Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Anak Sulit Kontak Mata Apakah Tanda Dini Autisme? Waspadai Gejalanya

Anak Sulit Kontak Mata Apakah Tanda Dini Autisme? Waspadai Gejalanya
Freepik

Anak yang sulit kontak mata sering kali disebut sebagai anak yang mungkin pemalu. Padahal, kondisi ini bisa juga menjadi salah satu tanda keterlambatan perkembangan sosial, Ma.

Namun, orangtua perlu ingat bahwa autisme tidak hanya sebatas anak yang lambat bicara atau suka mengulang gerakan. Bisa saja anak menghindari tatapan mata tapi tidak mengalami autisme.

Itulah mengapa penting untuk mengenali keseluruhan pola, bukan hanya satu tanda. Seperti kisah Eva, gadis kecil dari seorang terapis wicara yang didagnosis autisme di usia 2 tahun.

Dalam cerita yang viral di media sosial, Eva tumbuh normal seperti anak pada umumnya, tersenyum, meniru gerakan, bahkan mulai bicara. Tapi di usia 13 bulan, ia mengalami regresi atau kemunduran kemampuan, yang membuatnya didagnosis autisme di usia genap 2 tahun.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa deteksi dini sangat penting agar orangtua bisa lebih waspada tanpa panik, lalu mengambil langkah tepat. Yuk, simak kisah selengkapnya dalam rangkuman Popmama.com berikut ini.

1. Kisah Eva, dari perkembangan normal sampai didiagnosis autisme

kisah eva anak autisme
Instagram.com/dynamic_expression.slp

Eva adalah putri seorang speech-language pathologist (terapis wicara) yang sebelumnya bekerja di bidang intervensi dini.

Kisahnya dibagikan langsung dalam unggahan melalui Instagram pribadi sang Mama @dynamic_expression.slp, yang kemudian mengundang perhatian netizen dunia.

Diceritakan sang Mama, awal kehidupan putri tercinta perkembangannya tidak menunjukkan hal yang aneh. Ia sering tersenyum, menunjukkan ketertarikan pada anak-anak sebayanya, meniru beberapa gerakan, dan mulai mengucapkan beberapa kata.

Namun, ketika Eva berusia sekitar 13 bulan, ia mengalami yang namanya regresi, yaitu kemunduran kemampuan yang ternyata sebelumnya sudah ia miliki.

Kemampuan bicara dan sosialnya yang mulai berkembang seolah menghilang. Pada usia 2 tahun, setelah melalui serangkaian evaluasi, Eva resmi didiagnosis dengan autisme.

Dari kisah Eva ini, penting bagi orangtua memahami bahwa tanda autisme tidak selalu terlihat sejak lahir, tapi bisa muncul setelah periode perkembangan yang tampak normal.

2. Tanda dini autisme yang perlu diwaspadai

anak bermain
Freepik

Berdasarkan panduan yang tersedia, ada perbedaan mencolok antara perkembangan normal anak dengan tanda dini autisme, terutama pada usia 12, 15, dan 18 bulan.

Di usia 12 bulan, anak normal biasanya akan menoleh saat dipanggil namanya. Sedangkan anak dengan tanda dini autisme mungkin justru bisa menunjuk dan mengambil objek yang ia mau, tapi kurang merespons panggilan.

Kemudian saat memasuki usia 15 bulan, anak normal cenderung menggandeng tangan orangtua dan mengarahkannya untuk mengambil benda yang diinginkan, umumnya tanpa kontak mata. Sementara anak dengan risiko autisme justru kurang tertarik berkomunikasi, cenderung suka mengulang ucapan yang ia dengar di sekitarnya (echolalia).

Di usia 18 bulan, anak normal akan mencari perhatian orangtua dengan tersenyum, memanggil, dan menghampiri. Sebaliknya, anak dengan tanda autisme menunjukkan minim ekspresi wajah, menolak berinteraksi, dan tidak ada kontak mata.

Tanda dini inilah yang bisa orangtua kenali pada perkembangan si Kecil. Dengan mendeteksi dini, pengobatan pun bisa dilakukan dengan tepat.

