Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Studi Terbaru: Gentle Parenting Dianggap Gagal, Kembali ke Parenting VOC?

Studi Terbaru: Gentle Parenting Dianggap Gagal, Kembali ke Parenting VOC?
Freepik
Intinya Sih
  • Studi terbaru menunjukkan banyak orangtua salah menerapkan gentle parenting hingga kehilangan batasan tegas, menyebabkan kelelahan mental dan hilangnya kontrol disiplin dalam keluarga.

  • Penelitian Pezalla dan Davidson (2024) menegaskan anak membutuhkan figur pemimpin yang tegas dengan batasan jelas agar tumbuh memiliki kendali diri, empati, serta moral yang kuat.

  • Pendekatan authoritative parenting dinilai paling efektif karena menggabungkan kasih sayang hangat dengan aturan konsisten, membantu si Kecil belajar tanggung jawab tanpa kehilangan rasa hormat terhadap otoritas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fenomena gentle parenting saat ini tengah menghadapi kritik tajam seiring dengan banyaknya kasus kegagalan parenting yang membuat si Kecil kehilangan kedisiplinan dan kendali diri. 

Banyak orangtua yang terjebak dalam pemahaman keliru dengan hanya mengadopsi aspek kelembutan serta kehangatan emosional namun secara fatal mengabaikan batasan struktural yang tegas antara orangtua dan si Kecil. 

Padahal tanpa adanya struktur yang kokoh maka kasih sayang yang diberikan justru akan menjerumuskan si Kecil ke dalam kebingungan moral serta ketidakmampuan meregulasi perilaku mereka sendiri di masa depan. 

Berikut Popmama.com rangkum analisis mendalam mengenai alasan mengapa gentle parenting dianggap gagal menurut studi.

Table of Content

1. Gentle parenting yang tidak jelas buat orangtua lelah

1. Gentle parenting yang tidak jelas buat orangtua lelah

Gentle parenting
Freepik

Beban mental yang harus ditanggung oleh orangtua di era digital ini menjadi semakin berat ketika mereka memaksakan diri untuk selalu tampil sempurna dan lembut tanpa memberikan batasan yang tegas bagi anak mereka. 

Mengutip data dari Pew Research Center (2023) yang dimuat dalam jurnal Pezalla dan Davidson (2024) dalam jurnal An Exploration of the Meaning of Gentle Parenting, dilaporkan bahwa 41% orangtua merasa parenting adalah hal yang sangat melelahkan dan 29% lainnya menyatakan stres sepanjang waktu akibat tuntutan parenting yang semakin kompleks dari waktu ke waktu. 

Kegagalan gentle parenting sering kali bermuara pada kondisi burnout yang dialami orangtua karena mereka terlalu fokus pada validasi emosi si Kecil hingga mengabaikan kesehatan mental mereka sendiri serta kehilangan kontrol atas kedisiplinan di rumah tangga. 

Kurangnya struktur yang jelas membuat orangtua harus terus-menerus melakukan negosiasi yang melelahkan setiap harinya sehingga energi mereka terkuras habis untuk hal-hal yang seharusnya sudah selesai dengan satu instruksi yang tegas. 

"70% of mothers and 60% of fathers acknowledged that being a parent today is more demanding than it was just a few decades ago." 

Kelelahan ini pada akhirnya akan menciptakan lingkungan rumah yang tidak sehat dan tidak efektif dalam membentuk karakter si Kecil karena orangtua tidak lagi memiliki kewibawaan yang cukup untuk membimbing anak mereka secara optimal.

2. Si Kecil butuh sosok pemimpin yang tegas

Anak tidak mau menurut pada Mama
Freepik

Kesalahan fundamental yang sering terjadi dalam praktik parenting modern adalah ketika orangtua memposisikan diri mereka sebagai teman sebaya atau mitra negosiasi yang setara bagi anak mereka. 

Secara psikologis anak yang sedang berkembang sangat membutuhkan figur pemimpin yang otoritatif untuk memotong segala kebisingan lingkungan serta memberikan arahan hidup yang sangat jelas dan tidak bias. 

Sebagaimana yang ditekankan dalam penelitian Pezalla dan Davidson (2024) bahwa pendekatan parenting akan bekerja paling efektif jika dikombinasikan dengan batasan yang sangat jelas. 

