Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Chronic Venous Insufficiency: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan
Pexels/Maksim Goncharenok
  • Insufisiensi vena kronis terjadi saat vena tungkai gagal mengalirkan darah optimal ke jantung akibat gangguan katup, sehingga darah tertahan dan tekanan vena meningkat.
  • Risiko meningkat pada usia bertambah, perempuan, kehamilan, obesitas, riwayat keluarga, serta kebiasaan duduk atau berdiri lama; varises tidak selalu berarti CVI.
  • Gejalanya meliputi tungkai berat, nyeri, bengkak, gatal, vena menonjol, hingga perubahan kulit dan luka. Diagnosis memakai ultrasonografi dupleks, dengan terapi disesuaikan kondisi pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Insufisiensi Vena Kronis (CVI) adalah gangguan ketika vena tungkai tidak mengalirkan darah kembali ke jantung secara optimal, sehingga darah tertahan dan tekanan vena meningkat.
  • Who?
    Orang dewasa dapat mengalami CVI, terutama mereka yang bertambah usia, memiliki riwayat keluarga, sedang hamil, perempuan, obesitas, atau sering duduk maupun berdiri terlalu lama.
  • Where?
    Gangguan terutama terjadi pada pembuluh vena di tungkai, dengan keluhan dan perubahan kulit yang dapat muncul hingga sekitar pergelangan kaki.
  • When?
    CVI dapat berkembang ketika gangguan katup vena berlangsung terus-menerus. Bengkak pada kaki sering terasa terutama setelah berdiri dalam waktu lama.
  • Why?
    Katup vena yang tidak menutup baik menyebabkan aliran darah kembali ke arah yang tidak semestinya. Kondisi ini dapat berkaitan dengan varises, tetapi tidak semua varises merupakan CVI.
  • How?
    Diagnosis dilakukan melalui gejala, pemeriksaan klinis, dan ultrasonografi dupleks. Penanganan dapat meliputi aktivitas fisik, pengendalian berat badan, elevasi tungkai, kompresi, atau EVLA sesuai indikasi dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pembuluh darah di kaki kadang tidak bisa membawa darah pulang ke jantung dengan baik. Darah lalu tertahan di kaki. Kaki bisa terasa berat, sakit, bengkak, gatal, atau ada urat menonjol. Dokter bisa memeriksa dengan alat USG. Orang bisa lebih aktif, menjaga berat badan, dan ikut saran dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Chronic Venous Insufficiency (CVI) atau Insufisiensi Vena Kronis menjadi gangguan pembuluh darah yang dapat ditemukan pada sekitar 5–30% populasi dewasa dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. 

Jika tidak ditangani sesuai kondisi pasien, kondisi ini dapat menyebabkan keluhan yang mengganggu hingga perubahan pada kulit dan munculnya luka di area tungkai. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk untuk memahami penyebab, gejala, hingga cara  penanganannya.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan mengenai Chronic Venous Insufficiency

1. Penyebab terjadinya chronic venous insufficiency

Pexels/Ketut Subiyanto

Chronic venous insufficiency terjadi ketika pembuluh vena pada tungkai tidak mampu mengalirkan darah kembali menuju jantung secara optimal. Salah satu penyebab yang umum adalah gangguan pada katup vena. 

Katup yang seharusnya membantu menjaga agar darah tetap mengalir ke arah jantung tidak dapat menutup dengan baik.

Akibatnya, darah dapat tertahan di tungkai dan membuat tekanan di dalam pembuluh vena meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, insufisiensi vena kronis dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga komplikasi pada tungkai.

2. Faktor yang meningkatkan risiko terkena chronic venous insufficiency

Pexels/Andres Ayrton

Umumnya, kondisi insufisiensi vena kronis dialami oleh mereka dengan risiko di antara lain:

  • Pertambahan usia

  • Riwayat keluarga

  • Kehamilan

  • Perempuan

  • Berat badan berlebih (obesitas)

  • Kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama

Varises dapat menyertai gangguan ini, tetapi bukan berarti varises adalah CVI. Sebaliknya, bengkak pada tungkai juga tidak selalu berasal dari gangguan vena. 

