7 Gejala Super Flu, Varian Baru Influenza

- Demam tinggi hingga 39–41 derajat celcius, menjadi gejala paling menonjol pada infeksi subclade K.
- Nyeri otot yang terasa berat, bahkan saat tubuh tidak banyak bergerak, merupakan efek peradangan akibat respons imun tubuh terhadap virus.
- Lemas ekstrem membuat penderita sulit berkonsentrasi dan membutuhkan waktu istirahat lebih lama, terutama pada kelompok rentan.
Masuknya varian baru influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan disebut sebagai super flu membuat banyak orang kembali waspada. Terlebih, Kementerian Kesehatan RI telah mengonfirmasi keberadaannya di Indonesia sejak akhir Desember 2025.
Mengutip IDN Times, Data Kemenkes RI hingga penghujung Desember 2025 menunjukkan, super flu telah terdeteksi 62 kasus yang tersebar di sejumlah provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, dengan mayoritas pasien berasal dari kelompok anak dan didominasi perempuan.
Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr Prima Yosephine, menjelaskan gejala super flu berpotensi terasa lebih berat dibandingkan flu musiman, khususnya jika menyerang anak-anak yang memiliki penyakit penyerta.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Berikut Popmama.com sajikan informasi tentang 7 gejala super flu, varian baru influenza. Simak selengkapnya di bawah!
1. Demam tinggi hingga 39–41 derajat celcius

Melansir Priority Care Clinics, demam menjadi salah satu gejala paling menonjol pada infeksi subclade K. Suhu tubuh dapat melonjak cukup tinggi dan muncul secara tiba-tiba, membuat penderitanya merasa tidak nyaman dan menggigil.
Kondisi ini menandakan tubuh sedang melawan infeksi virus yang agresif. Jika demam tidak kunjung turun, terutama pada anak-anak, perlu kewaspadaan ekstra dan pemantauan lebih lanjut.
2. Nyeri otot yang terasa berat

Penderita super flu kerap mengeluhkan nyeri otot yang intens, bahkan saat tubuh tidak banyak bergerak. Rasa pegal bisa muncul di berbagai bagian tubuh, seperti punggung, kaki, hingga bahu.
Nyeri ini bukan sekadar pegal biasa, melainkan efek peradangan akibat respons imun tubuh terhadap virus. Akibatnya, aktivitas harian bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya.
3. Lemas ekstrem

Rasa lelah yang dialami penderita subclade K cenderung lebih berat dibanding flu musiman. Tubuh terasa kehilangan energi, meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.
Kondisi ini bisa membuat penderita sulit berkonsentrasi dan membutuhkan waktu istirahat lebih lama. Pada kelompok rentan, lemas yang ekstrem dapat mengganggu proses pemulihan jika tidak ditangani dengan baik.
4. Batuk kering yang mengganggu

Batuk kering menjadi gejala lain yang sering muncul pada super flu. Batuk ini biasanya tidak disertai dahak, tetapi terasa gatal dan membuat tenggorokan tidak nyaman.
Jika berlangsung terus-menerus, batuk dapat mengganggu kualitas tidur dan memperparah rasa lelah. Selain itu, batuk juga berperan besar dalam mempercepat penularan virus ke orang lain.
5. Sakit kepala berkepanjangan

Infeksi subclade K juga dapat memicu sakit kepala dengan intensitas sedang hingga berat. Tekanan di kepala sering kali terasa bersamaan dengan demam tinggi.
Sakit kepala ini merupakan bagian dari respons tubuh terhadap infeksi virus. Pada beberapa kasus, keluhan ini bisa berlangsung cukup lama meski gejala lain mulai mereda.
6. Tenggorokan terasa sangat sakit

Rasa nyeri pada tenggorokan akibat super flu dapat terasa lebih berat dari flu biasa. Menelan makanan atau minuman bisa menimbulkan rasa perih yang cukup mengganggu.
Peradangan pada tenggorokan ini kerap muncul bersamaan dengan batuk kering. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memperburuk rasa tidak nyaman saat berbicara maupun makan.
7. Rasa tidak enak badan secara menyeluruh

Selain gejala yang lebih spesifik, super flu juga kerap ditandai dengan rasa tidak enak badan secara menyeluruh. Tubuh terasa berat, pegal, dan tidak nyaman, seolah kehilangan stamina untuk menjalani aktivitas harian.
Kondisi ini membuat penderitanya sulit beraktivitas secara normal, bahkan untuk melakukan kegiatan ringan. Rasa lelah ini menjadi sinyal tubuh membutuhkan istirahat cukup agar proses pemulihan dapat berjalan optimal.
Itu dia 7 gejala super flu, varian baru influenza. Mengacu pada anjuran Kemenkes RI, masyarakat disarankan untuk konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga imunitas tubuh, serta rutin mendapatkan vaksin influenza setiap tahun.
Vaksinasi tetap menjadi langkah efektif untuk menurunkan risiko gejala berat, perawatan di rumah sakit, hingga kematian akibat influenza.
FAQ Tentang Super Flu
| 1. Apa yang membedakan super flu dengan flu biasa? | Super flu merujuk pada varian influenza A (H3N2) subclade K yang menunjukkan pola gejala lebih intens pada sebagian orang. Meski termasuk keluarga influenza, respons tubuh terhadap varian ini bisa terasa lebih berat dibanding flu musiman. |
| 2. Berapa lama masa inkubasi super flu setelah terpapar? | Masa inkubasi umumnya berkisar 1–4 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada periode ini, penderita bisa belum bergejala namun sudah berpotensi menularkan virus ke orang lain. |
| 3. Apakah super flu bisa sembuh tanpa pengobatan khusus? | Pada orang dengan daya tahan tubuh baik, super flu dapat sembuh dengan perawatan mandiri seperti istirahat cukup dan hidrasi. Namun, pengawasan medis tetap dianjurkan jika gejala memburuk atau berlangsung lama. |



