"The approach works best when combined with clear boundaries and consistent, loving follow-through, often referred to as authoritative parenting, rather than permissive leniency." 

Hal ini membuktikan bahwa anak sebenarnya tidak mencari teman untuk berdebat namun mereka mencari tempat untuk bersandar sekaligus menjadi kompas moral dalam berperilaku sehari-hari.

3. Orangtua terjebak dalam permissive parenting

Anak tidak mau menurut pada Mama
Freepik

Banyak orangtua yang merasa telah telah menerapkan gentle parenting padahal kenyataannya mereka sedang mempraktikkan permissive parenting yang sangat berbahaya bagi perkembangan karakter si Kecil. 

Kegagalan ini berakar pada kecenderungan orangtua yang hanya ingin mengambil sisi kehangatan emosional saja tanpa mau menanggung beban untuk menegakkan disiplin serta aturan yang bersifat struktural dan mengikat. 

Kondisi ini sering kali mengakibatkan si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang manipulatif dan selalu merasa harus memenangkan setiap argumen dengan orangtua mereka karena tidak pernah diajarkan tentang batasan yang absolut. 

Oleh karena itu sangat penting bagi orangtua untuk menyadari bahwa kelembutan tanpa adanya otoritas yang jelas hanyalah sebuah pembiaran yang akan merusak masa depan si Kecil karena mereka tidak memiliki kesiapan mental untuk menghadapi realitas kehidupan yang penuh dengan aturan sosial.

4. Batasan yang tidak jelas picu kecemasan si Kecil

Batasan atau boundaries
Freepik

Ketidakmampuan orangtua dalam menetapkan batasan yang konsisten seperti jadwal tidur yang tetap atau aturan penggunaan gadget yang ketat sering kali dianggap sebagai bentuk kebebasan padahal hal tersebut justru memicu kecemasan yang mendalam pada diri si Kecil. 

Si Kecil membutuhkan keteraturan dalam keseharian mereka agar dapat merasa tenang dan fokus pada proses pembelajaran mereka sendiri tanpa harus terus-menerus mencoba melanggar batas hanya untuk mencari tahu di mana otoritas orangtua mereka berada. 

Jika aturan yang diterapkan sering berubah-ubah mengikuti suasana hati orangtua maka si Kecil akan mengalami kebingungan yang luar biasa dan cenderung menjadi pembangkang karena menganggap aturan tersebut hanyalah sebuah saran yang bersifat opsional. 

Keluarga yang menerapkan aturan tegas dengan penuh kasih sayang justru memiliki hubungan yang jauh lebih stabil dan harmonis karena setiap anggota keluarga memahami hak serta kewajibannya masing-masing secara jelas. 

Dengan menjadi "tembok" yang stabil dan bukan "karet" yang melentur mengikuti keinginan si Kecil maka orangtua sebenarnya tengah memberikan perlindungan psikologis yang paling dibutuhkan oleh anak mereka agar tumbuh menjadi individu yang disiplin dan bertanggung jawab.

5. Kehangatan emosional tanpa batasan hilangkan empati si Kecil

Gentle parenting
Freepik/karlyukav

Inti dari kegagalan gentle parenting sering kali terletak pada ketidakseimbangan antara kehangatan yang diberikan dengan ketegasan batasan yang seharusnya menyertai pertumbuhan si Kecil dalam lingkungan keluarga yang sehat. 

Si Kecil yang terbiasa hidup tanpa aturan yang pasti akan mengalami kesulitan besar ketika mereka harus berhadapan dengan lingkungan luar yang memiliki aturan sosial yang jauh lebih kaku dan tidak memihak pada keinginan pribadi mereka. 

Pezalla dan Davidson (2024) memberi peringatan keras bahwa penerapan yang salah ini dapat memicu masalah perilaku yang serius.

"Gentle parenting can work to build strong bonds, emotional regulation, and empathy in children, but it is not a magical formula and is often misapplied as permissive parenting, which can create behavior issues." 

