Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

10 Cara agar Anak Mendengarkan Perkataan Orangtua, Jangan Memaksa!

10 Cara agar Anak Mendengarkan Perkataan Orangtua, Jangan Memaksa!
Freepik/freepik
Intinya Sih

  • Anak yang tampak tidak mendengarkan belum tentu sengaja membangkang; mereka mungkin sedang fokus, belum paham instruksi, atau perlu waktu memproses informasi.
  • Orangtua dianjurkan mendekat, memastikan perhatian, memberi instruksi singkat dan jelas, meminta anak mengulang arahan, serta memberi jeda untuk merespons.
  • Komunikasi efektif dibangun lewat pilihan terbatas, tindak lanjut tenang dan konsisten, kedekatan emosional, pujian, teladan mendengarkan, serta menghindari bentakan atau paksaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menghadapi anak yang seolah tidak mendengarkan perkataan orangtua sering kali menjadi tantangan sehari-hari. Tidak sedikit Mama dan Papa yang akhirnya meninggikan suara atau mengulang instruksi berkali-kali karena merasa anak mengabaikan apa yang disampaikan.

Padahal, tidak semua anak sengaja bersikap tidak patuh. Dalam banyak situasi, mereka bisa saja sedang fokus bermain, belum memahami instruksi dengan jelas, atau membutuhkan waktu untuk memproses informasi yang diterima.

Daripada memaksa anak untuk langsung menurut, orangtua bisa mencoba cara komunikasi yang lebih efektif. Berikut Popmama.com siap membahas beberapa cara agar anak mau mendengarkan perkataan orangtua tanpa harus dipaksa.

1. Pastikan perhatian anak sudah tertuju kepada Mama atau Papa

Pastikan perhatian anak sudah tertuju kepada Mama atau Papa
Magnific/jcomp

Sebelum memberikan instruksi, usahakan untuk mendapatkan perhatian anak terlebih dahulu. Memanggil anak dari ruangan lain sering kali kurang efektif karena suara orangtua bisa saja tidak benar-benar didengar atau diabaikan akibat anak sedang fokus melakukan aktivitas lain.

Sebaiknya dekati anak, sejajarkan posisi tubuh hingga setinggi matanya, lalu panggil namanya sebelum mulai berbicara. Kontak mata dan posisi yang sejajar membantu anak merasa diperhatikan, sehingga ia lebih siap mendengarkan apa yang akan disampaikan.

2. Berikan instruksi yang singkat dan mudah dipahami

Berikan instruksi yang singkat dan mudah dipahami
Unsplash/Birleşim Özel Eğitim Rehabilitasyon Merkezi

Anak akan lebih mudah mengikuti arahan apabila instruksi yang diberikan sederhana dan langsung pada intinya. Hindari memberikan penjelasan yang terlalu panjang karena hal tersebut justru bisa membuat anak bingung.

Misalnya, daripada mengatakan, "Mama sudah berkali-kali bilang supaya jangan taruh sepatu sembarangan karena nanti rumah jadi berantakan," cukup katakan, "Tolong simpan sepatumu di dekat pintu." Instruksi yang jelas akan lebih mudah dipahami sekaligus dilakukan oleh anak.

3. Pastikan anak benar-benar mendengar instruksi

Pastikan anak benar-benar mendengar instruksi
Unsplash/CDC

Terkadang orangtua mengira anak sengaja tidak mendengarkan, padahal sebenarnya ia sedang terlalu fokus pada permainan, tontonan, atau aktivitas yang sedang dilakukan.

Setelah memberikan arahan, cobalah bertanya, "Boleh ulangi apa yang tadi Mama bilang?" Cara ini membantu memastikan bahwa anak benar-benar mendengar sekaligus memahami instruksi yang diberikan sebelum mulai melakukannya.

4. Beri waktu bagi anak untuk merespons

Beri waktu bagi anak untuk merespons
Unsplash/Vitaly Gariev

Anak membutuhkan waktu untuk mengalihkan perhatian dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Mereka tidak selalu bisa langsung berhenti bermain dan segera melakukan apa yang diminta orangtua.

