Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Kalimat Penghambat Toilet Training, Ganti Dengan Ini, Ma!

7 Kalimat Penghambat Toilet Training, Ganti Dengan Ini, Ma!
Pexels/Samir
Intinya Sih
  • Terdapat tujuh contoh kalimat yang dapat menghambat proses toilet training si Kecil karena menimbulkan rasa malu, takut, atau tekanan mental.

  • Setiap contoh kalimat negatif disertai dampak psikologisnya terhadap si Kecil, seperti rasa rendah diri, stres, hingga gangguan buang air akibat ketegangan emosional.

  • Alih-alih mengingatkan dengan kalimat negatif, ubah menjadi kalimat positif yang lebih empatik dan mendukung agar si Kecil merasa aman, dihargai, serta termotivasi untuk belajar mandiri tanpa tekanan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melatih si Kecil untuk lepas dari popok memang butuh stok sabar yang melimpah. 

Terkadang, rasa lelah membuat Mama spontan mengeluarkan kalimat yang niatnya memotivasi, tapi justru bikin si Kecil trauma. 

Jika si Kecil merasa dihakimi, ia akan memandang proses ke toilet sebagai beban mental yang menakutkan, bukan sebuah kemandirian.

Berikut Popmama.com rangkum 7 jenis kalimat yang bisa menghambat proses toilet training si Kecil!

Table of Content

1. Mengomentari aroma dan kotoran dengan nada jijik

1. Mengomentari aroma dan kotoran dengan nada jijik

Seorang wanita duduk di samping anak kecil berambut pirang yang menutup mulutnya dengan tangan di atas tempat tidur berwarna terang.
Pexels/www.kaboompics.com
  • "Ih bau banget! Kamu BAB di celana ya?!"

  • "Duh, baunya sampai ke mana-mana nih!"

Kalimat ini secara tidak langsung memberi tahu si Kecil bahwa kotoran dari tubuhnya adalah sesuatu yang memalukan dan menjijikkan. 

Dampaknya, si Kecil bisa merasa rendah diri dan mulai menahan buang air besar karena takut dicela, yang justru memicu sembelit kronis dan rasa nyeri saat mengejan. 

Sebaiknya, Mama tetap tenang dan fokus pada kenyamanan tubuh Si Kecil agar ia tidak menganggap fungsi alaminya sebagai sebuah aib.

  • "Sepertinya kamu sudah BAB ya? Yuk, kita bersihkan supaya perutnya enak lagi."

  • "Wah, perut kamu nggak enak ya? Ayo bersihkan biar bisa main lagi"

2. Langsung melabeli usaha anak dengan sebutan negatif

Seorang wanita muda bersama anak laki-lakinya duduk di jalan setapak taman yang dikelilingi pepohonan hijau dan tanaman rimbun.
Pexels/Tuấn Kiệt Jr.
  • "Kamu jorok banget sih!"

  • "Duh, anak Mama kok pemalas banget buat ke toilet."

Memberi label "jorok" atau "malas" akan membuat si Kecil merasa tersudut dan dihakimi oleh orangtuanya sendiri.

Si Kecil jadi merasa tidak nyaman dengan tubuhnya dan menganggap dirinya gagal, sehingga motivasi untuk mencoba lagi pun hilang. 

Solusinya, berikan arahan yang lembut tanpa harus menyerang kepribadian si Kecil, agar ia tetap merasa didukung dalam proses belajar ini.

  • "Nggak apa-apa, lain kali kalau terasa mau BAK langsung bilang Mama ya."

  • "Yuk, pelan-pelan kita belajar dengerin kode dari perut."

3. Mempertanyakan kegagalan anak dengan nada menyalahkan

Seorang wanita berjongkok sambil menenangkan anak kecil yang menangis di ruang tamu dengan sofa berwarna terang dan karpet putih.
Pexels/Andrea Piacquadio
  • "Kenapa ngompol lagi sih?!"

  •  "Padahal tadi sudah diajari, kok masih lupa?"

Kalimat ini memberikan tekanan mental yang besar karena si Kecil merasa telah mengecewakan ekspektasi Mama. 

Rasa cemas yang muncul akibat disalahkan justru sering memicu kemunduran, di mana si Kecil malah jadi lebih sering ngompol karena merasa stres setiap kali harus ke kamar mandi. 

Sebaiknya, tunjukkan empati bahwa kecelakaan kecil adalah bagian dari proses belajar yang normal.