Parenting yang hanya mengandalkan kelembutan tanpa adanya kontrol otoritas akan membuat si Kecil merasa bahwa dunia berputar di sekitar keinginan mereka sehingga mereka gagal mengembangkan empati serta kemampuan untuk menunda kepuasan diri demi kepentingan bersama.

Si Kecil membutuhkan batasan untuk belajar bahwa perasaan mereka memang valid namun perilaku mereka tetap harus mengikuti etika dan aturan yang berlaku di dalam rumah maupun masyarakat. 

Jika orangtua membiarkan si Kecil memenangkan setiap argumen maka orangtua tersebut secara tidak sadar sedang menghambat kemampuan si Kecil untuk menghadapi kegagalan dan kekecewaan yang pasti akan mereka temui saat dewasa nanti di dunia kerja maupun kehidupan sosial yang sebenarnya.

6. Mengenal authoritative parenting

Authoritative parenting
Freepik

Gaya authoritative parenting muncul sebagai jawaban untuk mengatasi kegagalan gentle parenting yang sering kali terjebak dalam permissive parenting

Berbeda dengan pola asuh otoriter yang menuntut kepatuhan buta tanpa penjelasan atau pola asuh permisif yang membiarkan si Kecil tanpa kendali, authoritative parenting mengedepankan keseimbangan antara ekspektasi yang tinggi dengan dukungan emosional yang sangat hangat. 

Dalam pola ini orangtua tetap memegang kendali penuh sebagai otoritas tertinggi di rumah namun tetap membuka ruang dialog yang sehat agar si Kecil memahami landasan moral di balik setiap aturan yang ditetapkan oleh orangtua mereka. 

Sebagaimana ditegaskan dalam penelitian Pezalla dan Davidson (2024) bahwa keberhasilan pembentukan karakter si Kecil sangat bergantung pada batasan yang jelas dengan tindak lanjut yang konsisten.

"The approach works best when combined with clear boundaries and consistent, loving follow-through, often referred to as authoritative parenting, rather than permissive leniency." 

Dengan menerapkan gaya parenting ini maka Mama tidak sedang menekan kebebasan si Kecil melainkan sedang memberikan “kerangka kerja” yang stabil agar si Kecil mampu mengembangkan regulasi diri serta empati yang kuat tanpa kehilangan rasa hormat terhadap aturan sosial yang berlaku.

7. Langkah menerapkan authoritative parenting

Authoritative parenting
Freepik

Implementasi dari pola asuh authoritative menuntut Mama untuk memiliki keberanian dalam menetapkan batasan absolut yang disertai dengan penjelasan logis agar si Kecil belajar memahami konsekuensi dari setiap perbuatannya secara mandiri. 

  • Menyusun aturan rumah tangga yang tidak dapat dinegosiasikan terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan nilai moral kemudian mengomunikasikannya dengan nada bicara yang tenang namun penuh dengan ketegasan. 

  • Mama wajib melakukan apa yang disebut dalam jurnal Pezalla dan Davidson (2024) sebagai "consistent, loving follow-through" yang berarti setiap pelanggaran terhadap aturan yang telah disepakati harus diikuti dengan konsekuensi logis yang nyata tanpa harus melibatkan kekerasan fisik maupun kata-kata yang menyakitkan hati si Kecil. 

  • Berikan validasi terhadap emosi si Kecilsaat mereka merasa kecewa atau marah terhadap sebuah aturan namun jangan pernah melunakkan batasan tersebut hanya karena ingin menghindari konflik sesaat atau tangisan dari si Kecil di rumah. 

  • Berikan alasan di balik setiap instruksi dan tetap konsisten dalam menegakkan disiplin maka Mama sedang melatih si Kecil untuk berpikir kritis sekaligus menghargai otoritas yang ada di sekitar mereka. Proses ini akan membentuk si Kecil menjadi pribadi yang tangguh karena mereka terbiasa hidup dalam sistem yang adil di mana kasih sayang dan ketegasan berjalan beriringan.

Keberhasilan dalam mendidik si Kecil tidak hanya diukur dari seberapa lembut Mama berbicara tetapi dari seberapa konsisten Mama menjaga batasan yang telah ditetapkan.

Sudahkah Mama memposisikan diri sebagai pemimpin yang kokoh dan konsisten bagi pertumbuhan karakter si Kecil hari ini?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More