Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

9 Cara Cek Autoimun, Kenali Gejalanya Sejak Dini

9 Cara Cek Autoimun, Kenali Gejalanya Sejak Dini
Pexels/https://kaboompics.com/
  • Gejala autoimun, seperti mudah lelah, nyeri sendi, dan ruam kulit, sering menyerupai penyakit lain sehingga diagnosis dapat memakan waktu dan melibatkan beberapa dokter.
  • Pemeriksaan pencitraan meliputi rontgen untuk tulang dan sendi, MRI untuk jaringan lunak, serta CT-scan untuk melihat dampak peradangan pada organ dalam.
  • Tes darah CRP, ESR, ANA, anti-CCP, RF, dan ferritin membantu mendeteksi peradangan atau antibodi, tetapi diagnosis perlu dikaitkan dengan gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Buat sebagian orang, gejala autoimun sering terasa membingungkan karena mirip dengan banyak penyakit lain, mulai dari mudah lelah, nyeri sendi, hingga ruam kulit yang datang dan pergi begitu saja. 

Karena gejalanya tidak begitu jelas dan mudah tertukar dengan kondisi lain, proses mendiagnosis autoimun pun bisa memakan waktu lama dan melibatkan lebih dari satu dokter.

Nah, supaya kamu tidak makin bingung saat berkonsultasi ke dokter nanti, berikut Popmama.com sudah merangkum 9 cara cek autoimun yang biasa dipakai tenaga medis. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Rontgen (X-Ray)

    Rontgen (X-Ray)
    Pexels/cottonbro studio

    Rontgen atau X-ray menjadi salah satu pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan untuk melihat kondisi tulang dan sendi. Melansir Cleveland Clinic, X-ray termasuk salah satu tes pencitraan yang biasa direkomendasikan dokter ketika mendiagnosis penyakit autoimun.

    Dikutip dari Global Autoimmune Institute, pada beberapa kasus, diagnosis autoimun bahkan bisa langsung ditegakkan hanya berdasarkan hasil rontgen saja. Biasanya ini terjadi jika kerusakan pada sendi sudah cukup terlihat jelas pada gambar X-ray.

  2. 2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

    MRI (Magnetic Resonance Imaging)
    Halodoc

    Kalau X-ray lebih fokus pada tulang, MRI justru unggul dalam menampilkan gambar jaringan lunak seperti otot, saraf, dan tulang rawan secara lebih detail. Menurut Cleveland Clinic, MRI juga masuk dalam daftar pencitraan yang direkomendasikan untuk mendiagnosis penyakit autoimun.

    Pemeriksaan ini biasanya dipilih jika dokter mencurigai terdapat peradangan atau kerusakan pada bagian tubuh yang tidak terlihat jelas melalui rontgen biasa. Meski prosesnya membutuhkan waktu lebih lama, hasil MRI dapat memberikan gambaran yang jauh lebih detail.

  3. 3. CT-Scan (Computed Tomography Scan)

    CT-Scan (Computed Tomography Scan)
    Wikimedia Commons/Goleisureintl

    CT-scan menggabungkan beberapa gambar X-ray dari berbagai sudut untuk menghasilkan potongan gambar tubuh yang lebih detail. Dilansir dari Cleveland Clinic, CT-scan adalah salah satu tes pencitraan yang lazim dipakai dalam proses diagnosis autoimun.

    Pemeriksaan ini kerap digunakan buat melihat kondisi organ dalam, seperti paru-paru atau saluran pencernaan, yang mungkin terdampak akibat peradangan autoimun. Hasilnya bisa membantu dokter menentukan seberapa jauh penyakit sudah memengaruhi tubuh kamu.

  4. 4. Tes CRP (C-Reactive Protein)

    Tes CRP (C-Reactive Protein)
    Halodoc

    Tes CRP mengukur kadar protein yang diproduksi hati saat tubuh kamu sedang mengalami peradangan. Dikutip dari Global Autoimmune Institute, tes C-reactive protein dengan sensitivitas tinggi atau hs-CRP menjadi salah satu tes skrining awal yang sering digunakan untuk mendeteksi kemungkinan autoimun.

