Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Perilaku Tidak Wajar Anak 4-5 Tahun saat di Tempat Umum

7 Perilaku Tidak Wajar Anak 4-5 Tahun saat di Tempat Umum
Pexels/Nikita Nikitin
Intinya Sih
  • Anak usia 4-5 tahun sedang mengembangkan kemandirian dan kemampuan sosial, namun sering menunjukkan perilaku tidak wajar seperti memaksakan kehendak atau bersikap terlalu kompetitif di tempat umum.

  • Mama dan Papa perlu menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, empati, serta menghargai kepemilikan orang lain agar si Kecil belajar berinteraksi dengan sehat dan sopan di lingkungan sosialnya.

  • Konsistensi dalam membimbing si Kecil dengan cara positif membantu mereka memahami batas kebebasan, etika berbicara, serta pentingnya menjaga sikap sopan di ruang publik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menghadapi perilaku anak usia 4-5 tahun di tempat umum memang memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan saat mereka masih balita. 

Di usia prasekolah ini, si Kecil sedang mengembangkan rasa otonomi yang kuat dan kemampuan sosial yang lebih kompleks. 

Mereka mulai memahami aturan, namun sering kali masih kesulitan mengontrol dorongan kompetitif atau keinginan untuk mendominasi lingkungan sekitarnya. 

Berikut Popmama.com rangkum 7 perbandingan perilaku anak usia 4-5 tahun di tempat umum beserta kebiasaan baik yang bisa Mama terapkan di rumah!

Table of Content

1. Sikap suka mengatur yang berubah menjadi paksaan

1. Sikap suka mengatur yang berubah menjadi paksaan

Anak bermain bersama
Pexels/Polesie Toys

Pada usia ini, si Kecil mulai memiliki jiwa kepemimpinan dan sangat suka memberikan instruksi saat bermain, yang sebenarnya merupakan tanda perkembangan kognitif yang baik. 

Namun, perilaku ini menjadi tidak wajar jika si Kecil mulai memaksakan aturannya harus diikuti oleh orang lain tanpa kompromi, bahkan hingga marah besar jika ada teman yang menolak. 

Keinginan untuk memegang kendali tetap harus dibatasi agar si Kecil belajar tentang kerja sama dan fleksibilitas. Mama perlu mengajarkan bahwa dalam sebuah interaksi sosial, suara orang lain juga memiliki nilai yang sama pentingnya dengan ide yang mereka miliki.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Mengajarkan konsep musyawarah sederhana seperti "Coba tanya temanmu, dia mau pakai aturan yang mana?".

  • Memberikan pujian saat si Kecil mau mengalah atau mengikuti ide orang lain saat bermain bersama.

  • Melatih si Kecil menggunakan kalimat ajakan yang sopan seperti "Bagaimana kalau kita main ini?" daripada kalimat perintah.

2. Sifat kompetitif yang memicu perilaku tidak sportif

Anak kompetitif
Pexels/Anna Shvets

Anak usia 4-5 tahun mulai memahami konsep menang dan kalah, sehingga wajar jika mereka merasa sangat bangga saat berhasil memenangkan sebuah permainan di taman bermain.

Namun, menjadi tidak wajar jika ambisi untuk menang membuat si Kecil melakukan kecurangan atau menunjukkan kemarahan yang berlebihan saat mengalami kekalahan. 

Perilaku tidak sportif ini menunjukkan bahwa si Kecil belum mampu mengolah rasa kecewa dengan sehat.

Mama perlu membekali mereka dengan pemahaman bahwa esensi dari bermain di tempat umum adalah kegembiraan bersama, bukan sekadar menjatuhkan mental lawan atau menjadi yang terbaik dengan cara yang salah.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Membiasakan si Kecil untuk mengucapkan "permainan yang bagus" kepada teman setelah selesai bermain.

  • Memberikan contoh langsung kepada si Kecil tentang bagaimana tetap tenang dan tersenyum meskipun kalah dalam permainan kecil.

  • Fokus memberikan apresiasi pada usaha keras yang si Kecil lakukan selama bermain, bukan hanya pada hasil akhirnya saja.

3. Keinginan memiliki barang yang memicu aksi mengambil paksa

Anak bermain bersama
Pexels/Polesie Toys

Wajar jika si Kecil merasa tertarik dan ingin meminjam mainan atau benda milik temannya yang mereka temui di tempat umum.

Namun, perilaku ini masuk kategori tidak wajar jika si Kecil langsung mengambil paksa barang tersebut dari tangan orang lain atau bahkan mencoba menyembunyikannya agar menjadi milik sendiri. 

Anak di usia ini seharusnya sudah mulai memahami konsep kepemilikan orang lain secara lebih mendalam.

Mama perlu menanamkan bahwa rasa suka terhadap sesuatu tidak memberikan hak otomatis untuk memilikinya tanpa seizin pemilik aslinya, guna membangun karakter jujur dan menghargai privasi sejak dini.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Melatih si Kecil untuk selalu bertanya "bolehkah aku meminjam ini sebentar?" kepada pemilik barang.

  • Mengajarkan konsep bertukar mainan (barter) sementara waktu agar kedua belah pihak merasa senang.

  • Memberikan pemahaman tentang konsekuensi jika barang orang lain hilang atau rusak akibat diambil tanpa izin.

