“Bisa dilihat dari pola jalan, pola aktivitas. Pada orang-orang yang berdiri lama, pada orang-orang yang tidak sering memakai otot betisnya,” jelas dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP (K), FIHA selaku dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, saat acara Media Interview di Siloam Hospital TB Simatupang, Kamis (10/9/2026).
5 Kondisi yang Dapat Meningkatkan Chronic Venous Insufficiency

- CVI terjadi saat katup vena, terutama di kaki, tidak bekerja optimal sehingga darah sulit kembali ke jantung dan menumpuk di bagian bawah tubuh.
- Berdiri terlalu lama, jarang bergerak, serta minim olahraga mengurangi kerja otot betis untuk memompa darah, sehingga meningkatkan risiko stasis pada vena.
- Obesitas, kehamilan yang menekan vena kava inferior, serta faktor hormonal membuat perempuan lebih rentan mengalami CVI, terutama dengan kehamilan berulang dan penuaan.
Chronic Venous Insufficiency (CVI) adalah kondisi ketika aliran darah melalui pembuluh vena, terutama di bagian kaki dan tungkai, tidak berjalan secara optimal.
Kondisi ini dapat terjadi ketika katup pada pembuluh vena tidak bekerja dengan baik, sehingga darah lebih sulit kembali menuju jantung dan akhirnya menumpuk di bagian bawah tubuh.
Ada beberapa kebiasaan dan kondisi tertentu yang dapat membuat aliran darah vena semakin kurang lancar. Berikut Popmama.com siap membahas lebih lanjut terkait beberapa hal yang dapat meningkatkan Chronic Venous Insufficiency.
Table of Content
1. Berdiri terlalu lama atau jarang bergerak

Popmama.com/Sania Chandra Menghabiskan banyak waktu dengan berdiri tanpa banyak bergerak dapat membuat aliran darah dari tungkai menuju jantung menjadi kurang optimal. Kondisi ini berkaitan dengan kerja otot betis yang berperan membantu memompa darah dari kaki kembali ke atas.
Ketika seseorang jarang menggerakkan kaki atau tidak banyak menggunakan otot betis, darah dapat lebih mudah mengalami stasis atau tertahan di bagian bawah tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat membuat darah menumpuk di pembuluh vena.
“Pramugari misalnya, karena dia pakai high heels, dia mesti kadang-kadang menggerakkan kakinya. Dia berdirinya lama, sehingga segala sesuatu yang menyebabkan stasis, yang menyebabkan darah itu tidak terpompa ke atas, itu akan menyebabkan darah itu menumpuk pada suatu tempat dan akan menekan ke samping justru, instead of ke atas,” lanjutnya.
2. Jarang berolahraga

Pexels/Mikhail Nilov Kurangnya aktivitas fisik juga dapat memengaruhi kerja otot kaki dalam membantu sirkulasi darah. Otot betis yang aktif saat seseorang berjalan atau melakukan aktivitas fisik dapat membantu mendorong darah dari tungkai agar kembali menuju jantung.
Sebaliknya, terlalu banyak duduk atau jarang bergerak dapat membuat otot kaki kurang aktif. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat mekanisme pemompaan darah dari kaki tidak bekerja secara optimal, sehingga darah lebih mudah tertahan di bagian bawah tubuh.
3. Memiliki berat badan berlebih (obesitas)

Pexels/Towfiqu barbhuiya Obesitas atau berat badan berlebih juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Berat badan berlebih dapat memberikan tekanan tambahan pada pembuluh darah, termasuk pembuluh vena yang berada di area perut dan tungkai.
Tekanan tersebut berpotensi membuat proses kembalinya darah dari bagian bawah tubuh menuju jantung menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, menjaga berat badan tetap dalam rentang yang sehat dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan pembuluh darah dan sirkulasi tubuh.
4. Ibu hamil juga rentan terkena CVI

Pexels/Leah Newhouse Kehamilan juga menjadi salah satu kondisi yang dapat memengaruhi aliran darah dari tungkai menuju jantung. Seiring bertambahnya usia kehamilan, ukuran rahim dan janin semakin besar, sehingga dapat memberikan tekanan pada pembuluh darah besar di area panggul.
Salah satu pembuluh darah yang dapat terdampak adalah vena kava inferior. Pembuluh darah ini berperan membawa darah dari bagian bawah tubuh untuk kembali menuju jantung. Ketika mendapatkan tekanan dari rahim yang membesar, aliran darah dari tungkai dapat menjadi lebih lambat.
“Kalau hamil itu, jadi kalau kita lihat darah itu dari bawah, balik dia jadi satu di tengah, namanya vena inferior, kava inferior. Nah, kava inferior itu di daerah panggul. Itu kalau orang hamil yang perutnya gede, itu akan menekan vena tersebut,” kata jelas dr. Emanoel.
Tekanan tersebut dapat semakin terasa ketika kehamilan memasuki trimester kedua dan ketiga. Aliran darah yang lebih lambat dapat meningkatkan tekanan di dalam vena dan berpotensi memengaruhi fungsi katup pembuluh darah.
“Kehamilan itu sembilan bulan, tekanan itu timbul kira-kira trimester ketiga dan kedua. Jadi, paling tidak tiga bulan udah ketekan terus tuh vena. Dan itu yang menyebabkan darah yang dari bawah itu lebih pelan, sehingga menekan ke samping. Katup yang tadinya normal begini, karena darahnya besar, jadi nggak rapat lagi,” lanjutnya.
5. Perempuan lebih rentan terkena CVI

Freepik/freepik Secara statistik, perempuan memiliki risiko CVI yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Salah satu alasannya adalah karena ada faktor hormonal yang dapat memengaruhi pembuluh darah, termasuk jaringan lunak di sekitarnya.
“Perempuan berkaitan dengan hormon sebetulnya, dan itu juga berkaitan dengan kolagen, berkaitan dengan jaringan lunak,” ungkap dr. Emanoel.
Risiko dapat semakin bertambah apabila terdapat faktor lain, seperti berat badan berlebih, kehamilan yang terjadi berulang kali, serta proses penuaan yang dapat memengaruhi elastisitas dan kondisi pembuluh darah.
“Tapi tentu saja, perempuan itu bisa terkena juga karena faktor lainnya, seperti obesitas, kehamilan berkali-kali, sudah aging, kekakuan dari pembuluh darahnya, ya itu semua jadi faktor tambahan,” pungkasnya.
Demikian beberapa kondisi yang dapat meningkatkan Chronic Venous Insufficiency. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi kita semua, ya.





















