“Secara perkembangan di usia tersebut anak sudah sangat mampu mengenali siapa saja orang yang familiar dan siapa yang dirasa asing,” ungkapnya.
Alasan Anak Takut Orang Asing, Ini Fase yang Wajar Menurut Ahli

dr. Damar menjelaskan bahwa fase takut orang asing atau stranger anxiety adalah hal normal yang muncul sekitar usia 6 bulan dan akan mereda setelah si Kecil berusia 2–3 tahun.
Peningkatan aktivitas amygdala membuat si Kecil lebih waspada terhadap wajah asing, sehingga mereka cenderung mencari perlindungan pada Mama sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri alami.
Mama disarankan tidak memberi label negatif pada si Kecil yang takut orang asing, melainkan memberikan dukungan emosional agar rasa aman dan kepercayaan diri si Kecil tetap terjaga.
Mama pasti sering merasa bingung saat si Kecil tiba-tiba menangis histeris ketika bertemu kerabat yang jarang ia temui di rumah.
Padahal sebelumnya si Kecil terlihat sangat ceria. Perubahan sikap yang drastis ini sering kali membuat Mama bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan perkembangan sosialnya.
Penjelasan mendalam mengenai fenomena ini dibagikan oleh dr. Damar Prasetya, MSc, Sp.A melalui akun Instagram pribadinya, @damarprasetya, yang memberikan pencerahan untuk Mama.
Berikut Popmama.com rangkum 3 fakta penting mengenai fase takut orang asing pada si Kecil.
Table of Content
1. Fase stranger anxiety merupakan hal yang normal

Memasuki usia sekitar 6 bulan si Kecil sering kali mulai menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan saat berhadapan dengan orang yang tidak tinggal satu rumah dengan mereka atau yang jarang mereka temui secara intensif.
Fase ini dikenal secara medis dengan istilah stranger anxiety, perkembangan kognitif di mana si Kecil sudah mulai memiliki kemampuan memori yang tajam untuk membedakan wajah-wajah familiar dengan wajah orang asing.
Seiring bertambahnya usia fase ketakutan ini biasanya akan mencapai puncaknya pada rentang usia 9 hingga 18 bulan dan perlahan-lahan mulai mereda secara bertahap setelah si Kecil melewati usia 2 atau 3 tahun ketika kemampuan sosialnya semakin matang.
Oleh karena itu Mama tidak perlu merasa khawatir berlebihan karena reaksi menarik diri ini justru membuktikan bahwa fungsi pengamatan dan daya ingat si Kecil sedang bekerja dengan sangat baik dalam memetakan lingkungan sosial di sekitarnya setiap hari.
2. Peningkatan amygdala jadi alasan menarik diri

Selain faktor pengenalan wajah secara visual ternyata terdapat alasan biologis yang sangat mendasar mengapa si Kecil cenderung mencari perlindungan kepada Mama saat melihat sosok yang tidak dikenal di dekat mereka.
Pada usia ini si Kecil memang sudah mampu mengenali perbedaan wajah namun mereka belum memiliki kemampuan kognitif yang cukup untuk menentukan apakah orang asing tersebut merupakan figur yang aman untuk didekati atau justru figur yang harus diwaspadai secara serius.
Akibat keterbatasan pemahaman inilah si Kecil cenderung memilih jalur aman dengan menarik diri atau bersembunyi di balik Mama yang selama ini menjadi sosok paling dipercaya dalam hidupnya.
“Bahkan ada riset yang mengatakan amygdala, atau pusat emosi di otak anak, jadi lebih aktif saat melihat wajah orang asing,” jelasnya.
Aktifnya pusat emosi ini memicu alarm kewaspadaan alami dalam diri si Kecil sehingga muncul reaksi menangis atau menolak berinteraksi sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang sangat wajar bagi manusia yang sedang belajar beradaptasi dengan lingkungan luar.
3. Jangan langsung berikan label negatif

Satu hal yang sangat krusial untuk dipahami oleh Mama dan Papa adalah pentingnya menjaga sikap serta ucapan saat si Kecil menunjukkan gejala ketakutan terhadap orang asing agar tidak merusak kepercayaan diri mereka di masa depan.
Sangat tidak disarankan bagi Mama untuk terburu-buru memberikan label negatif seperti "penakut" atau "antisosial" kepada si Kecil hanya karena mereka tidak mau berinteraksi secara instan dengan orang-orang baru yang ditemui saat acara keluarga atau di tempat umum.
Perilaku menarik diri ini bukanlah sebuah kegagalan sosialisasi melainkan sebuah fase pembelajaran yang sangat wajar di mana si Kecil masih berusaha memahami secara perlahan mengenai lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan sangat hati-hati.
Memberikan tekanan atau paksaan kepada si Kecil untuk bersikap ramah saat mereka merasa terancam justru akan membuat si Kecil merasa bahwa perasaan tidak nyaman mereka tidak valid dan hal ini bisa menghambat perkembangan kemandirian mereka kelak.
Sebaiknya Mama memberikan dukungan emosional dengan cara menenangkan si Kecil dan menjelaskan kepada orang lain secara sopan bahwa si Kecil memang sedang berada dalam fase pengenalan lingkungan yang sangat normal bagi usianya.
Sudahkah Mama memberikan rasa aman yang cukup saat si Kecil merasa ragu dengan lingkungan barunya hari ini?


















