- Paparan makanan: Anak yang sejak dini diperkenalkan beragam rasa dan tekstur cenderung tidak canggung.
- Cara memberi makan: Sistem yang santai namun konsisten lebih ampuh daripada memaksa.
- Pengalaman makan: Hindari drama di meja makan, karena tekanan hanya akan membuat anak membenci waktu makan.
- Temperamen anak: Anak yang sensitif secara alami membutuhkan pendekatan lebih sabar.
Studi: Alasan Anak Pertama Lebih Picky Eater Dibanding Anak Kedua

Penelitian menunjukkan anak pertama lebih sering jadi picky eater karena orangtua cenderung lebih waspada dan menekan saat makan, berbeda dengan sikap santai pada anak kedua.
Data dari jurnal Nutrients menyebut anak perempuan sedikit lebih sering picky eater dibanding laki-laki, namun perbedaan ini dipengaruhi pola asuh dan ekspektasi orangtua, bukan faktor biologis semata.
Coach Natasya menekankan empat faktor utama yang memengaruhi kebiasaan makan anak: paparan makanan, cara memberi makan, pengalaman makan tanpa tekanan, serta temperamen unik tiap anak.
Kebanyakan Mama pasti pernah merasa heran, kenapa ya anak pertama sangat susah makan, tapi adiknya justru lebih lahap dan mau makan apa saja.
Ternyata, fenomena "satu rumah, satu dapur, satu masakan, tapi selera anak beda banget" ini sangat wajar dan dialami banyak orangtua lain, Ma.
Dalam unggahan Reels terbarunya, Coach Natasya Limano, seorang nutrition educator, menyoroti pengalaman viral seorang Mama yang anak pertamanya picky eater.
Di video tersebut, Coach Natasya yang juga merupakan seorang mama menegaskan bahwa kekhawatiran orangtua soal gizi anak pertama sering kali justru menjadi pemicu utama perbedaan ini.
Lantas, apa saja faktor yang membuat anak pertama lebih sering memilih-milih makanan dibanding adik-adiknya? Melansir dari unggahan Natasya Limano, berikut Popmama.com rangkumkan ulasannya.
1. Penjelasan menurut penelitian mengapa anak pertama cenderung picky eater

Menurut penelitian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (2018) yang dirujuk Coach Natasya, anak pertama cenderung lebih picky eater karena orangtua biasanya lebih waswas dan ekstra hati-hati.
Dimulai dari memberikan MPASI atau makanan pendamping, Mama biasanya cenderung lebih memaksakan aturan ketat dan menekan anak untuk "menghabiskan" makanan yang dianggap paling bernutrisi.
Sebaliknya, untuk anak kedua atau seterusnya, sikap orangtua umumnya lebih rileks dan santai. Tekanan saat waktu makan berkurang, sehingga anak tidak mengasosiasikan makanan dengan rasa terpaksa.
Nah, inilah yang kemudian membuat adik-adik akan lebih terbuka terhadap berbagai rasa dan tekstur baru, sehingga biasanya anak kedua jadi lebih santai dan mau makan apa saja.
Pada praktiknya, bukan berarti Mama gagal dalam memberikan makan pada masing-masing anak, ya, melainkan naluri perlindungan pada anak pertama memang sangat kuat.
2. Anak perempuan disebut lebih picky eater dibanding anak laki-laki

Lebih lanjut, Coach Natasya juga membahas temuan dari jurnal Nutrients (2025) bahwa secara statistik anak perempuan ditemukan lebih sering menjadi picky eater dibanding anak laki-laki.
Namun, ia menambahkan catatan penting bahwa perbedaan ini sebenarnya tidak terlalu besar dan tidak bersifat mutlak. Menurut pandangannya, faktor biologis saja tidak cukup untuk menjelaskan perbedaan tersebut, Ma.
Lebih dari itu, pola asuh dan ekspektasi orangtua yang kerap membedakan perlakuan pada anak perempuan, misalnya lebih protektif terhadap porsi dan jenis makanannya, justru lebih berpengaruh.
Dengan kata lain, meskipun dalam penelitian menunjukkan kecenderungan berbeda, setiap anak tetap unik dengan caranya.
Jangan langsung menggeneralisir bahwa anak perempuan pasti susah makan, karena masih banyak faktor lain yang jauh lebih dominan, Ma.
3. Faktor yang lebih berpengaruh daripada urutan lahir
Alih-alih fokus pada urutan lahir atau jenis kelamin, Coach Natasya mengajak para Mama untuk melihat empat faktor utama, yaitu sebagai berikut:
Dengan memahami keempat faktor ini, Mama bisa menyesuaikan strategi untuk si sulung tanpa perlu cemas membandingkannya dengan sang adik.
Sebab setiap anak punya fase eksplorasi dan fase pilih-pilih yang bergantian kok, Ma, jadi hal ini wajar dialami. Daripada stres membandingkan, fokuslah pada paparan makanan yang menyenangkan, hindari tekanan saat makan, dan hargai temperamen unik setiap anak.
Dengan pendekatan yang lebih santai namun konsisten, kebiasaan makan si picky eater pun perlahan bisa bertumbuh, Ma. Ingat, setiap anak punya caranya sendiri untuk berkenalan dengan makanan.


