  •  "Yah, celananya basah ya? Yuk, ganti celana dulu biar nyaman."

  • "Kita coba lagi ya, nanti kalau terasa mau BAK kita langsung lari ke toilet."

4. Membandingkan kecepatan anak dengan orang lain

Dua anak berambut pirang berdiri di luar ruangan, satu anak perempuan mengenakan kardigan abu-abu dan anak laki-laki menatapnya.
Pexels/Sayantan Kudu
  • "Tuh lihat teman kamu, sudah nggak pakai popok!"

  • "Sepupu kamu saja sudah bisa, masa kamu belum?"

Membandingkan si Kecil hanya akan menumbuhkan rasa minder dan kebencian terhadap proses belajar itu sendiri. 

Si Kecil akan merasa bahwa kemampuannya tidak berharga jika tidak secepat orang lain, sehingga ia bisa mogok belajar karena merasa tidak akan pernah cukup baik di mata Mama. 

Fokuslah pada setiap kemajuan kecil yang dicapai si Kecil karena setiap mereka memiliki garis waktu perkembangan yang berbeda.

  • "Setiap anak punya waktunya masing-masing, kamu juga pasti bisa kok."

  • "Mama bangga kamu sudah mau mencoba hari ini, besok kita coba lagi ya."

5. Menggunakan ancaman atau hukuman agar anak patuh

Seorang wanita dan anak laki-laki bermain bersama dengan mainan dinosaurus di ruangan bercahaya alami dengan dinding ubin putih.
Pexels/Ron Lach
  • "Kalau masih ngompol, mainannya Mama simpan!"

  • "Awas ya kalau basah lagi, nggak Mama kasih jajan!"

Ancaman menciptakan suasana yang menakutkan dan membuat kamar mandi menjadi tempat yang penuh tekanan bagi si Kecil. 

Jika ia berhasil ke toilet karena takut dihukum, ia tidak benar-benar belajar memahami kebutuhan tubuhnya, melainkan hanya berusaha menghindari konflik. 

Sebaiknya, gunakan penguatan positif atau pujian yang tulus agar si Kecil merasa senang dan bangga saat berhasil melakukannya.

  • "Kalau kamu berhasil BAK di toilet, kita kasih stiker bintang yuk!"

  • "Mama senang sekali kalau kamu bisa bilang sebelum BAK, hebat!"

6. Menekan anak agar cepat menyelesaikan urusan di toilet

Seorang wanita berdiri di kamar mandi sambil menemani bayi yang duduk di wastafel dan bermain air di bawah keran.
Pexels/MART PRODUCTION
  • "Cepat buang airnya, Mama sudah telat nih!"

  • "Jangan lama-lama di dalam, ayo cepat!"

Memaksa si Kecil untuk buru-buru justru bisa membuat otot kandung kemihnya menjadi tegang, sehingga urine atau kotoran malah makin sulit keluar. 

Hal ini mengganggu sinkronisasi antara saraf otak dan otot perutnya, serta membuat si Kecil merasa kehadirannya menjadi beban. 

Solusinya, sediakan waktu yang cukup dan ciptakan suasana rileks agar proses pembuangan berjalan secara alami tanpa paksaan.

  • "Santai saja, Mama tungguin kok di sini sampai kamu selesai."

  • "Tarik napas yang dalam ya, biar BABnya keluar pelan-pelan."

7. Menjatuhkan harga diri dengan menyebutnya seperti bayi

Dua anak laki-laki bermain di kamar sambil memegang gulungan tisu, dengan seorang dewasa ikut berinteraksi di tepi tempat tidur.
Pexels/Elina Fairytale
  • "Sudah besar kok masih ngompol kayak bayi!"

  • "Malu ih, sudah sekolah tapi masih pakai popok."

Kalimat ini sangat melukai harga diri si Kecil dan membuatnya merasa kecil hati. 

Bukannya termotivasi untuk mandiri, mereka justru bisa kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa ia memang tidak mampu tumbuh besar. 

Sebaiknya, gunakan kata-kata yang memberdayakan dan apresiasi usahanya sebagai langkah menuju kedewasaan agar ia merasa bangga.

  • "Mama tahu kamu sedang belajar jadi anak hebat yang mandiri."

  • "Nggak apa-apa sekali-sekali gagal, itu namanya proses belajar jadi kakak."

Dari tujuh poin di atas, mana yang menurut Mama paling sulit untuk tidak diucapkan saat Mama sedang merasa sangat lelah menghadapi drama toilet training?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More