Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Pentingnya Kurva Pertumbuhan Anak, Ini 12 Hal yang Perlu Mama Pahami

Pentingnya Kurva Pertumbuhan Anak, Ini 12 Hal yang Perlu Mama Pahami
pexels/Саша Лазарев
Intinya Sih
  • IDAI menekankan pentingnya pemahaman kurva pertumbuhan agar orang tua dapat memantau tumbuh kembang anak secara akurat tanpa salah tafsir terhadap kondisi seperti stunting.
  • Prof. Jose menjelaskan bahwa pertumbuhan anak dipengaruhi banyak faktor, dan pengukuran tinggi badan harus dilakukan dengan teknik benar serta dipantau berkala untuk melihat tren pertumbuhan.
  • Kurva WHO dinilai kurang relevan bagi anak Indonesia, sehingga IDAI mendorong penggunaan kurva lokal yang lebih sesuai dengan faktor genetik dan sosial ekonomi untuk diagnosis yang tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Masih banyak orang tua di Indonesia yang mengandalkan kurva pertumbuhan global untuk memantau tumbuh kembang anak. Padahal, penggunaan kurva yang tidak sesuai bisa membuat orang tua salah memahami kondisi si Kecil, bahkan sampai menimbulkan kekhawatiran berlebih seperti mengira anak mengalami stunting.

Dalam Media Briefing yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan tema “Mengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anak” pada Selasa, 14 April 2026, Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengatakan bahwa selama ini Indonesia masih menggunakan kurva WHO yang bersifat universal, sehingga belum tentu relevan dengan kondisi anak-anak di Indonesia.

Berikut Popmama.com mengutip pemaparan Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, dari Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, pemahaman kurva pertumbuhan menjadi kunci penting agar orang tua bisa memantau tumbuh kembang anak secara tepat.

1. Pertumbuhan anak dipengaruhi banyak faktor

seorang anak perempuan yang berpose sembari memegang segelas susu
pexels/Alex Green

Prof. Jose mengatakan bahwa pertumbuhan anak tidak hanya dipengaruhi nutrisi, tetapi juga lingkungan, hormon, emosi, dan genetik. Semua faktor ini saling berinteraksi dalam menentukan tinggi badan anak.

2. Kurva pertumbuhan adalah alat penting untuk menilai tumbuh kembang

sekelompok anak sedang berdiri berjajar dan berpose di depan kamera
pexels/Pavel Danilyuk

Ia menjelaskan bahwa kurva pertumbuhan menjadi alat diagnostik yang akurat untuk melihat apakah anak tumbuh sesuai usianya. Tanpa kurva, orang tua sulit menilai kondisi anak secara objektif.

3. Pengukuran tinggi badan harus dilakukan dengan benar

Seorang anak laki-laki yang sedang diukur tinggi badannya oleh sang papa
pexels/Kampus Production

Prof. Jose menekankan bahwa posisi anak harus tegak, kaki rapat, dan menghadap ke depan saat diukur. Kesalahan teknik bisa membuat hasil tinggi badan tidak akurat.

4. Hasil pengukuran harus diplot ke kurva

seorang anak yang sedang diukur tinggi badannya di tembok
pexels/Ian Taylor

Ia juga menjelaskan bahwa data tinggi badan tidak bisa langsung dinilai tanpa diplot ke kurva pertumbuhan. Dari plotting ini, barulah bisa diketahui apakah anak normal atau tidak.

5. Penilaian tidak cukup dari satu kali pengukuran

papa yang menandai tinggi bahana anaknya di tembok
pexels/Kampus Production

Menurutnya, pengukuran harus dilakukan minimal dua kali dengan jarak 3–6 bulan. Tujuannya untuk melihat tren pertumbuhan, bukan hanya kondisi sesaat.

6. Anak di bawah 3 tahun masih bisa naik turun kurva

empat orang anak sedang melakukan peregangan di dalam kelas
pexels/Yan Krukau

Prof. Jose menjelaskan bahwa pada usia 0–3 tahun, anak masih dalam fase kanalisasi atau mencari jalur pertumbuhan. Karena itu, perubahan posisi di kurva masih dianggap normal.

7. Setelah usia 3 tahun, pertumbuhan harus stabil

Empat orang anak sedang melakukan peregangan di dalam kelas
pexels/Yan Krukau

Ia menegaskan bahwa setelah usia 3 tahun, anak harus mengikuti jalur kurva yang sama. Jika terjadi penurunan atau tidak sejajar, bisa menjadi tanda gangguan pertumbuhan.

8. Kecepatan pertumbuhan normal sekitar 5–7 cm per tahun

seorang anak perempuan sedang diukur tinggi badannya
pinterest.com/Nationwidechildren’shospital

Prof. Jose mengatakan bahwa pada fase anak, pertumbuhan ideal adalah 5–7 cm per tahun. Jika kurang dari itu, orang tua perlu waspada dan mencari penyebabnya.

9. Kurva WHO tidak selalu cocok untuk anak Indonesia

Ilustrasi dua orang anak yang sedang membandingkan tinggi badan
Pinterest.com/Vecteezy

Ia menjelaskan bahwa standar WHO dibuat dari kondisi ideal yang tidak selalu sesuai dengan realita di Indonesia. Akibatnya, banyak anak terlihat pendek padahal masih normal.

10. Kurva lokal lebih relevan untuk menilai pertumbuhan

Tiga anak perempuan berbaring di rumput
pexels/Rosyid Arifin

Prof. Jose menyampaikan bahwa kurva nasional lebih sesuai karena mempertimbangkan faktor genetik dan sosial ekonomi. Penggunaan kurva yang tepat akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat.

11. Salah pakai kurva bisa menyebabkan salah diagnosis

ilustrasi kurva pertumbuhan anak
pinterest.com/Reach wellness

Ia menambahkan bahwa banyak anak didiagnosis stunting karena memakai kurva yang tidak sesuai. Padahal, jika menggunakan kurva lokal, mereka masih dalam kategori normal.

12. Tidur, nutrisi, dan olahraga berperan penting dalam pertumbuhan

Sekelompok anak yang sedang berolahraga di kelas
pexels/Pavel Danilyuk

Prof. Jose menjelaskan bahwa hormon pertumbuhan optimal saat anak tidur nyenyak, sehingga tidur cukup sangat penting. Selain itu, asupan nutrisi lengkap dan aktivitas fisik juga membantu anak mencapai tinggi optimal.

Memahami kurva pertumbuhan membantu orang tua melihat tumbuh kembang anak secara lebih tepat dan tidak panik berlebihan. Dengan pemantauan rutin dan kurva yang sesuai, Mama bisa memastikan si Kecil tumbuh optimal sesuai potensinya.

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More