Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

5 Ciri-ciri Expressive Language Disorder pada Anak Usia Prasekolah

5 Ciri-ciri Expressive Language Disorder pada Anak Usia Prasekolah
Pexels/BarabaraOlsen
Intinya Sih
  • Expressive language disorder membuat anak sulit mengekspresikan pikiran meski memahami ucapan orang lain, dan tidak berkaitan dengan gangguan pendengaran atau kecerdasan.

  • Ciri utamanya meliputi keterlambatan bicara, kosakata terbatas, kalimat tidak lengkap, serta lebih sering menggunakan gestur untuk berkomunikasi.

  • Orangtua disarankan mengamati perkembangan bahasa anak, sering berinteraksi lewat percakapan dan buku, serta berkonsultasi dengan terapis wicara bila diperlukan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kemampuan berbahasa merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak usia prasekolah. Melalui bahasa, anak belajar menyampaikan keinginan, mengekspresikan emosi, serta membangun hubungan sosial. Namun, beberapa anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya meskipun mereka memahami apa yang orang lain katakan. Kondisi ini dikenal sebagai expressive language disorder.

Dilansir dari laman understood.org, language disorder adalah gangguan komunikasi yang membuat seseorang kesulitan menggunakan atau memahami bahasa lisan. Kondisi ini bukan berkaitan dengan gangguan pendengaran atau kecerdasan. Anak dengan language disorder memiliki tingkat kecerdasan yang sama, tetapi mengalami tantangan dalam keterampilan bahasa.

Secara umum, terdapat tiga jenis language disorder, yaitu:

  1. expressive language disorder (kesulitan mengekspresikan bahasa),
  2. receptive language disorder (kesulitan memahami bahasa),
  3. mixed receptive-expressive language disorder (kesulitan memahami sekaligus mengekspresikan bahasa).

Pada expressive language disorder, anak biasanya memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi kesulitan menyampaikan pikirannya sendiri.

Berikut 5 ciri-ciri expressive language disorder pada anak usia prasekolah yang sudah Popmama.com rangkum.

1. Mulai berbicara lebih lambat dibanding anak seusianya

 Dua anak perempuan berbincang di kasur
Pexels/MonikaBalciuniene

Salah satu tanda yang paling terlihat adalah anak mulai berbicara lebih lambat dari teman sebayanya. Misalnya, saat anak lain sudah bisa mengucapkan beberapa kata atau kalimat sederhana, anak masih menggunakan suara pendek atau hanya menunjuk sesuatu.

Kondisi ini bukan sekadar keterlambatan biasa, tetapi juga bisa menunjukkan kesulitan anak dalam menyusun kata untuk menyampaikan keinginannya. Anak mungkin memahami instruksi sederhana, tetapi kesulitan mengungkapkan kebutuhan secara verbal.

Jika terjadi terus-menerus, anak cenderung lebih sering menggunakan tangisan atau frustrasi untuk berkomunikasi. Hal ini karena mereka tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak mampu mengatakannya dengan jelas.

2. Sering menghilangkan kata dalam kalimat

Anak perempuan dengan rambut keriting sedang berbicara
Pexels/CharlesParker

Anak dengan expressive language disorder sering menghilangkan kata saat berbicara. Misalnya, anak mengatakan “mau susu” tanpa menyebut subjek, atau hanya mengatakan tanpa struktur kalimat yang lengkap.

Kalimat yang disampaikan biasanya terdengar tidak utuh atau sulit dipahami. Anak mungkin juga hanya menyebut kata-kata penting saja tanpa menghubungkannya menjadi kalimat yang jelas.

Hal ini terjadi karena anak mengalami kesulitan dalam menyusun kata menjadi struktur kalimat yang bermakna. Meskipun demikian, mereka tetap memahami konteks percakapan yang sedang berlangsung.

3. Memiliki kosakata yang lebih sedikit dari rata-rata

 Tiga anak anak sedang berinteraksi dengan seorang guru
Pexels/KseniaChernaya

Ciri lainnya adalah jumlah kosakata yang dimiliki anak lebih sedikit dibandingkan anak seusianya. Anak mungkin hanya menggunakan kata yang itu-itu saja dan jarang menambahkan kata baru dalam percakapan. Kondisi ini membuat anak kesulitan mengekspresikan ide yang lebih kompleks.

Mereka mungkin tahu apa yang diinginkan, tetapi tidak memiliki cukup kata untuk menjelaskannya.

Akibatnya, anak bisa terlihat lebih pendiam atau justru mudah frustrasi. Beberapa anak juga lebih sering mengulang kata yang sama karena keterbatasan kosakata yang dimiliki.

4. Lebih sering menggunakan gestur untuk berkomunikasi

Empat orang anak sedang duduk di kursi dan menunjukan gestur tangan
Pexels/Paveldanilyuk

Anak dengan expressive language disorder biasanya lebih mengandalkan gestur atau bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya. Misalnya menunjuk, menarik tangan orang tua, atau memberikan benda tanpa mengatakan apa pun.

Gestur ini digunakan sebagai cara alternatif agar pesan tetap tersampaikan. Anak mungkin menunjuk lemari untuk meminta makanan atau menarik tangan orang tua menuju mainan yang diinginkan.

Meskipun gestur merupakan bagian normal dari perkembangan, penggunaan gestur yang terlalu dominan dan minim kata-kata bisa menjadi tanda anak mengalami kesulitan bahasa ekspresif.

5. Kesulitan dengan keterampilan bahasa awal seperti rima

Tiga anak perempuan sedang duduk di kursi
Pexels/Paveldanilyuk

Anak prasekolah biasanya mulai mengenal keterampilan bahasa awal, seperti rima atau permainan bunyi kata. Namun, anak dengan expressive language disorder sering mengalami kesulitan dalam tahap ini.

Misalnya, anak kesulitan mengulang kata dengan bunyi yang mirip atau tidak tertarik bermain kata sederhana. Mereka juga mungkin kesulitan mengikuti lagu yang memiliki pola bunyi tertentu.

Kesulitan ini menunjukkan adanya tantangan dalam mengolah dan mengekspresikan bahasa. Padahal, keterampilan rima merupakan bagian penting dalam perkembangan bahasa anak usia dini.

Sebagai kesimpulan, expressive language disorder dapat terlihat sejak usia prasekolah melalui tanda-tanda seperti keterlambatan bicara, kosakata terbatas, hingga kesulitan menyusun kalimat. Jika Mama melihat beberapa ciri tersebut pada si Kecil, penting untuk tidak langsung panik tetapi mulai mengamati perkembangannya secara bertahap.

Mama bisa membantu dengan sering mengajak anak berbicara, membacakan buku, memberi waktu anak merespons, serta tidak terburu-buru menyelesaikan kalimatnya. Jika kekhawatiran masih muncul, Mama juga dapat berkonsultasi dengan dokter atau terapis wicara agar anak mendapatkan dukungan yang tepat sejak dini.

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More