3. American Psychiatric Association tetapkan diagnosis autisme pada dua domain utama

anak bermain
Freepik

American Psychiatric Association (APA) menetapkan bahwa diagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD) harus berdasarkan penilaian terhadap dua domain utama.

Pertama adalah defisit komunikasi dan interaksi sosial. Ini mencakup kesulitan dalam percakapan dua arah, kontak mata atau ekspresi wajah yang terbatas, sulit membangun atau memperhatikan hubungan sosial, serta sulit menyesuaikan perilaku di berbagai situasi sosial.

Lalu yang kedua adalah pola perilaku berulang atau minat yang terbatas. Contohnya seperti gerakan, ucapan, atau penggunaan benda secara berulang, sangat bergantung pada rutinitas atau ritual tertentu, memiliki minat yang sangat spesifik dan intens, serta menunjukkan sensitivitas sensorik berlebihan terhadap suara, tekstur, atau cahaya.

Penting untuk diingat bahwa diagnosis autisme tidak bisa kita nilai sendiri secara sepihak hanya dari observasi orangtua di rumah ya, Ma. Diagnosis ini hanya bisa ditetapkan oleh tenaga profesional melalui evaluasi menyeluruh.

4. Tanda yang paling menonjol dan yang sering muncul

anak bermain
Freepik/yanalya

Dari penelitian yang ada pada 29.027 anak yang telah dilakukan skrining autisme, ditemukan satu tanda yang paling menonjol, yaitu mencari perhatian orangtua atau pengasuh ketika tidak bersamanya, yang di mana anak dengan risiko autisme tidak melakukan hal tersebut.

Artinya, mereka cenderung tidak inisiatif mencari kehadiran orangtua saat ditinggal. Hasil skrining juga menunjukkan bahwa 15% anak memiliki risiko autisme sedang hingga tinggi.

Dari ciri autisme yang paling sering muncul adalah adanya gangguan interaksi sosial, dengan persentase mencapai 72,44%. Kemudian disusul oleh gerakan repetitif atau stereotipik, dan 10,5% lainnya berupa keterlambatan perkembangan lainnya.

Data ini menegaskan bahwa masalah interaksi sosial merupakan tanda paling terang dan harus segera diwaspadai orangtua.

5. Penelitian Indonesia buktikan 1 dari 4 anak berpotensi keterlambatan perkembangan

anak perempuan bersama orangtua
Freepik

Di Indonesia sendiri juga terdapat penelitian yang melibatkan lebih dari 200.000 anak Indonesia, yang mana hasilnya 1 dari 4 anak berpotensi mengalami keterlambatan perkembangan.

Lebih spesifik lagi, 3 dari 20 anak berisiko autisme dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi. Bahkan, 1 dari 2 anak dengan status gizi tidak normal juga memiliki risiko serupa, Ma.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa autisme bukanlah kondisi yang sangat langka, dan ada kaitan menarik antara status gizi dengan risiko autisme.

Itulah mengapa para orangtua diminta untuk selalu memantau perkembangan sosial dan komunikasi, serta memerhatikan asupan gizi si Kecil.

Semakin dini kita menyadari potensi risiko, semakin cepat intervensi bisa diberikan, dan semakin besar peluang anak untuk tumbuh optimal, Ma.

Memahami autisme bukan untuk membuat kita cemas berlebihan kok, Ma, melainkan untuk membuka mata hati agar lebih peka terhadap tanda-tanda dini yang mungkin muncul pada si Kecil.

Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, dan deteksi dini adalah kunci utama agar anak bisa mendapatkan intervensi yang tepat sejak dini.

Dengan kita memahami autisme, semakin kita bisa menciptakan lingkungan yang inklusif, penuh dukungan, dan penuh kasih sayang untuk tumbuh kembang mereka.

Karena anak istimewa pun berhak tumbuh bahagia, sama seperti anak-anak lainnya. Tetap semangat selalu para Mama!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More

7 Perilaku Tidak Wajar Anak 4-5 Tahun saat di Tempat Umum

17 Apr 2026, 10:12 WIBKid