- Cyanotik (warna kebiruan)
Jangan Panik! Ini Cara Mengatasi Breath Holding Spell pada Anak

- Breath holding spell adalah kondisi refleks saat anak berhenti bernapas setelah emosi intens, umum terjadi pada usia 6 bulan–6 tahun dan biasanya tidak berbahaya.
- Terdapat dua jenis utama, yaitu cyanotik akibat kemarahan dan pallid akibat rasa sakit atau kaget; keduanya disebabkan sistem saraf otonom yang belum matang.
- Penanganan utama adalah tetap tenang, pastikan anak aman di permukaan datar, longgarkan pakaian, beri kompres dingin, serta penuhi kebutuhan nutrisi terutama zat besi untuk pencegahan.
Pernah nggak sih, Ma, si Kecil tiba-tiba menangis keras, terus tiba-tiba diam seolah-olah menahan napas? Dalam waktu singkat, wajahnya mungkin berubah menjadi kebiruan atau sangat pucat, tubuhnya terlihat lemas, dan Mama mungkin langsung panik karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Wajar banget kalau Mama merasa cemas saat dihadapkan dengan situasi semacam ini, terutama jika ini merupakan pengalaman pertama Mama. Rasanya seperti keadaan darurat yang harus segera diatasi, kan.
Padahal kondisi ini dikenal dengan istilah breath holding spell, yang ternyata lumrah terjadi pada bayi dan balita. Kejadian ini umumnya dipicu oleh emosi intens, seperti kemarahan, kekecewaan, rasa sakit, atau bahkan kaget.
Menurut American Academy of Pediatrics, breath holding spell bukanlah kondisi yang berbahaya dan biasanya akan menghilang seiring dengan pertumbuhan anak. Jadi, meskipun tampak menakutkan, Mama sebenarnya tidak perlu merasa panik secara berlebihan.
Kira-kira apa saja yang perlu Mama tahu tentang kondisi ini? Popmama.com sudah merangkumnya untuk Mama di bawah ini.
Table of Content
1. Apa itu breath holding spell?

Breath holding spell merujuk pada situasi di mana seorang anak secara mendadak berhenti bernapas setelah menangis atau menghadapi emosi yang sangat intens. Ini bukan tindakan sengaja dari anak yang sengaja menahan napas, ya, Ma, tetapi merupakan reaksi refleks dari sistem saraf yang masih dalam tahap perkembangan.
Fenomena ini paling sering dijumpai pada anak-anak berusia antara 6 bulan hingga 6 tahun, dengan frekuensi tertinggi terjadi pada masa balita. Biasanya, kejadian dimulai dengan tangisan yang keras, diikuti oleh pengeluaran napas, dan kemudian anak tidak segera menghirup udara kembali selama beberapa detik.
Pada sebagaian besar kasus Breath holding spell, episode akan berlangsung sekitar 30 hingga 60 detik, lalu anak akan mulai bernapas kembali secara normal dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.
Berdasarkan informasi dari NHS (National Health Service) , kondisi ini tergolong umum dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap otak atau perkembangan anak. Jadi, walaupun bisa terlihat menakutkan, Mama tidak perlu terlalu cemas karena umumnya kondisi ini akan membaik seiring dengan pertumbuhan anak.
2. Jenis breath holding spell yang sering terjadi

