Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Chronic Venous Insufficiency: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan

Chronic Venous Insufficiency: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan
Pexels/Maksim Goncharenok
  • Insufisiensi vena kronis terjadi saat vena tungkai gagal mengalirkan darah optimal ke jantung akibat gangguan katup, sehingga darah tertahan dan tekanan vena meningkat.
  • Risiko meningkat pada usia bertambah, perempuan, kehamilan, obesitas, riwayat keluarga, serta kebiasaan duduk atau berdiri lama; varises tidak selalu berarti CVI.
  • Gejalanya meliputi tungkai berat, nyeri, bengkak, gatal, vena menonjol, hingga perubahan kulit dan luka. Diagnosis memakai ultrasonografi dupleks, dengan terapi disesuaikan kondisi pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Chronic Venous Insufficiency (CVI) atau Insufisiensi Vena Kronis menjadi gangguan pembuluh darah yang dapat ditemukan pada sekitar 5–30% populasi dewasa dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. 

Jika tidak ditangani sesuai kondisi pasien, kondisi ini dapat menyebabkan keluhan yang mengganggu hingga perubahan pada kulit dan munculnya luka di area tungkai. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk untuk memahami penyebab, gejala, hingga cara  penanganannya.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan mengenai Chronic Venous Insufficiency

  1. 1. Penyebab terjadinya chronic venous insufficiency

    Penyebab terjadinya chronic venous insufficiency
    Pexels/Ketut Subiyanto

    Chronic venous insufficiency terjadi ketika pembuluh vena pada tungkai tidak mampu mengalirkan darah kembali menuju jantung secara optimal. Salah satu penyebab yang umum adalah gangguan pada katup vena. 

    Katup yang seharusnya membantu menjaga agar darah tetap mengalir ke arah jantung tidak dapat menutup dengan baik.

    Akibatnya, darah dapat tertahan di tungkai dan membuat tekanan di dalam pembuluh vena meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, insufisiensi vena kronis dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga komplikasi pada tungkai.

  2. 2. Faktor yang meningkatkan risiko terkena chronic venous insufficiency

    Faktor yang meningkatkan risiko terkena chronic venous insufficiency
    Pexels/Andres Ayrton

    Umumnya, kondisi insufisiensi vena kronis dialami oleh mereka dengan risiko di antara lain:

    • Pertambahan usia

    • Riwayat keluarga

    • Kehamilan

    • Perempuan

    • Berat badan berlebih (obesitas)

    • Kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama

    Varises dapat menyertai gangguan ini, tetapi bukan berarti varises adalah CVI. Sebaliknya, bengkak pada tungkai juga tidak selalu berasal dari gangguan vena. 

    Penyebab lain seperti penyakit jantung, ginjal, hati, gangguan limfatik, maupun trombosis vena perlu dipertimbangkan sesuai gambaran klinis. Karena itu, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat vena yang tampak menonjol.

  3. 3. Gejala chronic venous insufficiency

    Gejala chronic venous insufficiency
    Pexels/Towfiqu barbhuiya

    Ada beberapa keluhan yang umum dirasakan oleh seseorang dengan insufisiensi vena kronis. Gejalanya antara lain:

    • Tungkai terasa berat atau nyeri

    • Kaki membengkak terutama setelah berdiri dalam waktu lama

    • Muncul rasa gatal

    • Vena yang terlihat lebih menonjol

    Jika kondisi terus berkembang, perubahan tidak hanya terjadi pada pembuluh vena. Kulit pada tungkai juga dapat mengalami perubahan warna dan tekstur. 

    Pada kondisi yang lebih lanjut, bahkan dapat muncul luka akibat gangguan vena, terutama di sekitar area pergelangan kaki. Insufisiensi vena kronis kaki ini kerap berkaitan erat atau memicu terjadinya varises

    “Insufisiensi vena kronis termasuk penyakit vaskular, dimana sebagian penderita merasa terganggu. Varises dapat menjadi tanda awal atau gejala fisik dari CVI. Yang perlu kita nilai bukan hanya tampilannya. Yang lebih penting adalah apakah ada gangguan aliran balik vena, apakah pasien punya keluhan, dan apakah sudah ada perubahan pada kulit,” kata Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi - Peminatan Vaskular dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), FIHA, saat acara ‘Media Interview di Siloam Hospital TB Simatupang, Kamis (10/9/2026).  

    “Penting untuk disadari, tidak semua orang yang memiliki varises pasti mengalami CVI. Namun, jika varises dibiarkan dan kerusakan katup vena semakin parah, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi CVI, yang ditandai dengan kaki bengkak parah, nyeri kronis, perubahan warna kulit, hingga luka atau ulkus. Kabar baiknya, CVI dan varises dapat diatasi dengan EVLA.” lanjutnya. 

  4. 4. Diagnosis CVI perlu dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan ultrasonografi dupleks

    Diagnosis CVI perlu dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan ultrasonografi dupleks
    Popmama.com/Sania Chandra

    Untuk menentukan apakah seseorang mengalami insufisiensi vena kronis, dokter akan melakukan penilaian berdasarkan gejala yang dirasakan, pemeriksaan klinis, serta pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dupleks.

    Pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter melihat apakah terjadi refluks atau aliran darah yang bergerak kembali ke arah yang tidak semestinya. Selain itu, ultrasonografi dupleks juga digunakan untuk memetakan pembuluh vena yang mengalami masalah sebelum dokter menentukan terapi yang sesuai.

    Pada kondisi tertentu, penanganan dapat dilakukan dengan beberapa langkah, termasuk meningkatkan aktivitas fisik, mengendalikan berat badan, melakukan elevasi atau meninggikan posisi tungkai, serta menggunakan terapi kompresi sesuai anjuran dokter.

    Sementara itu, tindakan endovenous dapat dipertimbangkan pada pasien yang memenuhi indikasi. Sebelum menjalani tindakan, manfaat, risiko, serta pilihan terapi perlu dibahas bersama dokter agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

    “Endovenous Laser Ablation (EVLA) menggunakan energi panas melalui serat laser yang dimasukkan ke dalam vena yang mengalami refluks dengan panduan ultrasonografi. Tujuannya adalah menutup vena superfisial yang mengalami refluks; aliran darah tetap berlangsung melalui jaringan vena lain yang berfungsi baik,” jelas dr. Emanoel Oepangat.

    “EVLA bukan tindakan kosmetik semata dan tidak diberikan hanya berdasarkan adanya vena yang terlihat menonjol. Menjaga berat badan, tetap aktif, menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta mengikuti anjuran terapi dapat membantu kesehatan vena,” pungkasnya. 

    Itu dia penjelasan mengenai chronic venous insufficiency. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi kita semua, ya. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More