Janji Palsu Orangtua Bisa Membuat Anak Tumbuh Egois hingga Dewasa

- Penelitian NTU Singapura menunjukkan bahwa kebiasaan orangtua berbohong atau memberi janji palsu dapat membentuk anak menjadi pribadi egois, sulit menyesuaikan diri, dan cenderung suka berbohong saat dewasa.
- Kebiasaan menggunakan janji palsu untuk mengatur anak bisa membuat mereka belajar memanipulasi orang lain demi keinginan sendiri, serta menganggap manipulasi sebagai hal yang wajar dalam hubungan sosial.
- Janji yang tidak ditepati perlahan merusak kepercayaan anak pada orangtua, membuat mereka sulit mempercayai orang lain dan berpotensi tumbuh dengan rasa curiga tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
Sebagai orangtua, terkadang Mama dan Papa mungkin pernah mengucapkan janji kepada anak untuk menenangkan mereka. Namun, karena berbagai kesibukan atau alasan tertentu, janji tersebut berujung tidak ditepati.
Meski terlihat sepele, kebiasaan memberikan janji palsu dapat meninggalkan dampak yang cukup besar bagi perkembangan emosional dan karakter anak, bahkan hingga dewasa.
Anak belajar memahami dunia dari apa yang mereka lihat dan alami setiap hari, termasuk dari sikap orangtuanya dalam memegang komitmen.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai janji palsu orangtua bisa membuat anak tumbuh egois hingga dewasa.
Table of Content
1. Sering dibohongi orangtua sejak kecil bisa berdampak pada kepribadian saat dewasa

Berdasarkan penelitian dalam Journal of Experimental Child Psychology oleh tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura,menemukan bahwa metode pengasuhan dengan kebohongan (parenting by lying) sangat erat kaitannya dengan sifat suka berbohong, perilaku egois, hingga kesulitan penyesuaian diri saat anak tumbuh dewasa.
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang kita perintahkan. Saat Mama atau Papa sering memberikan janji manis yang tidak pernah ditepati, anak akan merekam perilaku tersebut di dalam memorinya.
Secara tidak sadar, mereka menangkap pesan bahwa berbohong dan ingkar janji adalah hal yang normal dan boleh dilakukan. Anak yang sering dibohongi oleh orangtuanya saat kecil, cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang juga sering membohongi orangtua dan orang lain di sekitarnya.
2. Janji palsu dapat memicu sifat egois dan manipulatif

Tidak sedikit orangtua menggunakan janji sebagai cara cepat agar anak mau mengikuti arahan. Walaupun terlihat efektif dalam jangka pendek, kebiasaan ini ternyata dapat memberikan dampak negatif terhadap pembentukan karakter anak ke depannya.
Sejumlah studi psikologi menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan pola parenting by lying lebih berisiko mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri secara sosial.
Mereka juga cenderung mengembangkan sifat yang lebih egois dibandingkan anak yang dibesarkan dengan komunikasi jujur. Hal tersebut terjadi karena anak belajar bahwa kata-kata manis dapat digunakan untuk memengaruhi orang lain, meskipun sebenarnya tidak ada niat untuk menepatinya.
Pola pikir seperti ini berpotensi terbawa hingga dewasa dan membuat mereka menganggap manipulasi sebagai cara yang dapat dibenarkan untuk memperoleh keinginan.
3. Kepercayaan anak kepada orangtua bisa perlahan menghilang

Kepercayaan merupakan salah satu fondasi terpenting dalam hubungan antara orangtua dan anak. Ketika Mama terus-menerus memberikan janji yang tidak pernah diwujudkan, rasa percaya yang telah dibangun sejak kecil dapat perlahan memudar.
Bagi anak, orangtua adalah sosok yang memberikan rasa aman sekaligus menjadi tempat bergantung. Ketika janji demi janji tidak ditepati, anak dapat merasakan kekecewaan dan merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Dampaknya tidak hanya berhenti pada hubungan dengan orangtua. Anak juga berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang sulit mempercayai orang lain. Rasa curiga yang terus berkembang membuat mereka kesulitan membangun hubungan yang sehat karena selalu khawatir akan kembali dibohongi.
4. Anak menjadi bingung membedakan nilai kejujuran

Mama mungkin sering mengingatkan anak agar selalu berkata jujur. Namun, pesan tersebut bisa kehilangan maknanya apabila anak justru melihat orangtuanya sendiri sering mengucapkan kebohongan atau memberikan janji yang tidak ditepati.
Perbedaan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan orangtua menciptakan standar ganda yang membingungkan bagi anak. Mereka akan kesulitan memahami nilai kejujuran karena contoh yang diterima tidak sejalan dengan nasihat yang diberikan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan moral anak. Mereka menjadi sulit membedakan mana perilaku yang benar dan mana bentuk manipulasi emosional.
Akibatnya, anak berisiko kehilangan integritas dan menganggap bahwa kejujuran hanyalah aturan yang diucapkan, tetapi tidak benar-benar perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Dampaknya bisa berlanjut hingga muncul perilaku agresif

Pengaruh janji palsu ternyata tidak hanya membuat anak lebih mudah berbohong. Anak yang sejak kecil sering menerima kebohongan dari orangtuanya juga memiliki kemungkinan lebih besar menunjukkan perilaku agresif, suka membantah, hingga cenderung melanggar aturan ketika bertambah usia (rule-breaking).
Perilaku tersebut dapat muncul karena anak menyimpan rasa kecewa, sedih, dan frustrasi akibat harapan yang berkali-kali dipatahkan. Emosi negatif yang tidak tersalurkan dengan baik akhirnya diekspresikan melalui tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Itu dia informasi mengenai janji palsu orangtua bisa membuat anak tumbuh egois hingga dewasa. Oleh karena itu, daripada menggunakan janji palsu sebagai cara instan untuk menenangkan anak, akan lebih baik jika orangtua membiasakan komunikasi yang jujur sejak kecil.





















