Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Balik Setelan Leopard Timnas Kongo yang Ikonik untuk Piala Dunia
Instagram.com/alvin_jmak
  • Republik Demokratik Kongo kembali ke Piala Dunia setelah lebih dari 50 tahun, mencuri perhatian lewat gaya busana rancangan desainer Alvin Mak dan hasil imbang bersejarah melawan Portugal.
  • Setelan ‘Moniama’ karya Alvin Mak terinspirasi budaya Sapeur, menampilkan motif macan tutul, detail beludru, serta aksesori simbolik yang memadukan tradisi dan estetika modern.
  • Motif macan tutul menjadi simbol kekuatan dan kehormatan dalam koleksi ini, merepresentasikan semangat budaya Kongo sekaligus kebanggaan nasional di panggung sepak bola dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah menanti lebih dari 50 tahun, Republik Demokratik Kongo akhirnya kembali merasakan atmosfer Piala Dunia. Namun, comeback mereka ke turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia ini tidak hanya ditandai oleh ambisi di atas lapangan, tetapi juga penampilan yang sukses mencuri perhatian.

Ketika skuad RD Kongo mendarat di Houston untuk penampilan pertama mereka sejak 1974, sorotan publik langsung tertuju pada gaya busana para pemain. Jauh dari pilihan rumah mode mewah yang biasa mendominasi panggung sepak bola internasional, mereka tampil mengenakan rancangan desainer asal Kongo yang berbasis di Paris, Alvin Mak. 

Namun, kisah RD Kongo di Piala Dunia tak berhenti pada urusan gaya. Dalam pertandingan melawan Portugal, Yoane Wissa mencatatkan namanya dalam sejarah dengan mencetak gol pertama negaranya di ajang tersebut dan membantu tim meraih hasil imbang 1-1. 

Setelah berhasil menarik perhatian dunia lewat perpaduan mode dan prestasi, RD Kongo kini menatap laga berikutnya menghadapi Kolombia dengan kepercayaan diri yang semakin besar.

Penasaran dengan penampilan negara yang menimbulkan banyak pembicaraan ini? Berikut, Popmama.com bagikan di balik setelan leopard timnas Kongo yang ikonik untuk Piala Dunia.

1. Nama dibalik setelan ikonik timnas Kongo

Instagram.com/jmakxparis

Nama dibalik setelan ikonik timas Kongo adalah Alvin Mak. Ia turut hadir untuk menyaksikan momen timnas Kongo melawan Portugal, secara langsung. Mak bergabung dengan sekelompok pendukung Kongo yang sederhana namun penuh semangat–banyak di antara mereka adalah anggota diaspora–di tribun. 

Dalam perjalanan pertamanya ke Amerika Serikat, sang desainer tetap setia pada estetika khasnya. Ia tiba dengan kemeja bermotif macan tutul yang dihiasi bros berbentuk kucing.

Setelah pindah dari Kongo ke Paris pada usia 11 tahun, Mak telah lama menyadari bagaimana persepsi internasional tentang negaranya sering dibentuk oleh berita utama tentang konflik, ketidakstabilan, dan penyakit. Melalui mode, ia bertekad untuk menceritakan kisah yang berbeda–kisah yang merayakan kreativitas, keahlian, dan kekayaan budaya Kongo. 

Ambisinya meluas melampaui estetika, bertujuan untuk menciptakan peluang bagi pengrajin lokal dan menyoroti bakat yang ada di seluruh negeri. Mewujudkan visi tersebut bukanlah tugas yang mudah: memproduksi 55 setelan khusus untuk tim nasional dan staf pelatih membutuhkan upaya dari studio Mak di Paris yang beranggotakan tiga orang, bersama dengan jaringan pengrajin dan seniman di Kongo yang membantu menyelesaikan proyek tersebut.

2. Tampilan ikonik 

Instagram.com/alvin_jmak

Tampilan ikonik timnas Kongo mengambil inspirasi dari budaya “Sapeur”, yaitu kelompok dandy kelas pekerja yang dikenal lewat gaya berpakaian yang rapi dan penuh ekspresi. 

