Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Jangan Asal Percaya “Approved by”, Dokter Kulit Ingatkan Pentingnya Edukasi secara Sains

Jangan Asal Percaya “Approved by”, Dokter Kulit Ingatkan Pentingnya Edukasi secara Sains
ilustrasi produk skincare (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Tren skincare viral dan label 'approved by influencer' membuat banyak orang membeli produk tanpa memahami kecocokan kulit atau dasar ilmiahnya.
  • Dokter kulit kini berperan sebagai jembatan antara ilmu dermatologi dan masyarakat, membantu meluruskan informasi skincare berbasis riset ilmiah.
  • Gerakan ISISPHARMA Dermfluencer Movement mendorong tenaga medis aktif di media sosial untuk menghadirkan edukasi kredibel agar masyarakat lebih kritis memilih skincare.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Media sosial memang memudahkan kita mencari rekomendasi skincare. Mulai dari review tekstur, before-after, sampai produk yang disebut “approved” oleh influencer favorit sering kali langsung membuat banyak orang tertarik membeli.

Namun di balik tren tersebut, dokter kulit menilai masyarakat masih sering mengabaikan edukasi berbasis ilmiah. Padahal, skincare yang cocok di satu orang belum tentu aman untuk kulit orang lain.

Melihat fenomena ini, ISISPHARMA bersama Regenesis Indonesia menghadirkan workshop “ISISPHARMA Dermfluencer Movement: Influence with Impact” di Jakarta pada Minggu (24/5/2026).

Acara ini menjadi gerakan baru yang mengajak dokter kulit lebih aktif memberikan edukasi digital yang kredibel lewat media sosial.

Berikut ini Popmama.com ulas pendapat mengenai pentingnya edukasi soal kesehatan kulit yang perlu didapatkan dari ahlinya.

Table of Content

1. Masyarakat sekarang lebih percaya skincare yang viral

1. Masyarakat sekarang lebih percaya skincare yang viral

ilustrasi skincare routine.
ilustrasi skincare routine (pexels.com/SHVETS production)

Fenomena “approved by influencer” kini menjadi salah satu faktor terbesar masyarakat memilih skincare. Bahkan, banyak pasien datang ke dokter sambil menanyakan apakah suatu produk sudah dipakai influencer tertentu atau belum.

dr. Hafiza Fikri mengatakan tren ini memang sulit dihindari karena media sosial membuat orang merasa lebih dekat dengan influencer dibanding edukasi medis.

“Public cuma tahunya approved by A atau approved by B,” jelas dr. Hafiza saat ditemui dalam bincang santai dengan media bertajuk ISISPHARMA Dermfluencer Movement Jadi Gebrakan Baru Edukasi Digital Dermatologi di Indonesia, pada Sabtu (23/5/2026) di Dailah Resto, Jakarta.

Padahal menurutnya, rekomendasi skincare seharusnya tidak hanya berdasarkan viral atau review semata, tetapi juga harus melihat kandungan, kondisi kulit, hingga penelitian ilmiahnya.

2. Dokter kulit kini punya tugas jadi “jembatan” edukasi

20260524_173332_0000.png
Popmama.com/Onic Metheany

Di tengah banjir informasi digital, dokter kulit kini tidak hanya bertugas menangani pasien di klinik, tetapi juga membantu masyarakat memahami informasi skincare yang benar.

Menurut dr. Hafiza, tenaga medis saat ini berperan sebagai jembatan antara science dan public understanding.

“Yang penting itu culture untuk edukasi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam dunia medis ada hirarki ilmiah untuk menentukan apakah sebuah informasi bisa dipercaya atau tidak. Mulai dari systematic study, randomized controlled trial (RCT), hingga evidence-based research menjadi dasar sebelum suatu produk direkomendasikan.

Namun sayangnya, konsep ini belum banyak dipahami masyarakat umum.

3. Media sosial dinilai bisa jadi tempat edukasi, bukan cuma branding

20260524_173435_0000.png
Popmama.com/Onic Metheany

President Director Regenesis Indonesia, Emmy Noviawati mengatakan Dermfluencer Movement hadir bukan karena sekadar mengikuti tren media sosial.

Menurut Emmy, Regenesis memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan edukasi yang tepat saat membawa produk dermatologi ke Indonesia.

“Media sosial sekarang bukan hanya media untuk branding, tetapi juga media untuk edukasi,” ujarnya.

Karena itu, Regenesis menggandeng dokter spesialis kulit, plastic surgeon, hingga tenaga medis yang memang nyaman memberikan edukasi di media sosial agar informasi yang diterima masyarakat tetap sesuai dasar ilmiah.

4. Tidak semua dokter nyaman tampil di media sosial

thedoctorweighsin.com
thedoctorweighsin.com

Meski edukasi digital semakin penting, Emmy mengakui tidak semua dokter nyaman aktif di media sosial.

“Bukan tidak memiliki kapasitas, tapi tidak semua dokter nyaman berada di sosial media,” jelasnya.

Karena itu, kolaborasi dengan dermfluencer dianggap menjadi solusi agar edukasi kesehatan kulit tetap bisa tersampaikan dengan bahasa yang lebih ringan dan mudah dimengerti masyarakat.

Workshop ini juga menghadirkan pembicara seperti Idrianti Idrus yang membahas personal branding tenaga medis, hingga Victoria Wong yang membagikan strategi membuat konten digital yang impactful sesuai standar promosi kesehatan Kemenkes RI.

5. Harapannya masyarakat lebih kritis memilih skincare

20260524_173239_0000.png
Popmama.com/Onic Metheany

Melalui gerakan ini, ISISPHARMA berharap masyarakat tidak lagi hanya mengikuti skincare viral tanpa memahami kebutuhan kulitnya sendiri.

Owner ISISPHARMA, Gregoire Dewavrin mengatakan pihaknya ingin membantu dokter membangun edukasi digital yang lebih kredibel.

Through the Dermfluencer Movement, we aim to empower dermatologists to share their expertise digitally,” ujar Gregoire.

Lewat edukasi yang lebih mudah dipahami, masyarakat diharapkan mulai terbiasa memilih skincare berdasarkan kebutuhan kulit dan evidence-based information, bukan sekadar karena sedang viral di media sosial.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More