Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya 3 Permasalahan Gizi

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya 3 Permasalahan Gizi
Freepik/Freepik
Intinya Sih
  • Ahli gizi menyoroti tiga masalah utama gizi di Indonesia: obesitas, kekurangan gizi seperti stunting dan wasting, serta defisiensi zat gizi mikro seperti anemia.
  • Pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula, garam, dan lemak menjadi perhatian serius karena memicu berbagai penyakit terkait gizi setelah masa Lebaran.
  • Pakar kesehatan mengimbau masyarakat untuk menyaring informasi kesehatan dari sumber terpercaya dan memastikan pemenuhan gizi sejak masa kehamilan guna mencegah risiko anemia dan BBLR.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pemenuhan gizi di Indonesia masih menjadi masalah setiap tahunnya. Hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya penderita stunting dan malmutrisi yang hingga saat ini masih menjadi isu nasional.

Ahli gizi bahkan mengungkapkan ada tiga permasalahan utama seputar gizi di Indonesia yang harus diperhatikan. Sebab, permasalahan gizi yang tidak teratasi dapat memicu permasalahan kesehatan yang lebih kompleks.

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Sedunia yang diperingati setiap 7 April dan peringatan 50 Tahun Darya Varia di South Quarter, Jakarta Selatan pada Selasa (7/4/26), para pakar bicara soal isu kesehatan yang perlu diperhatikan di Indonesia saat ini.

Berikut ini Popmama.com telah merangkum informasi seputar Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia masih punya 3 PR masalah gizi.

Indonesia Saat Ini Memiliki Tiga Masalah Gizi

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya PR 3 Masalah Gizi.png
Popmama.com/Salsyabila Sukmaningrum

Memperingati Hari Kesehatan Dunia, ahli gizi ungkap Indonesia masih memiliki beberapa PR yang harus dibenahi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya persoalan gizi. Terungkap PR besar bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini masih perlu membenahi beberapa permasalahan berikut:

  1. Masalah gizi lebih (obesitas)
  2. Gizi kurang (stunting dan wasting)
  3. Defisiensi zat gizi mikronutrien (anemia).

”Sekarang memang Indonesia itu salah satunya mengalami masalah pergizian. Apa yang kita makan itulah yang berimplikasi pada kesehatan,” ungkap Nazhif Gifari, Ahli Gizi dan Dosen Pendidikan Profesi Dietisien di Universitas Esa Unggul, Selasa (7/4/26).

Hal ini dapat terjadi karena pola konsumsi masyarakat yang semakin beragam dan tidak terkontrol. Banyak juga yang tidak memerhatikan kebutuhan gizi harian, dapat dilihat dari masyarakat yang masih banyak mengonsumsi junk food dibanding real food yang kaya akan nutrisi.

Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Perlu Diperhatikan

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya PR 3 Masalah Gizi (3).png
Popmama.com/Salsyabila Sukmaningrum

Tes kesehatan gratis juga menjadi agenda peringatan 50 Tahun Darya Varia yang digelar pada Selasa (7/4/26). Saat melakukan cek kesehatan, banyak peserta yang terkejut dengan kondisi kesehatan mereka.

Setelah Lebaran, pola konsumsi masyarakat memang cukup beragam dan tidak teratur sehingga membuat hasil pemeriksaan kesehatan di luar batas normal. Melihat hal tersebut, konsumsi gula, garam, dan lemak jadi hal mendasar yang perlu diperhatikan untuk mencegah risiko penyakit yang berkaitan dengan gizi.

“Pola makan sekarang itu sangat-sangat luar biasa. Ada di Kemenkes itu kita istilahnya harus batasi masalah GGL (gula, garam, dan lemak),” tambahnya.

Kemudian, masyarakat diajak untuk tidak mengandalkan suplemen kesehatan saja dan lebih banyak mengonsumsi buah dan sayur terlebih dahulu. 

Masyarakat Harus Waspada dan Cek Informasi Kesehatan dari Sumber Terpercaya

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya PR 3 Masalah Gizi (4).png
Popmama.com/Salsyabila Sukmaningrum

Perubahan pola makan masyarakat Indonesia yang memengaruhi kondisi gizi mereka juga dipengaruhi oleh banyaknya miskonsepsi atau mitos yang menjamur di masyarakat. Meskipun saat ini informasi kesehatan tersebar luas di media sosial, masyarakat harus bijak untuk memastikan kembali pada sumber yang terpercaya.

”Jadi sebenarnya message yang diterima harus ada sumber ilmiah yang benar. Pertama dari petugas kesehatan, kedua kalau bisa baca dari sumber resmi dari petugas kesehatan atau Kementerian Kesehatan, ketiga dari berita di media massa,” himbau Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) yang merupakan Guru Besar FKUI dan Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Selasa (7/4/26).

Salah satu miskonsepsi yang masih sering dilakukan adalah banyak yang minum teh setelah makan. Padahal, teh dapat menghambat penyerapan zat besi, meningkatkan risiko anemia, dan meningkatkan asupan gula yang memicu berlebihnya berat badan apabila rutin dikonsumsi sehari-hari. 

Pemenuhan Gizi Harus Maksimal Sejak Ibu Hamil Mengandung

Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia Masih Punya PR 3 Masalah Gizi (2).png
Popmama.com/Salsyabila Sukmaningrum

Defisiensi zat gizi mikro jadi salah satu permasalahan yang saat ini perlu diperhatikan, khususnya bagi para ibu hamil sejak mengandung si Kecil. Defisiensi zat gizi mikro dapat menyebabkan ibu hamil anemia yang akhirnya berdampak pada kondisi bayi mereka.

“Ketika ibunya anemia, apa yang terjadi? Risiko BBLR (berat badan lahir rendah), masalah itu menjadi salah satu persoalan terbesar,” jelas Nazhif. 

Permasalahan gizi ini perlu diperhatikan sejak bayi masih di dalam kandungan, untuk itu ibu hamil perlu mengonsumsi makanan bergizi sejak masa kehamilan.

Ahli gizi menyarankan agar ibu hamil harus bisa memerhatikan kondisinya, misalnya dengan memilih makanan yang renyah dibanding lembek saat masih merasa mual dan jangan kekurangan cairan dengan mengonsumsi buah-buahan dengan kadar air tinggi.

Itu dia penjelasan seputar Hari Kesehatan Sedunia, Indonesia masih punya 3 PR masalah gizi. 

Para pakar kesehatan menghimbau masyarakat untuk memerhatikan kebutuhan gizi harian dan menyaring informasi kesehatan yang diterima untuk mengtasi tiga permasalahan utama gizi yang saat ini jadi perhatian.

FAQ Seputar Gizi

Bagaimana kondisi gizi di Indonesia?

Kondisi gizi di Indonesia saat ini menghadapi triple burden(kurang gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan mikronutrien), dengan fokus utama pada penurunan stunting (14,9% di Cirebon) dan wasting.

Apa itu gizi kurang?

Gizi kurang adalah kondisi serius akibat tubuh kekurangan asupan kalori, protein, vitamin, dan mineral dalam jangka waktu lama, yang mengakibatkan penurunan berat badan ekstrem, tubuh kurus (wasting), stunting, dan penurunan imunitasi.

Bagaimana kondisi kelebihan gizi?

Kelebihan gizi (overnutrition) adalah bentuk malnutrisi akibat asupan nutrisi melebihi kebutuhan tubuh, menyebabkan penumpukan lemak, kelebihan berat badan, hingga obesitas.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More