7 Tanda Waktu Tidur Anak Tidak Teratur, Kenali Dampaknya bagi Tubuh

- Secara biologis, tidur berfungsi sebagai fase anabolik di mana tubuh melakukan perbaikan jaringan dan konsolidasi memori.
- Emosi tidak stabil jika anak kekurangan tidur.
- Saat anak kurang tidur, tubuh mereka cenderung berada dalam mode siaga.
Tidur menjadi kebutuhan dasar yang penting bagi setiap individu, terutama untuk si Kecil yang sedang berada dalam fase pertumbuhan. Secara biologis, tidur berfungsi sebagai fase anabolik di mana tubuh melakukan perbaikan jaringan dan konsolidasi memori.
Dikutip dari laman National Sleep Foundation, bahwa balita usia (1–3 tahun) memerlukan sekitar 11–14 jam tidur ideal untuk proses kembangnya. Sedangkan anak berusia (6-13 tahun) memerlukan setidaknya 9-11 jam waktu ideal per harinya.
Istirahat yang tidak teratur dapat berdampak sangat serius pada kesehatan fisik, stabilitas emosi dan perkembangan kognitif mereka. Tentu hal ini tidak ingin terjadi pada anak mama di rumah, bukan?
Tak perlu khawatir, berikut ini Popmama.com telah merangkum tanda waktu tidur anak tidak teratur yang perlu Mama ketahui. Yuk, simak!
Table of Content
1. Kesulitan untuk bangun pagi

Seperti yang terjadi para orang dewasa, anak juga dapat merasakan dampak yang tidak menyenangkan akibat kurangnya waktu tidur.
Hal ini ditandai dengan tubuh si Kecil yang terasa berat untuk beranjak dari tempat tidur, secara biologis menunjukkan bahwa proses tidur di malam hari belum berjalan dengan sempurna.
Pakar neurologi Harvard Medical School, Dr. Judith Owens, menambahkan bahwa kualitas pagi yang buruk adalah cerminan dari kegagalan sistem saraf dalam mencapai fase tidur yang lebih baik.
2. Emosi tidak stabil

Sebagai orangtua, penting untuk Mama pahami bahwa tidur bukan sekadar waktu istirahat bagi anak tetapi juga momen vital bagi otak untuk memulihkan diri, khususnya dalam mengatur emosi.
Ketika anak tidak cukup tidur, pusat kendali emosi di otak mereka tidak bekerja secara optimal. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah marah, reaktif atau bahkan mengalami tantrum yang sulit ditenangkan. Perilaku ini bukanlah sekadar kenakalan, melainkan sinyal biologis, bahwa sistem saraf mereka sedang tertekan akibat kurangnya waktu tidur.
3. Lebih aktif saat malam hari

Bagi setiap Mama mungkin pernah mengalami dimana anak tiba-tiba menjadi lebih segar atau aktif menjelang waktu tidur. Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar kenakalan lho ma, melainkan reaksi tubuh anak terhadap kurangnya istirahat.
Seorang dokter spesialis anak terkemuka Dr. Marc Weissbluth, menjelaskan bahwa perilaku anak yang tampak sangat aktif di malam hari sebenarnya adalah mekanisme tubuh yang sedang berusaha menahan rasa kantuk yang luar biasa.
Ia menyebut bahwa ketika anak melewati batas waktu tidurnya, tubuh akan memproduksi hormon adrenalin dan kortisol secara berlebihan untuk menjaga mereka tetap terjaga, sehingga hal ini membuat anak justru terlihat lebih segar pada malam hari.
4. Menguap secara berlebihan

Menguap sejatinya adalah hal yang sangat wajar dialami oleh setiap orang dalam keseharian mereka, terutama saat tubuh merasa bosan atau sedikit lelah setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup padat.
Namun, jika Mama mendapati anak sering sekali menguap secara berulang kali dalam durasi yang berdekatan, hal ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa jam tidurnya sedang tidak teratur atau kualitas istirahatnya tidak maksimal.
Kondisi menguap yang terus-menerus ini, menandakan bahwa anak membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sekadar bisa tertidur dengan nyenyak dan mengisi ulang seluruh energi yang ia miliki untuk tumbuh kembangnya.
5. Perubahan nafsu makan

Pola tidur yang tidak teratur pada anak, tidak hanya memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan kestabilan suasana hati saja, tetapi dapat juga berpengaruh buruk pada penurunan nafsu makan mereka.
Kondisi ini terjadi karena hormon pengatur rasa lapar dan kenyang, yaitu hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dan leptin yang memberikan sinyal kenyang, tidak dapat bekerja secara optimal akibat gangguan pada siklus istirahat.
Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk mulai memperhatikan kembali jadwal tidur anak dan disarankan untuk tetap konsisten dalam menyediakan menu makanan bergizi seimbang, guna mendukung pemulihan energi pertumbuhan anak.
6. Pola buang air besar menjadi terhambat

Anak yang memliki gejala kekurangan jam tidur, sering kali mengalami gangguan pencernaan ringan. Hal ini ditandai dengan perubahan pada pola buang air anak yang cukup sering terjadi.
Dampak dari perubahan in, sering kali membuat anak cenderung mengalami sembelit atau perubahan frekuensi buang air yang tidak seperti biasanya. Saat anak kurang tidur, tubuh mereka cenderung berada dalam mode siaga yang menyebabkan otot di saluran pencernaan menjadi lebih tegang dan menghambat proses eliminasi sisa makanan secara lancar.
Oleh karena itu, sangat penting bagi Mama untuk mulai memerhatikan tanda-tanda perubahan pola buang air, seperti saat anak terlihat menahan buang air dengan sengaja atau sering mengeluh sakit perut yang tidak nyaman di pagi hari.
7. Pertumbuhan yang terhambat

Pada anak hormon pertumbuhan atau yang secara medis dikenal sebagai growth hormone dilepaskan secara maksimal oleh kelenjar pituitary, terutama saat mereka berada dalam fase tidur nyenyak di malam hari.
Proses pelepasan hormon ini sangat bergantung pada kestabilan fase non-rapid eye movement (NREM), di mana tubuh melakukan perbaikan seluler dan stimulasi pemanjangan tulang serta perkembangan jaringan otot.
Kondisi kekurangan istirahat ini akan memaksa tubuh untuk lebih banyak memproduksi hormon stres dibandingkan hormon pertumbuhan, sebuah ketidakseimbangan yang secara perlahan dapat menghambat efisiensi tubuh dalam mengolah nutrisi menjadi massa tulang dan otot.
Itulah ma, informasi mengenai tanda waktu tidur anak tidak teratur yang perlu Mama ketahui. Mari kita bersama menjaga kebutuhan istirahat yang cukup untuk anak.


















