinteraksi dengan teman, guru, maupun pelatih sehingga kemampuan berempati dan memahami sudut pandang orang lain ikut berkembang.

3. Kontrol impuls membantu anak lebih mampu mengendalikan diri dan bekerja sama

Kegiatan seperti musik, seni, maupun olahraga dapat memudahkan kerja sama dalam tim
Pexels/Muziyan Du

Kontrol impuls merupakan kemampuan seseorang untuk menahan keinginan bertindak secara spontan, berpikir sebelum mengambil keputusan, serta mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan yang dilakukan.

Menurut dr. Dono Baswardono, kegiatan seperti musik, seni, maupun olahraga dapat membantu meningkatkan kemampuan anak dalam mengontrol impuls sekaligus mengembangkan pengendalian diri.

Saat belajar piano, misalnya, anak tidak bisa asal menekan tuts sesuai keinginannya.

Mereka harus mengikuti tempo, membaca notasi dengan cermat, dan menunggu waktu yang tepat untuk memainkan setiap nada.

Hal serupa juga terjadi pada anak yang mengikuti balet atau basket. Mereka harus memperhatikan instruksi pelatih, menjaga ritme gerakan, serta menyesuaikan tindakan dengan kondisi di sekitarnya.

Semua proses tersebut mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus langsung diwujudkan saat itu juga.

Semakin sering anak berlatih, semakin baik pula kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi maupun perilaku.

Keterampilan ini akan sangat berguna ketika anak menghadapi situasi yang menantang, misalnya saat harus menunggu giliran berbicara di kelas, menyelesaikan tugas meskipun sedang bosan, atau tetap bersikap sopan ketika berbeda pendapat dengan teman.

Anak juga akan lebih mudah bekerja sama dalam tim, menyelesaikan konflik secara dewasa, serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

4. Kemampuan memecahkan masalah terus berkembang melalui berbagai tantangan

Kemampuan problem solving anak berkembang
Pexels/Pavel Danilyuk

Setiap kegiatan ekstrakurikuler sebenarnya penuh dengan tantangan yang mendorong anak untuk berpikir dan mencari solusi.

Tanpa disadari, inilah yang membuat kemampuan problem solving atau pemecahan masalah terus berkembang sejak usia dini. Saat memainkan piano, misalnya, anak tidak hanya menghafal not balok, tetapi juga belajar menginterpretasikan musik agar terdengar lebih hidup.

Mereka perlu memikirkan dinamika, tempo, hingga ekspresi yang sesuai dengan lagu yang dimainkan.

Begitu pula pada balet, anak harus menyesuaikan posisi tubuh agar gerakannya tetap seimbang dan selaras dengan irama musik.

Sementara dalam permainan basket, anak dituntut mengambil keputusan dalam hitungan detik, apakah harus mengoper bola, menggiring, atau melakukan tembakan ke ring berdasarkan situasi permainan yang terus berubah.

Berbagai pengalaman tersebut melatih otak untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan.

Anak terbiasa melihat tantangan sebagai sesuatu yang bisa dipecahkan, bukan sebagai jalan buntu.

Pola pikir seperti ini sangat bermanfaat ketika mereka menghadapi soal matematika yang sulit, mengerjakan tugas sekolah, hingga menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kelak saat memasuki dunia profesional, kemampuan berpikir kritis, menganalisis situasi, serta menemukan solusi kreatif akan menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan di hampir semua bidang pekerjaan.

5. Berkontribusi terhadap prestasi akademik dan kesuksesan jangka panjang

Les dapat berkontribusi terhadap prestasi dan kesuksesan anak jangka panjang
Pexels/MART PRODUCTION

Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa anak yang aktif mengikuti kegiatan seni maupun ekstrakurikuler dengan latihan yang terstruktur cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak mengikutinya.

Hal ini bukan berarti setiap anak yang belajar piano atau basket pasti menjadi juara kelas, melainkan karena aktivitas tersebut membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar yang mendukung proses belajar.