4. Rasa percaya diri yang berujung pada pamer berlebihan

Anak bermain bersama
Pexels/cottonbro studio

Sangat wajar jika si Kecil ingin menunjukkan kemampuan barunya, seperti berlari cepat atau memanjat, kepada Mama atau orang di sekitar mereka.

Hal ini menjadi tidak wajar jika perilaku menunjukkan kemampuan tersebut berubah menjadi aksi pamer yang merendahkan anak lain atau mengganggu ketenangan publik dengan teriakan sombong. 

Percaya diri adalah hal positif, namun jika dibarengi dengan sikap meremehkan orang lain, hal itu bisa merusak hubungan sosial si Kecil.

Mama perlu mengarahkan agar mereka tetap rendah hati dan menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda-beda tanpa harus merasa paling hebat di depan umum.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Mengajarkan si Kecil untuk memberikan dukungan atau semangat kepada teman yang sedang belajar hal baru.

  • Memberikan pemahaman bahwa prestasi akan terasa lebih indah jika diakui oleh orang lain tanpa harus dipaksakan.

  • Mendiskusikan tentang perasaan orang lain saat mendengar kalimat sombong agar si Kecil belajar berempati.

5. Keinginan mandiri yang mengabaikan instruksi keamanan

Anak tidak mau menurut pada Mama
Pexels/Gustavo Fring

Si Kecil di usia prasekolah sering merasa sudah "besar" dan ingin melakukan segalanya sendiri, termasuk berjalan jauh di depan Mama saat berada di tempat ramai.

Perilaku ini dianggap tidak wajar jika si Kecil dengan sengaja mengabaikan instruksi keamanan Mama atau sengaja bersembunyi di tempat berbahaya hanya untuk menguji kesabaran. 

Kemandirian harus tetap berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap aturan keselamatan yang telah disepakati.

Mama perlu menegaskan bahwa kebebasan yang mereka miliki di tempat umum selalu dibatasi oleh garis keamanan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada diri mereka.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Menentukan "batas aman" yang tidak boleh dilewati si Kecil tanpa izin Mama saat berada di lokasi baru.

  • Memberikan si Kecil tanggung jawab untuk memegang peta lokasi atau brosur tempat agar mereka merasa dilibatkan dalam pengawasan.

  • Menjelaskan alasan logis di balik setiap aturan keamanan agar si Kecil patuh karena paham, bukan karena takut.

6. Kemampuan bicara yang digunakan untuk menginterupsi

Anak berdiskusi
Pexels/Soc Nan Dong

Di usia ini, kosa kata si Kecil sudah sangat banyak dan mereka sering kali ingin menceritakan segala hal yang ada di pikiran mereka dengan antusias. 

Wajar jika mereka ingin segera berbagi cerita, namun menjadi tidak wajar jika si Kecil terus-menerus memotong pembicaraan orang dewasa secara paksa atau berteriak di telinga Mama saat Mama sedang berbicara dengan orang lain. 

Perilaku menginterupsi secara kasar menunjukkan si Kecil belum belajar tentang etika dasar dalam berkomunikasi dan menghargai waktu orang lain.

Mama perlu melatih kesabaran si Kecil untuk menunggu giliran bicara agar mereka tumbuh menjadi komunikator yang baik dan sopan.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Mengajarkan isyarat non-verbal seperti meletakkan tangan si Kecil di lengan Mama sebagai tanda mereka ingin bicara.

  • Memberikan penghargaan berupa perhatian penuh setelah Mama selesai berbicara sebagai tanda si Kecil sudah berhasil menunggu.

  • Melibatkan si Kecil dalam percakapan secara bergantian agar mereka merasa pendapatnya juga dihargai.

7. Penggunaan bahasa yang tidak pantas untuk menarik perhatian

Anak menggunakan bahasa tidak pantas
Pexels/RDNE Stock Project

Anak usia 4-5 tahun mulai mendengar banyak istilah baru dari lingkungan dan terkadang mencoba menggunakannya di tempat umum untuk melihat reaksi Mama.

Wajar jika mereka bereksperimen dengan kata-kata, namun menjadi tidak wajar jika si Kecil dengan sengaja menggunakan kata-kata kasar atau tidak pantas secara berulang untuk memancing perhatian publik. 

Mereka sering kali belum paham arti kata tersebut, namun mereka menikmati "kekuatan" yang muncul saat Mama terlihat panik atau marah.

Mama perlu memberikan respons yang tepat tanpa emosi yang meledak agar si Kecil paham bahwa kata-kata buruk bukanlah cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Bersikap tenang dan memberikan penjelasan singkat bahwa kata tersebut tidak sopan dan tidak perlu diulangi.

  • Mengganti kata-kata buruk dengan istilah lucu atau kata sifat positif yang lebih menyenangkan untuk diucapkan.

  • Memberikan perhatian lebih pada saat si Kecil menggunakan kalimat-kalimat yang sopan dan menyenangkan agar mereka lebih memilih cara tersebut.

Intinya, Ma, mengarahkan perilaku si Kecil di udia transisi ini memang membutuhkan konsistensi dan pengertian yang mendalam dari Mama. 

Dengan memberikan bimbingan yang tepat, Mama tidak hanya menjaga ketertiban di tempat umum, tetapi juga sedang membentuk karakter si Kecil yang matang dan menghargai orang lain.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More