Kata Kemenkes: Puasa Bisa Bantu Cegah Depresi dan Cemas

- Kementerian Kesehatan RI menyebut puasa Ramadan tak hanya bermanfaat secara spiritual, tapi juga membantu menjaga kesehatan mental dengan menurunkan stres, kecemasan, dan risiko depresi.
- Puasa melatih pengendalian diri serta membantu menstabilkan hormon kortisol yang berhubungan dengan stres, sehingga tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang.
- Aktivitas spiritual selama Ramadan memperkuat rasa syukur dan dukungan sosial, namun individu dengan kondisi mental tertentu disarankan berkonsultasi ke tenaga medis sebelum berpuasa.
Puasa selama bulan Ramadan tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga berdampak baik bagi kesehatan mental.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa puasa dapat membantu seseorang mengelola stres, menurunkan rasa cemas, hingga berpotensi mencegah depresi jika dilakukan dengan pola hidup yang sehat.
Saat berpuasa, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar mengendalikan emosi serta pikiran.
Proses ini secara tidak langsung melatih kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan dan menjaga kestabilan mental dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut, Popmama.com akan membahas tentang kata Kemenkes: Puasa bisa bantu cegah depresi dan cemas. Yuk simak pembahasan berikut ini.
Table of Content
Puasa Melatih Pengendalian Diri

Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan, puasa dapat menjadi sarana untuk melatih pengendalian diri. Selama Ramadan, seseorang diajak untuk lebih sabar, menahan amarah, serta menghindari perilaku yang dapat memicu emosi negatif.
Latihan pengendalian diri tersebut berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.
Ketika seseorang mampu mengontrol emosi dan respons terhadap masalah, tingkat stres yang dirasakan juga cenderung menurun. Kondisi ini membuat pikiran menjadi lebih tenang dan stabil.
Membantu Menurunkan Hormon Stres

Selain dari sisi psikologis, puasa juga memengaruhi kondisi biologis tubuh. Saat seseorang menjalani puasa dengan pola makan yang teratur dan istirahat yang cukup, tubuh dapat menjaga keseimbangan hormon dengan lebih baik.
Salah satu hormon yang berperan penting adalah kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan stres. Jika kadar hormon ini terlalu tinggi, seseorang dapat lebih mudah merasa cemas atau tertekan.
Puasa yang dijalani dengan baik dapat membantu menstabilkan hormon tersebut sehingga tubuh terasa lebih rileks. Mama dan Papa juga dapat mengendalikan hormon tersebut dengan cara berolahraga.
Aktivitas Spiritual Menenangkan Pikiran

Ramadan juga identik dengan berbagai aktivitas spiritual, seperti berdoa, membaca kitab suci, dan melakukan refleksi diri. Kegiatan-kegiatan tersebut memiliki efek menenangkan bagi pikiran.
Banyak ahli kesehatan mental menilai bahwa aktivitas spiritual dapat membantu seseorang memusatkan perhatian pada hal-hal positif dalam hidupnya.
Hal ini membuat pikiran lebih fokus pada rasa syukur, sehingga kecemasan dan tekanan mental dapat berkurang.
Selain itu, suasana Ramadan yang penuh kebersamaan juga membantu memperkuat hubungan sosial dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan sosial seperti ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.
Tetap Perlu Perhatian untuk Kondisi Tertentu

Meski puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan mental, tidak semua orang memiliki kondisi yang sama. Bagi sebagian orang dengan gangguan mental tertentu, puasa mungkin memerlukan penyesuaian khusus.
Karena itu, Kementerian Kesehatan menyarankan agar individu dengan kondisi kesehatan mental tertentu tetap berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjalankan puasa.
Itulah pembahasan mengenai kata Kemenkes: Puasa bisa bantu cegah depresi dan cemas. Puasa tidak hanya membawa manfaat spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Dengan melatih pengendalian diri, menyeimbangkan hormon stres, serta memperbanyak aktivitas spiritual, puasa dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan stabil secara emosional.
Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal jika puasa dijalani dengan pola hidup sehat, dukungan lingkungan yang positif, serta kesadaran untuk menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.










-ZCOxdOi4MJKKyV2xUxjDPoXhAMf4qQdO.png)







