“Zat besi ini sebenarnya adalah salah satu yang direkomendasikan. Idealnya sudah jelas, ada 3 yang paling diutamakan. Vitamin D, zat besi, dan vitamin A.”
Pentingnya Zat Besi Untuk Tumbuh Kembang Otak si Kecil

Pentingnya zat besi bagi perkembangan otak si Kecil, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan yang menjadi fase emas pertumbuhan.
dr. Lucky Yogasatria menjelaskan kekurangan zat besi tidak hanya menyebabkan anemia, tapi juga berdampak pada penurunan IQ, risiko stunting, dan gangguan perkembangan kognitif si Kecil.
Pemenuhan kebutuhan zat besi sulit dicapai hanya dari makanan, sehingga disarankan memilih sumber hewani atau suplementasi yang sesuai usia agar penyerapan optimal dan efek samping minimal.
Membahas nutrisi si Kecil memang tidak ada habisnya, apalagi jika menyangkut zat besi yang sering kali dianggap hanya untuk mencegah anemia saja.
Padahal, kecukupan zat besi sangat menentukan masa depan kecerdasan si Kecil dan menjadi fondasi utama dalam fase emas pertumbuhannya.
Informasi penting ini dibahas secara mendalam dalam kampanye Maltofer dari Combiphar pada Selasa (14/4/2026) di Jakarta Selatan bersama dr. Lucky Yogasatria Sp. A, selaku Dokter Spesialis Anak dan Konselor Praktisi.
Beliau menjelaskan betapa vitalnya peran zat besi sebagai mikro nutrisi yang tidak boleh disepelekan demi mengoptimalkan pembentukan saraf otak si Kecil sejak dini.
Berikut Popmama.com rangkum 7 alasan mengapa zat besi sangat penting bagi si Kecil!
Table of Content
1. Zat besi merupakan nutrisi mikro utama

Zat besi termasuk dalam kelompok mikro nutrisi, yaitu nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit namun dampaknya sangat besar bagi tubuh.
dr. Lucky menyebutkan ada tiga nutrisi utama yang harus diutamakan bagi tumbuh kembang anak.
Meskipun porsinya tidak sebanyak makro nutrisi (protein, karbohidrat, dan lemak), zat besi merupakan salah satu prioritas yang paling direkomendasikan untuk menunjang kesehatan si Kecil, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan.
Masa 1000 hari pertama kehidupan, yakni sejak janin dalam kandungan hingga si Kecil berusia 2 tahun, adalah fase emas yang tidak bisa diulang.
“Otak anak akan mencapai 80% di usia 2 tahun,” ungkap dr. Lucky
Di fase ini, perkembangan otak terjadi dengan sangat pesat dan membutuhkan asupan nutrisi yang tepat agar pembentukan saraf berjalan maksimal.
2. Dampak kekurangan zat besi lebih dari sekadar anemia

Banyak orangtua mengira kekurangan zat besi hanya menyebabkan anemia atau kurang darah, padahal anemia hanyalah "puncak gunung es" yang menandakan bahwa defisiensi tersebut sudah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejala awalnya tidak terlihat secara fisik, namun secara perlahan mulai menggerogoti potensi tumbuh kembang si Kecil.
Sebelum si Kecil terlihat pucat, kekurangan zat besi sebenarnya sudah memberikan dampak buruk yang sangat serius bagi kualitas hidup mereka di masa depan.
Kekurangan nutrisi mikro ini secara sistematis akan mengganggu fungsi tubuh yang paling vital, di mana dampaknya mulai dari penurunan IQ hingga 18 poin, risiko stunting, perkembangan kognitif terganggu, hingga masalah telat bicara.
Selain itu, kondisi ini juga membuat gerakan si Kecil menjadi lemas dan tidak aktif karena pasokan oksigen ke jaringan tubuh tidak optimal.
Mama perlu waspada karena jika si Kecil sudah sampai terlihat pucat, itu artinya kondisi kekurangan zat besi sudah masuk dalam tahap yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan saraf otaknya.
3. Cadangan zat besi alami anak akan habis di usia 4 bulan