Secara medis, breath holding spell terbagi menjadi dua jenis utama, Ma. Masing-masing memiliki penyebab dan gejala yang berbeda, sehingga sangat penting bagi Mama untuk mengenali agar tidak merasa lebih cemas saat menghadapinya.
Jenis Cyanotik merupakan breath holding spell yang paling umum terjadi. Biasanya, kondisi ini muncul setelah anak berteriak keras akibat kemarahan atau frustrasi. Setelah menangis, anak akan berhenti bernapas dan wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi biru karena penurunan kadar oksigen sementara.
- Pallid (warna pucat)
Jenis pallid cenderung muncul sebagai reaksi terhadap kejutan atau rasa sakit mendadak, seperti ketika anak terjatuh atau terbentur. Dalam keadaan ini, anak bisa tiba-tiba tampak pucat, lemas, bahkan tampak seperti pingsan dalam waktu yang singkat tanpa melalui tangisan yang panjang.
Selanjutnya, berdasarkan literatur medis seperti StatPearls (NCBI), kedua jenisini terjadi akibat respons sistem saraf otonom yang belum sepenuhnya matang dalam mengatur reaksi tubuh terhadap perasaan atau rasa sakit. Jadi, meskipun terlihat berbeda dan cukup menakutkan, keduanya biasanya tidak berbahaya dan akan membaik seiring bertambahnya usia anak ya, Ma.
3. Penyebab anak mengalami breath holding spell

Breath holding spell umumnya muncul akibat perpaduan antara faktor emosional dan kondisi fisik anak. Pada usia dini, anak belum mampu mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga respons tubuhnya bisa tampak lebih intens dari yang diperkirakan.
Berikut merupakan beberapa pemicu Breath holding spell yang sering terjadi meliputi:
- Emosi intens, seperti marah, frustrasi, atau kecewa
- Rasa sakit mendadak, misalnya karena jatuh atau terbentur
- Rasa kaget atau takut
- Ketidaknyamanan fisik, seperti kelelahan atau lapar
Nah ketika anak Mama mengalami salah satu kondisi tersebut, tubuhnya dapat bereaksi secara otomatis. Hal ini dapat terjadi karena sistem sarafnya masih berkembang, pola napas bisa terganggu dan menyebabkan napas terhenti sementara.
Menurut MedlinePlus, episode ini biasanya muncul ketika anak sangat tertekan secara emosional atau mengalami shock ringan, dan bukan merupakan tindakan yang disengaja.
Selain faktor emosi, kondisi kesehatan tertentu juga dapat berpengaruh. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan pada anak di seluruh dunia, dan kekurangan zat besi bisa memengaruhi distribusi oksigen serta fungsi sistem saraf. Inilah alasan mengapa sebagian anak yang mengalami anemia lebih mudah terkena breath holding spell. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak selalu terpenuhi.
4. Gejala yang perlu dikenali orangtua

Melihat gejala breath holding spell untuk pertama kali pastinya dapat membuat Mama terkejut, bahkan merasa panik. Hal ini disebabkan karena kondisi ini memperlihatkan seolah anak benar-benar tidak bernapas atau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
Nah, berikut berbagai tanda yang biasanya muncul meliputi:
- Anak tiba-tiba menghentikan napasnya, sering kali setelah menangis atau terkejut
- Warna kulit berubah, bisa menjadi kebiruan atau pucat
- Tubuh menjadi kaku atau justru lemas
- Kehilangan kesadaran dalam waktu singkat
- Pada beberapa kasus, tubuh dapat terlihat seperti mengalami kejang ringan
Gejala ini umumnya berlangsung dengan waktu yang sangat cepat, hanya dalam beberapa detik setelah anak menangis atau terpapar pemicu tertentu. Inilah yang sering kali menyebabkan orangtua merasa situasinya darurat.
Tetapi, penting bagi Mama untuk memahami bahwa mayoritas episode breath holding spell biasanya akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu kurang dari satu menit. Setelah itu, anak biasanya akan kembali sadar dan beraktivitas seperti biasa, seolah tidak terjadi apapun. Maka dari itu, kuncinya adalah mengenali polanya agar Mama dapat tetap tenang saat menghadapinya.
5. Cara mengatasi saat anak mengalami breath holding spell