Saat berlatih piano, coding, balet, atau olahraga, anak terbiasa mengatur jadwal latihan, membagi waktu antara sekolah dan kegiatan lainnya, serta mempertahankan fokus dalam waktu yang cukup lama.

Mereka juga terus melatih memori kerja (working memory), yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu bersamaan.

Keterampilan ini sangat dibutuhkan ketika anak mempelajari pelajaran baru, memahami instruksi guru, maupun mengerjakan soal yang memerlukan beberapa tahapan penyelesaian.

Selain itu, anak juga belajar menetapkan target dan mengevaluasi kemajuannya secara bertahap.

Kebiasaan tersebut membuat mereka lebih terampil mengelola proses belajar, sehingga tidak mudah menyerah ketika menghadapi materi yang sulit.

6. Membantu membangun ketahanan otak yang manfaatnya bisa dirasakan hingga dewasa

Pengalaman belajar yang banyak dari kecil dapat membantu ketahanan otak
Pexels/Gustavo Fring

Manfaat belajar musik, seni, maupun aktivitas yang menantang kemampuan berpikir ternyata tidak berhenti ketika anak beranjak remaja.

Menurut dr. Dono Baswardono, pelatihan musik sejak usia dini dapat membantu membangun jaringan saraf yang lebih kuat di dalam otak.

Semakin sering otak digunakan untuk mempelajari keterampilan yang kompleks, semakin banyak pula koneksi antarsel saraf yang terbentuk. Koneksi inilah yang berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir, mengingat, serta memproses informasi.

Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai cognitive reserve atau cadangan kognitif.

Sederhananya, cadangan kognitif merupakan kemampuan otak untuk tetap bekerja secara optimal meskipun seseorang menghadapi proses penuaan atau berbagai tantangan yang memengaruhi fungsi kognitif.

Dengan kata lain, pengalaman belajar yang banyak sejak kecil dapat menjadi tabungan bagi kesehatan otak di kemudian hari.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa stimulasi yang konsisten sejak usia dini sangat penting untuk mendukung perkembangan otak secara optimal.

7. Soft skill yang diperoleh bisa menjadi bekal untuk semua aspek kehidupan

Karena les, anak jadi punya banyak soft skill
Pexels/Kampus Production

Manfaat terbesar justru terletak pada berbagai soft skill yang terbentuk selama proses belajar.

Keterampilan seperti disiplin, kemampuan bekerja sama, komunikasi, kepemimpinan, berpikir kritis, kreativitas, hingga kemampuan mengelola emosi merupakan bekal yang dapat diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan.

Selama mengikuti latihan, anak belajar menghargai proses, mendengarkan arahan, bekerja sama dengan teman, menyelesaikan konflik secara sehat, hingga bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Semua pengalaman tersebut akan membentuk karakter yang kuat dan membantu anak beradaptasi ketika menghadapi berbagai situasi baru.

Bahkan ketika kelak memilih profesi yang sama sekali tidak berkaitan dengan musik, olahraga, atau seni, berbagai kemampuan tersebut tetap akan menjadi modal yang sangat berharga.

dr. Dono menjelaskan bahwa manfaat aktivitas seni dan olahraga tidak terbatas pada bidang itu sendiri, melainkan turut menciptakan cadangan kognitif serta keterampilan hidup yang akan terus dibawa anak hingga dewasa.

Soft skill yang diperoleh selama mengikuti les dapat diterapkan saat berada di rumah, berinteraksi dengan teman di sekolah, melanjutkan pendidikan, membangun bisnis, maupun bekerja di berbagai bidang profesi.

Karena itu, jika Mama sedang mempertimbangkan kegiatan ekstrakurikuler untuk anak, cobalah memilih aktivitas yang sesuai dengan minatnya.

Itulah berbagai manfaat yang bisa didapat anak dari mengikuti les atau kegiatan ekstrakurikuler.

Semoga informasi ini bisa membantu Mama memilih aktivitas yang paling sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, ya!

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More