Penyebab lain seperti penyakit jantung, ginjal, hati, gangguan limfatik, maupun trombosis vena perlu dipertimbangkan sesuai gambaran klinis. Karena itu, pemeriksaan tidak cukup hanya melihat vena yang tampak menonjol.

3. Gejala chronic venous insufficiency

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Ada beberapa keluhan yang umum dirasakan oleh seseorang dengan insufisiensi vena kronis. Gejalanya antara lain:

  • Tungkai terasa berat atau nyeri

  • Kaki membengkak terutama setelah berdiri dalam waktu lama

  • Muncul rasa gatal

  • Vena yang terlihat lebih menonjol

Jika kondisi terus berkembang, perubahan tidak hanya terjadi pada pembuluh vena. Kulit pada tungkai juga dapat mengalami perubahan warna dan tekstur. 

Pada kondisi yang lebih lanjut, bahkan dapat muncul luka akibat gangguan vena, terutama di sekitar area pergelangan kaki. Insufisiensi vena kronis kaki ini kerap berkaitan erat atau memicu terjadinya varises

“Insufisiensi vena kronis termasuk penyakit vaskular, dimana sebagian penderita merasa terganggu. Varises dapat menjadi tanda awal atau gejala fisik dari CVI. Yang perlu kita nilai bukan hanya tampilannya. Yang lebih penting adalah apakah ada gangguan aliran balik vena, apakah pasien punya keluhan, dan apakah sudah ada perubahan pada kulit,” kata Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi - Peminatan Vaskular dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), FIHA, saat acara ‘Media Interview di Siloam Hospital TB Simatupang, Kamis (10/9/2026).  

“Penting untuk disadari, tidak semua orang yang memiliki varises pasti mengalami CVI. Namun, jika varises dibiarkan dan kerusakan katup vena semakin parah, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi CVI, yang ditandai dengan kaki bengkak parah, nyeri kronis, perubahan warna kulit, hingga luka atau ulkus. Kabar baiknya, CVI dan varises dapat diatasi dengan EVLA.” lanjutnya. 

4. Diagnosis CVI perlu dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan ultrasonografi dupleks

Popmama.com/Sania Chandra

Untuk menentukan apakah seseorang mengalami insufisiensi vena kronis, dokter akan melakukan penilaian berdasarkan gejala yang dirasakan, pemeriksaan klinis, serta pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dupleks.

Pemeriksaan tersebut dapat membantu dokter melihat apakah terjadi refluks atau aliran darah yang bergerak kembali ke arah yang tidak semestinya. Selain itu, ultrasonografi dupleks juga digunakan untuk memetakan pembuluh vena yang mengalami masalah sebelum dokter menentukan terapi yang sesuai.

Pada kondisi tertentu, penanganan dapat dilakukan dengan beberapa langkah, termasuk meningkatkan aktivitas fisik, mengendalikan berat badan, melakukan elevasi atau meninggikan posisi tungkai, serta menggunakan terapi kompresi sesuai anjuran dokter.

Sementara itu, tindakan endovenous dapat dipertimbangkan pada pasien yang memenuhi indikasi. Sebelum menjalani tindakan, manfaat, risiko, serta pilihan terapi perlu dibahas bersama dokter agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

“Endovenous Laser Ablation (EVLA) menggunakan energi panas melalui serat laser yang dimasukkan ke dalam vena yang mengalami refluks dengan panduan ultrasonografi. Tujuannya adalah menutup vena superfisial yang mengalami refluks; aliran darah tetap berlangsung melalui jaringan vena lain yang berfungsi baik,” jelas dr. Emanoel Oepangat.

“EVLA bukan tindakan kosmetik semata dan tidak diberikan hanya berdasarkan adanya vena yang terlihat menonjol. Menjaga berat badan, tetap aktif, menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta mengikuti anjuran terapi dapat membantu kesehatan vena,” pungkasnya. 

Itu dia penjelasan mengenai chronic venous insufficiency. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi kita semua, ya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article