Saat si Kecil mengalami breath holding spell, sangat wajar bila Mama langsung merasa cemas. Terlebih lagi apabila melihat anak tampak tidak bernapas atau mendadak lemas.Tetapi, di saat seperti ini, hal terpenting yang dapat Mama lakukan adalah tetap bersikap tenang. Dengan menjaga ketenangan, Mama mampu membantu memastikan kondisi anak tetap aman hingga napasnya kembali normal.
Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Mama coba untuk mengatasi anak yang sedang mengalami breath holding spell :
- Letakkan anak di permukaan yang datar dan aman.
- Jauhkan dari benda-benda yang keras atau berpotensi berbahaya agar tidak terjadi cedera.
- Longgarkan pakaian anak, terutama di area leher.
- Kompres wajahnya dengan kain yang dingin untuk mendorong refleks pernapasan.
Langkah-langkah ini bukan ditujukan untuk "menghentikan" episode tersebut secara langsung, melainkan lebih kepada memastikan anak tetap aman selama kejadian berlangsung.
Menurut American Academy of Pediatrics, breath holding spell umumnya akan berakhir dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu mengambil tindakan yang ekstrem.
Mama juga sebaiknya tidak mengguncang anak, meniup wajahnya terlalu kencang, atau memasukkan objek ke dalam mulutnya karena hal tersebut bisa semakin membahayakan si Kecil. Setelah breath holding spell berakhir, Mama dapat menenangkan anak secara perlahan.
6. Cara mencegah agar breath holding spell tidak sering terjadi

Meskipun breath holding spell tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, Mama dapat membantu mengurangi kejadiannya dengan mengenali pola serta faktor pemicunya. Hal yang terpenting adalah Mama dapat menjaga kondisi anak tetap stabil, baik secara emosional maupun fisik.
Dengan penanganan yang tepat, frekuensi episode ini biasanya akan menurun seiring waktu. Jadi beberapa hal yang bisa Mama lakukan antara lain:
- Mendampingi anak belajar mengelola emosinya perlahan
- Mencegah anak menjadi terlalu lelah atau kelaparan
- Menjaga rutinitas harian tetap teratur
- Memberikan nutrisi seimbang, terutama yang kaya zat besi
Ketika anak mulai memahami emosinya, tubuhnya pun akan merespons dengan lebih terkontrol. Begitu juga jika kebutuhan fisiknya tercukupi, risiko munculnya breath holding spell dapat menurun.
World Health Organization (WHO) juga menegaskan bahwa zat besi sangat penting bagi perkembangan otak dan sistem saraf anak. Kekurangan zat besi dapat memengaruhi cara tubuh menghadapi stres dan emosi, yang pada akhirnya bisa memicu breath holding spell. Maka dari itu, memastikan asupan nutrisi si Kecil terpenuhi tidak hanya penting untuk tumbuh kembangnya, tapi juga dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya breath holding spell.
7. Kapan harus membawa anak ke dokter?

Meskipun breath holding spell biasanya tidak menimbulkan bahaya, Mama harus tetap waspada terhadap beberapa kondisi tertentu yang dapat menjadi indikator perlunya pemeriksaan lebih lanjut.
Berikut merupakan beberapa keadaan yang harus Mama perhatikan:
- Kejadian berlangsung sangat sering atau menjadi lebih serius
- Anak kehilangan kesadaran lebih dari satu menit
- Disertai dengan kejang atau gerakan yang tidak biasa
- Terjadi pada bayi di bawah umur enam bulan
Jika Mama menemukan tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan tidak ada kondisi lain yang mendasari, seperti masalah jantung atau gangguan pada sistem saraf.
Menurut NHS (National Health Service), evaluasi medis diperlukan jika kejadian terlihat tidak biasa atau disertai gejala tambahan. Melalui pemeriksaan yang tepat, Mama dapat mendapatkan kepastian serta penanganan yang sesuai.
Menyaksikan anak mengalami breath holding spell memang bisa membuat Mama merasa panik, terutama jika itu terjadi mendadak. Berita baiknya, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring bertambahnya usia anak.
Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasi situasi ini, Mama dapat merasa lebih tenang dan percaya diri saat menghadapinya.
Jika si Kecil tiba-tiba mengalami breath holding spell, apakah Mama cenderung panik atau tetap dapat tenang?


