    Kalau hasilnya menunjukkan angka yang tinggi, itu tandanya ada peradangan di dalam tubuh, meski belum tentu spesifik mengarah ke satu penyakit autoimun tertentu. Biasanya dokter akan melanjutkan dengan tes lain untuk memastikan penyebabnya.

  5. 5. Tes ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate)

    Tes ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate)
    Wikimedia Commons/Rouibi Dhia Eddine Nadjm

    Mirip dengan CRP, tes ESR atau laju endap darah juga digunakan untuk mengukur tingkat peradangan dalam tubuh. Dikutip dari Global Autoimmune Institute, tes ESR menjadi salah satu pemeriksaan skrining yang umum dilakukan pada awal proses diagnosis autoimun.

    Tes ini bekerja dengan mengukur seberapa cepat sel darah merah mengendap di dasar tabung dalam rentang waktu 1 jam. Semakin cepat mengendap, biasanya semakin tinggi juga tingkat peradangan yang terjadi di tubuh kamu.

  6. 6. Tes ANA (Antinuclear Antibody)

    Tes ANA (Antinuclear Antibody)
    Alodokter

    Tes ANA dipakai buat mendeteksi keberadaan antibodi yang tidak sengaja menyerang inti sel tubuh sendiri. Menurut Global Autoimmune Institute, tes Antinuclear Antibody termasuk salah satu tes skrining utama yang kerap menunjukkan hasil tinggi pada orang dengan kecenderungan autoimun.

    Perlu diingat, hasil ANA yang positif belum tentu langsung memastikan kamu punya penyakit autoimun tertentu. Melansir Autoimmune Association, diagnosis autoimun biasanya baru dapat diberlakukan usai dokter menelusuri hasil lab bersama riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

  7. 7. Tes Anti-CCP (Anti-Cyclic Citrullinated Peptide)

    Tes Anti-CCP (Anti-Cyclic Citrullinated Peptide)
    Alomedika

    Kalau tes-tes sebelumnya menunjukkan hasil yang mencurigakan, dokter biasanya bakal melanjutkan dengan tes yang lebih spesifik untuk menemukan jenis antibodi tertentu, salah satunya anti-CCP.

    Melansir Global Autoimmune Institute, setelah tes skrining awal positif, tes lanjutan memang diperlukan untuk mengidentifikasi antibodi spesifik yang menjadi biang keladinya.

    Tes anti-CCP sendiri umumnya digunakan untuk membantu memastikan diagnosis radang sendi atau rheumatoid arthritis. Semakin dini antibodi ini terdeteksi, semakin cepat pula penanganan bisa mulai dilakukan.

  8. 8. Tes RF (Rheumatoid Factor)

    Tes RF (Rheumatoid Factor)
    Halodoc

    Selain anti-CCP, tes RF atau rheumatoid factor juga sering digunakan berdampingan untuk mendukung diagnosis radang sendi autoimun.

    Tes ini termasuk kelompok pemeriksaan antibodi spesifik yang biasa dilakukan setelah hasil skrining awal seperti ANA atau CRP menunjukkan kecurigaan ke arah autoimun.

    Meski begitu, hasil RF yang positif tidak selalu berarti kamu pasti mengidap rheumatoid arthritis, sebab kondisi lain juga bisa memengaruhi hasilnya.

    Karena itu, dokter tetap perlu mencocokkan hasil tes ini dengan gejala dan pemeriksaan lain yang kamu jalani.

  9. 9. Tes Ferritin

    Tes Ferritin
    Hello Sehat

    Terakhir, ada tes ferritin yang mengukur cadangan zat besi sekaligus bisa jadi penanda peradangan dalam tubuh. Tes darah tambahan seperti ini biasa dipakai buat melengkapi gambaran kondisi tubuh kamu di luar tes antibodi utama.

    Kadar ferritin yang tidak normal bisa membantu dokter melihat apakah ada proses peradangan aktif yang sedang berlangsung. Kombinasi hasil ferritin dengan tes-tes lainnya bakal bikin gambaran diagnosis jadi lebih lengkap.

    Nah, itulah pembahasan mengenai 9 cara cek autoimun yang bisa kamu lakukan dengan bantuan tenaga medis. Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More