Dikenal sebagai setelan “Moniama”, desain ini dibuat dari sutra krep yang lembut dan dirancang dengan siluet double-breasted, penutup kancing tunggal, bahu yang bersudut tajam, dan pinggang yang sedikit terdefinisi. Kerah trompe-l’oeil khas Mak dipadukan dengan panel beludru motif macan tutul, menggabungkan referensi budaya dengan keahlian menjahit yang presisi. Bros leopard turut membuat tampilan setiap pemain semakin menawan dan mewah.

Busana tim disempurnakan dengan tas berbentuk bintang yang melambangkan aspirasi Kongo di turnamen tersebut. Dengan menggabungkan tikar tenun tangan buatan pengrajin Afrika, aksesori ini menafsirkan kembali teknik tenun tradisional melalui lensa geometris kontemporer.

3. Simbol macan tutul

Instagram.com/alvin_jmak

Koleksi PIala Dunia RD Kongo sarat dengan simbolisme budaya Kongo, lewat motif macan tutul yang muncul sebagai salah satu motif utamanya. Lebih dari sekadar pola dekoratif, macan tutul memiliki makna mendalam di seluruh negeri, mewakili kekuatan, ketahanan, keberanian, dan kehormatan. 

Seperti yang dijelaskan oleh desainer Mak, hewan ini berfungsi sebagai lambang yang kuat di seluruh institusi, komunitas, dan kelompok etnis Kongo, menjadikannya titik awal alami untuk narasi visual koleksi ini. 

4. Teknik penjahitan La Sape

Instagram.com/alvin_jmak

Sementara itu, penjahitannya mengambil inspirasi dari La Sape–singkatan dari Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes–gerakan Kongo terkenal yang dipuji karena setelannya yang rapi dan penggunaan warna yang berani. Telah lama dikaitkan dengan kebanggaan pribadi, ambisi, dan ekspresi diri, La Sape telah menjadi simbol budaya tersendiri. 

Mak menghidupkan kembali berbagai elemen dengan sentuhan gaya atletik modern, lalu menerapkannya ke dalam koleksi yang dibuat untuk generasi atlet masa kini. Melalui desain ini, ia ingin menghadirkan semangat ambisi, kepercayaan diri, dan kebebasan berekspresi yang menjadi ciri gerakan tersebut. “Ini mencerminkan pola pikir ambisi dan ekspresi diri,” ujar Mak–sebuah nilai yang menjadi fondasi utama koleksi ini.

5. Jalan Mak menuju dunia mode

Instagram.com/alvin_jmak

Jalan Mak menuju dunia mode tidak seperti kebanyakan orang. Belajar secara otodidak melalui tutorial YouTube, ia menghabiskan bertahun-tahun bekerja di bidang penjualan untuk merek-merek mewah dan kontemporer sebelum meluncurkan ide-ide kreatifnya sendiri hampir satu dekade lalu.

Kolaborasinya dengan tim sepak bola nasional Kongo dimulai pada Piala Afrika 2025, di mana ia mendesain kemeja bermotif macan tutul dengan detail kepang di bahu. Menjelang Piala Dunia, ia mengusulkan desain ulang pakaian lengkap kepada Kementerian Olahraga, yang menyebabkan berbulan-bulan proses fitting dan penyempurnaan untuk para pemain.

Proyek ini sangat bermakna bagi Mak, yang pernah bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional sebelum cedera mengubah jalan hidupnya. Melalui mode, ia telah menemukan cara baru untuk tetap terhubung dengan olahraga yang dicintainya sejak kecil.

Itulah, di balik setelan leopard timnas Kongo yang ikonik untuk Piala Dunia. Tampilan timnas Kongo pastikan setiap anggota tampil penuh percaya diri, bahkan sebelum masuk lapangan.

Editorial Team

Related Article