Si Kecil yang lahir cukup bulan biasanya memiliki cadangan zat besi alami yang hanya bertahan hingga usia 4 bulan saja.
Padahal, memasuki fase ini, tubuh si Kecil tidak lagi bisa hanya mengandalkan sisa nutrisi dari masa kandungan, sementara kebutuhan untuk pertumbuhannya justru semakin meningkat pesat.
Pemberian suplementasi zat besi sering kali sudah mulai dianjurkan di usia ini untuk berjaga-jaga, terutama jika Mama memiliki riwayat anemia saat masa kehamilan.
Pada bayi yang lahir prematur, proses habisnya cadangan zat besi ini bisa terjadi jauh lebih cepat sehingga pemberian tambahan nutrisi mungkin sudah dimulai sejak usia 1 bulan.
Hal ini krusial untuk memastikan tidak ada celah kekurangan nutrisi saat otak sedang berkembang dengan sangat cepat, agar fondasi kecerdasan si Kecil tetap terjaga optimal tanpa terputus.
4. Tantangan memenuhi kebutuhan zat besi dari makanan

Memenuhi kebutuhan 11 miligram zat besi per hari dari makanan asli atau real food ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua.
Sebagai gambaran, jumlah tersebut setara dengan konsumsi 500 gram dada ayam setiap hari, yang tentu sulit dihabiskan oleh seorang bayi atau balita dalam satu hari.
Ketidakmampuan si Kecil mengonsumsi protein hewani dalam porsi besar inilah yang sering kali memicu terjadinya celah nutrisi atau nutrient gap.
Melihat realita porsi makan si Kecil yang terbatas tersebut, bantuan suplementasi atau pemilihan bahan makanan dengan kepadatan zat besi yang tinggi menjadi sangat krusial.
“80% anak Indonesia itu asupan gizinya itu ga nyampe. Makanya IDAI merekomendasikan udah semua dikasih zat besi,” papar dr. Lucky.
Sebagai solusi yang lebih praktis di meja makan, alternatif lain adalah menggunakan hati ayam yang memiliki kandungan zat besi jauh lebih tinggi dibandingkan daging biasa.
Mama cukup memberikan hati ayam sebanyak 70 gram untuk membantu memenuhi kebutuhan harian si Kecil, namun frekuensi pemberiannya tetap harus diperhatikan agar asupan nutrisi lainnya tetap seimbang.
5. Memilih sumber zat besi hewani agar lebih mudah diserap

Sumber zat besi terbagi menjadi dua, yaitu heme yang berasal dari protein hewani dan non-heme dari tumbuhan.
Untuk anak, protein hewani seperti daging sapi dan hati ayam jauh lebih direkomendasikan karena lebih mudah dicerna dan diserap secara maksimal oleh tubuh dibandingkan sayuran seperti bayam.
Perbedaan efektivitas penyerapan inilah yang sering kali membuat asupan dari sayuran saja tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan harian si Kecil yang sangat tinggi.
Jika asupan dari makanan utama dirasa tidak mencukupi, maka pemberian suplementasi menjadi langkah yang bijak untuk memenuhi kebutuhan harian.
“Tapi intinya, suplementasi diberikan suplai kalau anaknya memang kurang dari asupan makanan utamanya maka diberikan suplementasi. Kalau anaknya kurang, dosisnya naik.”
6. Memilih suplementasi yang nyaman untuk si Kecil

Saat memilih suplemen zat besi, Mama harus memperhatikan faktor kenyamanan atau tolerability agar tidak menimbulkan efek samping seperti mual, kembung, atau konstipasi.
Bentuk sediaan suplemen juga harus disesuaikan dengan kemampuan si Kecil berdasarkan usianya masing-masing.
Bayi di bawah 1 tahun biasanya lebih nyaman diberikan bentuk tetes atau drops
Anak di atas usia 3 tahun yang sudah bisa mengunyah boleh diberikan dalam bentuk tablet.
Memastikan kemudahan dalam pemberian suplemen akan sangat membantu konsistensi pemenuhan nutrisi harian si Kecil.
Dengan memastikan kecukupan zat besi, Mama sudah memberikan modal terbaik bagi perkembangan otak dan kesehatan jangka panjang si Kecil.
Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan dosis yang paling tepat ya, Ma. Kira-kira sumber protein hewani apa yang paling disukai si Kecil saat ini, Ma?


















