Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Stella Christie: Perbedaan Anak Lebih Banyak Main Daripada Les

Stella Christie: Perbedaan Anak Lebih Banyak Main Daripada Les
Instagram.com/prof.stellachristie
Intinya Sih
  • Stella Christie menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan bermain, karena otak anak yang lelah tidak dapat menyerap informasi secara optimal.

  • Penelitian menunjukkan anak dengan waktu bermain bebas memiliki kemampuan executive function lebih baik dibandingkan yang jadwalnya terlalu padat les.

  • Waktu bermain membantu mengasah memori, perencanaan, dan fokus anak, yang menjadi fondasi prestasi akademik serta kesuksesan di masa depan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melihat anak yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain sering kali memicu kegelisahan tersendiri ya, Ma.

Di satu sisi, ada perasaan bingung apakah sebaiknya waktu luang tersebut diisi dengan les tambahan saja agar nilainya di sekolah meningkat, namun di sisi lain Mama juga kasihan melihat mereka sudah lelah belajar seharian.

Kegelisahan ini pun dijawab oleh Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang melalui akun Instagram pribadinya @prof.stellachristie membahas pentingnya keseimbangan waktu anak.

Berikut Popmama.com rangkum penjelasan mengenai waktu main vs les tambahan menurut Stella Christie!

Table of Content

1. Memahami beban mental anak yang lelah seharian

1. Memahami beban mental anak yang lelah seharian

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Mama mungkin sering mendengar keluhan anak yang merasa sangat lelah setelah pulang sekolah, namun masih harus menghadapi tumpukan PR dan jadwal les yang padat. 

Banyak orangtua yang berpikir bahwa semakin banyak les, maka nilai anak akan otomatis naik, padahal kondisi otak yang kelelahan tidak akan bisa menyerap informasi secara optimal.

Stella Christie mengingatkan bahwa memaksakan anak untuk terus belajar tanpa henti justru bisa memberikan beban mental yang berat. 

Penting bagi Mama untuk mulai mendengarkan sinyal kelelahan dari anak agar proses belajarnya tidak berubah menjadi tekanan yang menyakitkan bagi mereka.

2. Hubungan antara waktu main dan executive function

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Berdasarkan penelitian dari jurnal Frontiers in Psychology berjudul “Less-structed time in children’s daily lives predicts self-directed executive functioningyang dilakukan oleh Barker dkk (2014)., terungkap fakta mengejutkan. 

Anak yang memiliki lebih banyak waktu luang untuk bermain justru memiliki kemampuan Executive Function (EF) yang lebih baik.

Penelitian ini membandingkan anak usia 6-7 tahun yang jadwalnya sangat terstruktur dengan anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan bebas. 

Hasilnya, anak-anak yang dibiarkan bermain secara mandiri memiliki skor EF yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang terlalu banyak mengikuti les.

Hal ini membuktikan bahwa waktu luang yang kurang terstruktur sebenarnya adalah ruang bagi otak anak untuk berkembang lebih maksimal.

3. Mengasah executive function anak

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Berdasarkan tes EF, anak yang memiliki waktu bermain lebih banyak menunjukkan hasil yang lebih unggul dibandingkan anak yang terlalu padat jadwal lesnya. 

Hal ini dikarenakan bermain bebas melatih tiga kemampuan kunci sekaligus:  

  • Kemampuan mengingat (memori) yang terasah karena otak bekerja aktif mengorganisir informasi dan menciptakan alur permainan secara mandiri, bukan sekadar menerima informasi searah. 

  • Kemampuan perencanaan (planning) terbentuk saat anak terbiasa menentukan tujuan dan cara mencapainya, seperti merancang bangunan balok atau strategi bermain peran, yang membuatnya lebih terorganisir di masa depan. 

  • Kemampuan fokus (attention) berkembang pesat melalui rasa penasaran alami saat menekuni sesuatu yang disukai tanpa paksaan jadwal kaku. 

Ketiga aspek EF ini merupakan fondasi kecerdasan yang jauh lebih berkualitas dan tahan lama untuk mendukung prestasi akademik serta kesuksesan anak di masa dewasa.

4. Korelasi antara EF dan prestasi masa depan

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Mama perlu tahu bahwa EF memiliki korelasi yang sangat tinggi dengan prestasi akademik dan kesuksesan karier di masa depan. 

Kemampuan mengingat, merencanakan, dan fokus adalah pondasi utama yang dicari dalam dunia profesional maupun akademis tingkat tinggi. 

EF ini berkorelasi tinggi dengan prestasi akademik dan juga kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus," papar Stella Christie.

Dengan memberikan waktu luang untuk bermain, Mama sebenarnya sedang membantu anak membangun modal utama untuk meraih kesuksesan yang lebih besar daripada sekadar mengejar nilai tinggi di rapor saat ini.

5. Tips bijak dalam memilih les yang tepat untuk anak

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Meski waktu bermain sangat penting, bukan berarti anak sama sekali tidak boleh mengikuti les. 

Stella Christie memberikan tiga tips bijak. 

  • Berikan les mata pelajaran hanya jika benar-benar dibutuhkan, misalnya saat nilai anak menurun. 

  • Batasi durasi les dengan target yang jelas, seperti berhenti les jika nilai sudah stabil di angka tertentu, agar anak tidak "les selamanya". 

  • Prioritaskan les non-akademik yang benar-benar disukai anak dan membuatnya merasa tertantang secara positif. 

Dengan begitu, kegiatan tambahan tersebut akan terasa sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak, bukan sekadar beban tambahan.

6. Pentingnya memberi ruang untuk rasa bosan pada anak

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Mama mungkin merasa bersalah jika melihat anak tidak melakukan apa-apa, padahal membiarkan anak merasa bosan memiliki manfaat besar. 

Saat tidak ada jadwal les yang mengatur aktivitasnya, otak anak dipaksa untuk kreatif mencari cara menghibur diri sendiri. Rasa bosan adalah pemicu imajinasi; di momen inilah anak belajar menciptakan permainan baru atau menemukan hobi yang benar-benar ia sukai tanpa arahan orang lain. 

Dengan memberikan waktu luang yang tidak terstruktur, Mama sebenarnya sedang melatih kemandirian mental Si Kecil agar tidak selalu bergantung pada instruksi orang dewasa untuk merasa produktif atau bahagia.

7. Membangun hubungan emosional melalui bermain bersama

Keluarga Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Instagram.com/prof.stellachristie

Waktu bebas tanpa les juga merupakan kesempatan untuk Mama untuk membangun koneksi emosional yang lebih dalam dengan anak. 

Alih-alih hanya bertemu saat anak sudah kelelahan mengerjakan PR, gunakan waktu bermain untuk berinteraksi secara santai dan tanpa tekanan nilai.

Bermain bersama tanpa aturan yang kaku membuat anak merasa didengar, dihargai, dan dicintai apa adanya, bukan karena pencapaian akademisnya semata. 

Keamanan emosional yang terbangun dari waktu bermain ini akan meningkatkan kesehatan mental anak, sehingga ketika saatnya ia harus belajar atau les, mentalnya sudah dalam kondisi segar dan lebih siap menerima informasi baru.

Menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan kebutuhan anak untuk bermain memang butuh seni tersendiri ya, Ma.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap kegiatan yang diikuti Si Kecil tetap memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh bahagia dan memiliki otak yang sehat.

Setelah mengetahui bahwa waktu bermain bebas sangat krusial bagi kecerdasan otak anak, adakah jadwal les anak yang ingin Mama evaluasi kembali agar ia punya lebih banyak waktu untuk bermain?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More