TB atau tuberkulosis selama ini identik dengan penyakit paru-paru. Tapi tahukah kamu, bakteri penyebab TB juga bisa menyerang usus dan sistem pencernaan? Kondisi ini dikenal sebagai TB usus, dan jauh lebih berbahaya daripada yang banyak orang bayangkan.
Apa Itu TB Usus? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

- TB usus adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang saluran pencernaan, sering terkait dengan TB paru dan umum terjadi di negara berkembang.
- Gejalanya tidak spesifik seperti nyeri perut, diare berkepanjangan, penurunan berat badan, demam ringan, serta kelelahan sehingga diagnosis sering terlambat.
- Pengobatan utama menggunakan obat antituberkulosis selama 6–9 bulan disertai dukungan nutrisi, sementara operasi dilakukan bila muncul komplikasi seperti penyumbatan atau perforasi usus.
Gejalanya yang tidak khas dan sering mirip dengan penyakit pencernaan lain membuat TB usus kerap terlewat dan terlambat ditangani, yang dapat berakibat fatal bagi tubuh.
Supaya tidak salah penanganan dan tindakan, berikut Popmama.com membahas mengenai apa itu TB usus? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian TB Usus

TB usus, atau dalam istilah medis disebut intestinal tuberculosis (ITB), adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang saluran pencernaan, terutama bagian ileosekum yaitu pertemuan antara usus halus dan usus besar.
Mengutip dari Vinmec International Hospital, TB usus termasuk penyakit yang umum ditemukan di negara-negara berkembang dan sering kali dikaitkan dengan TB paru yang sudah ada sebelumnya.
Penyakit ini bisa bersifat primer maupun sekunder. TB usus primer sangat jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh bakteri TB dari sapi yang masuk ke tubuh melalui susu yang tidak dipasteurisasi.
Sementara itu, TB usus sekunder jauh lebih sering ditemui, terjadi ketika pasien menelan dahak yang mengandung bakteri TB, misalnya pada penderita TB paru.
Bakteri ini kemudian menetap di usus dan dapat menyebar ke aliran darah atau saluran empedu. Kelompok yang paling sering terkena TB usus adalah mereka yang berusia 30–55 tahun, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi pada usia lain.
Gejala TB Usus

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani TB usus adalah gejalanya yang tidak spesifik. Mengutip dari Medicover Hospitals, gejala TB usus kerap menyerupai kondisi pencernaan lain seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau penyakit Crohn, sehingga diagnosis sering terlambat.
Berikut gejala umum yang perlu kamu waspadai:
- Nyeri perut: Biasanya terasa di bagian kanan bawah perut dan bisa menyerupai gejala usus buntu. Kadang disertai kram atau rasa perut bergemuruh.
- Diare berkepanjangan: Berlangsung dalam waktu lama dan kadang disertai darah.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas: Terjadi akibat gangguan penyerapan nutrisi dan berkurangnya nafsu makan.
- Demam ringan yang menetap: Biasanya demam tidak terlalu tinggi, tapi berlangsung terus-menerus.
- Kelelahan dan keringat malam: Gejala sistemik yang juga khas pada TB secara umum.
- Sembelit: Pada beberapa kasus, peradangan usus menyebabkan hambatan pada saluran cerna sehingga buang air besar menjadi sulit.
Penyebab TB Usus

Penyebab utama TB usus adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri yang sama dengan penyebab TB paru.
Mengutip dari Medicover Hospitals, infeksi terjadi saat bakteri ini tertelan, baik dari dahak penderita TB paru, maupun dari makanan dan air yang terkontaminasi. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena TB usus, di antaranya:
- Sistem imun yang lemah: Penderita HIV/AIDS, orang yang menjalani kemoterapi, atau mereka yang mengonsumsi obat-obatan imunosupresan memiliki risiko lebih tinggi.
- Malnutrisi: Kekurangan gizi melemahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri.
- Riwayat TB sebelumnya: Terutama TB paru yang tidak tuntas diobati, sehingga bakteri menyebar ke organ lain, termasuk usus.
- Kondisi lingkungan: Tempat tinggal yang padat dan tidak higienis mempermudah penularan bakteri TB.
- Penyakit penyerta: Diabetes, kanker, dan kondisi tertentu lainnya juga bisa memperburuk risiko infeksi.
Bagaimana TB Usus Didiagnosis?

Mengutip dari Medicover Hospitals, berikut metode yang umum digunakan:
Pemeriksaan pencitraan:
- CT Scan: Membantu memvisualisasikan kondisi usus secara detail, termasuk penebalan dinding usus dan pembengkakan kelenjar getah bening.
- Endoskopi: Dokter memasukkan kamera kecil untuk melihat langsung bagian dalam usus dan mengambil sampel jaringan (biopsi).
Pemeriksaan laboratorium:
- Histopatologi: Sampel biopsi diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari granuloma, yaitu kumpulan sel yang menjadi penanda khas infeksi TB.
- PCR (Polymerase Chain Reaction): Tes yang mengidentifikasi materi genetik bakteri dari sampel jaringan usus, memberikan hasil yang lebih akurat.
- Kultur feses: Meski jarang, kadang bakteri bisa terdeteksi melalui pemeriksaan tinja.
Perawatan dan Penyembuhan TB Usus

Mengutip dari Medicover Hospitals, pengobatan utama TB usus menggunakan regimen obat antituberkulosis (OAT) yang mirip dengan pengobatan TB paru, biasanya berlangsung selama 6–9 bulan.
Kombinasi obat yang digunakan antara lain:
- Isoniazid
- Rifampisin
- Etambutol
- Pirazinamid
Selain obat-obatan utama ini, dokter juga bisa memberikan terapi pendukung, seperti:
- Kortikosteroid: Untuk mengurangi peradangan pada kasus yang parah.
- Dukungan nutrisi: Perbaikan asupan gizi sangat penting karena penderita TB usus umumnya mengalami malnutrisi. Mengutip dari Vinmec, penderita disarankan mengonsumsi makanan yang mudah dicerna, lunak, cukup cairan, dan memperbanyak sayuran hijau untuk mendukung pemulihan sistem pencernaan.
- Operasi: Dilakukan apabila terjadi komplikasi seperti penyumbatan usus atau perforasi yang tidak bisa diatasi dengan obat-obatan saja.
Komplikasi TB Usus jika Tidak Ditangani

Mengutip dari Medicover Hospitals, berikut adalah komplikasi serius yang bisa terjadi:
- Obstruksi usus (penyumbatan usus): Peradangan kronis menyebabkan penyempitan atau penyumbatan pada saluran cerna. Kondisi ini membutuhkan penanganan darurat, termasuk kemungkinan operasi.
- Perforasi usus dan peritonitis: Dinding usus yang berlubang akibat infeksi parah dapat menyebabkan isi usus masuk ke rongga perut, memicu infeksi selaput perut (peritonitis) yang sangat berbahaya.
- Striktur usus: Jaringan parut akibat infeksi menyebabkan penyempitan permanen pada usus.
- Fistula: Terbentuknya saluran abnormal antara usus dengan organ lain atau kulit di sekitarnya.
- TB resisten obat: Pengobatan yang tidak tuntas bisa membuat bakteri bermutasi dan kebal terhadap obat-obatan standar.
Nah, itulah pembahasan terkait apa itu TB usus. Semoga bermanfaat!


