Karena itu, setelah memberikan instruksi, beri jeda selama beberapa detik. Hindari langsung mengulang perkataan berkali-kali. Kesabaran orangtua dalam menunggu respons anak dapat membantu mereka belajar memproses informasi dengan lebih baik.

5. Berikan pilihan yang tetap memiliki batasan

Berikan pilihan yang tetap memiliki batasan
Pexels/cottonbro studio

Memberikan pilihan sederhana bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi penolakan anak. Anak akan merasa memiliki kendali atas keputusan yang diambil tanpa harus mengabaikan aturan yang sudah ditetapkan orangtua.

Contohnya, Mama bisa bertanya, "Mau sikat gigi sebelum atau sesudah memakai piyama?" Kedua pilihan tetap mengarah pada tujuan yang sama, tetapi anak merasa ikut dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

6. Konsisten menindaklanjuti instruksi dengan tenang

Konsisten menindaklanjuti instruksi dengan tenang
Pexels/Ketut Subiyanto

Jika anak belum juga mulai melakukan apa yang diminta, hindari mengulang instruksi dengan nada yang semakin tinggi. Daripada terus memarahi, dekati anak dan bantu ia memulai tugas tersebut.

Sikap yang tenang dan konsisten justru lebih efektif dalam mengajarkan tanggung jawab. Anak belajar bahwa aturan tetap berlaku tanpa harus disampaikan melalui bentakan atau ancaman.

7. Bangun kedekatan sebelum mengoreksi perilaku anak

Bangun kedekatan sebelum mengoreksi perilaku anak
Pexels/Gustavo Fring

Anak cenderung lebih kooperatif ketika merasa memiliki hubungan emosional yang hangat dengan orangtuanya. Sebelum memberikan koreksi, cobalah membangun koneksi terlebih dahulu melalui sentuhan lembut, senyuman, atau mengajak berbicara sebentar.

Perhatian sederhana tersebut membuat anak merasa aman dan dihargai. Ketika hubungan emosional terjalin dengan baik, mereka biasanya lebih terbuka menerima arahan maupun koreksi dari orangtua.

8. Berikan pujian saat anak berhasil mendengarkan

Berikan pujian saat anak berhasil mendengarkan
Pexels/Ksenia Chernaya

Anak membutuhkan apresiasi ketika berhasil mengikuti arahan dengan baik. Pujian yang tulus dapat menjadi penguatan positif, sehingga mereka terdorong untuk mengulangi perilaku tersebut di kemudian hari.

Mama tidak harus memberikan hadiah setiap kali anak patuh. Kalimat sederhana seperti, "Terima kasih sudah langsung merapikan mainan," atau "Mama bangga karena kamu mau mendengarkan," sudah cukup membuat anak merasa dihargai dan lebih percaya diri.

9. Jadilah teladan dalam berkomunikasi

Jadilah teladan dalam berkomunikasi
Pexels/yan krukau

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orangtua juga perlu menunjukkan sikap mendengarkan ketika anak sedang berbicara.

Biasakan memberikan perhatian penuh, tidak memotong pembicaraan, dan merespons dengan tenang. Saat anak merasakan bahwa pendapatnya didengarkan, ia pun akan lebih mudah mencontoh kebiasaan tersebut ketika orangtua berbicara kepadanya

10. Hindari membentak atau memaksa anak

Hindari membentak atau memaksa anak
Pexels/Alena Darmel

Meninggikan suara memang terkadang membuat anak langsung diam sekaligus memperhatikan. Tetapi, cara ini tidak selalu membuat mereka memahami langsung mengenai alasan di balik suatu aturan.

Bahkan, bentakan yang terlalu sering justru dapat membuat anak merasa takut, cemas, atau semakin menolak bekerja sama. Sebaliknya, gunakan nada suara yang lembut tetapi tetap tegas.

Ketika orangtua mampu mengendalikan emosi, anak akan belajar bahwa komunikasi yang baik lebih efektif daripada kemarahan. Hubungan yang hangat dan saling menghargai juga akan membantu anak lebih mudah mendengarkan perkataan orangtuanya dalam jangka panjang.

Nah, itu dia beberapa cara agar anak mau mendengarkan perkataan orangtua tanpa harus dipaksa. Semoga bisa diterapkan, ya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More