Perempuan diketahui lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Kondisi ini dapat ditandai dengan berbagai gejala yang terkadang terlihat sepele, seperti tubuh mudah lelah, nyeri sendi, hingga perubahan pada kulit.
7 Gejala Autoimun pada Perempuan, Waspadai Tandanya!

Perempuan lebih rentan mengalami autoimun; tanda awal yang perlu diperhatikan meliputi kelelahan ekstrem, rambut rontok berlebih, serta nyeri dan kekakuan pada sendi atau otot.
Keluhan pencernaan seperti sakit perut, kembung, diare, atau perubahan pola buang air besar dapat berkaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Ruam kulit, perubahan berat badan tanpa perubahan pola makan atau aktivitas, serta siklus haid tidak teratur dapat muncul akibat peradangan dan gangguan hormon terkait autoimun.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya agar bisa segera mendapat pemeriksaan yang tepat sedini mungkin.
Lantas, apa saja gejala autoimun pada perempuan? Simak informasi selengkapnya dalam artikel Popmama.com tentang 7 gejala autoimun pada perempuan yang perlu diwaspadai tandanya berikut ini.
Table of Content
1. Kelelahan ekstrem

Pexels/cottonbro studio Kelelahan ekstrem merupakan salah satu gejala paling umum dari penyakit autoimun yang menyerang perempuan.
Kelelahan pada penderita autoimun bukan sekadar rasa capek setelah beraktivitas atau kurang tidur. Kondisi ini bisa membuat tubuh terasa terus-menerus kehabisan energi hingga sulit menjalani aktivitas sehari-hari.
Belum diketahui pasti mengapa autoimun dapat menyebabkan kelelahan ekstrem. Namun, dikutip dari Harvard Health Publishing, peradangan dalam tubuh, nyeri, kualitas tidur yang buruk, kurang aktivitas, hingga perubahan suasana hati diduga menjadi penyebab kelelahan ekstream.
2. Rambut rontok

Pexels/Towfiqu barbhuiya Rambut rontok memang umum dialami, tetapi pada kondisi autoimun, kerontokan bisa terjadi lebih banyak dari biasanya.
Rambut juga dapat menipis secara perlahan atau muncul bagian kepala yang terlihat lebih jarang. Hal ini bisa terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut.
Dikutip dari laman GoodRx, gejala rambut rontok umum ditemukan pada penyakit autoimun, seperti alopecia areata, systemic lupus erythematosus, dan dermatomyositis.
3. Masalah pada sendi dan otot

Magnific/magnific Mengutip dari laman Liv Hospital, gejala ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri sehingga memicu peradangan, nyeri, hingga membuat sulit bergerak.
Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, faktor genetik dan lingkungan diduga ikut berperan dalam meningkatkan risiko beberapa penyakit autoimun yang menyerang sendi, seperti rheumatoid arthritis.
4. Gangguan pencernaan

Magnific/benzoix Gangguan pencernaan juga bisa berkaitan dengan penyakit autoimun. Melansir dari laman Empowered Arthritis and Rheumatology Center, sebagian besar sistem kekebalan tubuh berada di saluran pencernaan sehingga kondisi usus dapat memengaruhi respons imun.
Pada perempuan dengan autoimun, ketidakseimbangan bakteri di usus, kerusakan lapisan usus, hingga perubahan hormon dapat memicu atau memperburuk gangguan sistem kekebalan tubuh.
Gejala ini dapat ditandai dengan keluhan seperti sakit perut, kembung, diare, atau perubahan pola buang air besar.
5. Muncul ruam

Magnific/magnific Muncul ruam pada kulit terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel kulit yang sehat sehingga memicu kemerahan, bengkak, atau iritasi.
Pada perempuan, ruam akibat autoimun lebih sering ditemukan karena faktor hormon dan genetik dapat memengaruhi respons sistem kekebalan tubuh.
Ruam juga bisa muncul di beberapa bagian tubuh dan memiliki bentuk yang berbeda, tergantung jenis autoimunnya.
6. Perubahan berat badan

Magnific/rawpixel.com Perubahan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau aktivitas juga perlu diperhatikan.
Pada kondisi autoimun tertentu, berat badan bisa turun atau justru meningkat akibat peradangan, perubahan hormon, atau gangguan pada organ tertentu.
7. Siklus haid yang tidak teratur

Magnific/magnific Siklus haid yang tidak teratur dapat terjadi karena adanya peradangan kronis yang mengganggu komunikasi antara otak dan ovarium sehingga produksi hormon reproduksi ikut terganggu.
Selain itu, beberapa penyakit autoimun dapat menyerang organ yang berperan dalam keseimbangan hormon, seperti kelenjar tiroid atau ovarium.
Kondisi ini dapat memengaruhi kadar hormon estrogen dan progesteron sehingga siklus haid menjadi lebih cepat, lebih lambat, atau tidak teratur.
Itulah 7 gejala autoimun pada perempuan yang mesti diwaspadai tandanya. Jika mengalami beberapa gejala tersebut secara berulang, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dengan lebih pasti.





















