Asal Usul Rujak Juhi, Sajian Legendaris dari Betawi

Rujak juhi berasal dari tradisi rujak Nusantara yang berkembang di wilayah Batavia, dengan penyesuaian bahan dan rasa sesuai kondisi sosial masyarakat Betawi.
Pengaruh budaya Tionghoa terlihat dari penggunaan juhi, mi, toge, dan teknik pengolahan saus kacang yang lebih gurih dalam rujak juhi.
Rujak juhi berkembang dari hidangan trotok menjadi kuliner ikonik Betawi yang merekam sejarah sosial dan budaya Jakarta serta masyarakatnya.
Rujak juhi dikenal sebagai salah satu kuliner khas Betawi yang memiliki cita rasa unik dan berbeda dari rujak pada umumnya. Hidangan ini memadukan sayuran segar, mi, serta juhi atau cumi kering, yang kemudian disiram saus kacang bercita rasa gurih pedas.
Berbeda dengan rujak buah yang identik dengan rasa manis dan asam, rujak juhi justru menghadirkan rasa gurih yang kompleks. Perpaduan tekstur renyah, kenyal, dan segar menjadikannya hidangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga kaya cerita budaya.
Berikut Popmama.com rangkum asal usul rujak juhi khas Betawi dan bagaimana hidangan ini berkembang hingga dikenal luas seperti sekarang.
Table of Content
Berawal dari Tradisi Rujak Nusantara

Rujak sebenarnya telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan tercatat dalam prasasti Jawa Kuno sekitar abad ke-10. Istilah rujak merujuk pada makanan yang dipotong kecil-kecil lalu disajikan dengan bumbu bercita rasa kuat.
Seiring penyebaran budaya Jawa dan Sunda, tradisi rujak ikut berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Batavia. Di wilayah inilah rujak kemudian mengalami penyesuaian bahan dan rasa sesuai dengan kondisi sosial masyarakat setempat.
Masyarakat Betawi yang terbentuk dari berbagai latar belakang budaya pun mengadaptasi rujak menjadi hidangan khas mereka. Dari sinilah rujak Betawi mulai memiliki ciri berbeda dibanding rujak daerah lain.
Pengaruh Budaya Tionghoa dalam Rujak Juhi

Nama juhi sendiri berasal dari sebutan komunitas Tionghoa untuk cumi-cumi yang diawetkan dengan cara dikeringkan. Bahan ini kemudian menjadi ciri utama rujak juhi dan membedakannya dari jenis rujak lainnya.
Selain juhi, pengaruh Tionghoa juga terlihat dari penggunaan mi, toge, dan teknik pengolahan saus kacang yang lebih gurih. Interaksi budaya ini terjadi secara alami melalui kehidupan sehari-hari masyarakat Batavia tempo dulu.
Akulturasi antara budaya Betawi dan Tionghoa inilah yang melahirkan rujak juhi sebagai kuliner khas, bukan milik satu budaya saja, melainkan hasil percampuran yang harmonis.
Dari Jajanan Gerobak hingga Kuliner Ikonik

Sebelum dikenal luas, rujak juhi dipercaya berkembang dari hidangan Betawi bernama trotok. Sajian ini dijajakan menggunakan gerobak dan biasa dikonsumsi sebagai makanan ringan hingga pengganjal lapar.
Dalam catatan kuliner lama, rujak juhi sudah dikenal setidaknya sejak tahun 1960-an. Saat itu, hidangan ini kerap disantap bersama minuman hangat saat bersantai, terutama di kawasan Pecinan Jakarta.
Seiring waktu, rujak juhi tidak lagi terbatas pada komunitas tertentu. Hidangan ini kini menjadi bagian dari identitas kuliner Betawi yang dikenal dan digemari oleh masyarakat luas.
Rujak Juhi sebagai Warisan Kuliner Betawi

Hingga kini, rujak juhi masih bisa ditemukan di berbagai sudut Jakarta, baik di pasar tradisional maupun pusat kuliner khas Betawi. Resepnya pun relatif bertahan, meski beberapa penjual menyesuaikan rasa dengan selera modern.
Keberadaan rujak juhi menjadi bukti bahwa kuliner mampu merekam sejarah sosial dan budaya sebuah kota. Setiap bahan dan cita rasanya menyimpan cerita tentang perjumpaan antarbudaya.
Melestarikan rujak juhi berarti juga menjaga ingatan kolektif tentang Jakarta dan masyarakat Betawi yang tumbuh dalam keberagaman.
Rujak juhi bukan sekadar makanan tradisional, melainkan simbol akulturasi budaya yang membentuk identitas Betawi. Perpaduan rujak Nusantara dan pengaruh Tionghoa melahirkan hidangan khas yang bertahan lintas generasi.
Di tengah gempuran kuliner modern, keberadaan rujak juhi menjadi pengingat bahwa makanan tradisional memiliki nilai sejarah dan budaya yang tak tergantikan. Rasanya boleh sederhana, tetapi ceritanya panjang dan bermakna.
Nah, itulah kisah menarik dan asal usul rujak juhi, sajian legendaris khas Betawi.
Yuk, Mama coba sendiri rujak juhi di rumah atau mampir ke penjual tradisional, biar bisa merasakan langsung sensasi asam, manis, dan gurih yang bikin nagih sambil mengenal warisan kuliner Betawi!
FAQ Seputar Rujak Juhi
| Apakah rujak juhi pedas? | Tingkat kepedasan bisa disesuaikan. Secara umum, rujak juhi tidak terlalu pedas, namun cabai bisa ditambahkan sesuai selera. |
| Apakah rujak juhi bisa disimpan untuk beberapa jam? | Bisa, namun sebaiknya dikonsumsi segera. Jika disimpan terlalu lama, juhi bisa menjadi keras dan sayuran kehilangan kesegarannya. |
| Kapan waktu terbaik menikmati rujak juhi? | Rujak juhi cocok disantap siang hingga sore hari sebagai camilan berat atau makanan ringan yang menyegarkan. |










-KOqfsYU9JzJm3o1UuqGaJBKtRplhVBco.jpg)







