Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Dermatofibroma: Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Mengenal Dermatofibroma: Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya
Wikimedia Commons/Mohammad2018
Intinya Sih
  • Dermatofibroma adalah benjolan jinak di kulit akibat pertumbuhan berlebih sel histiosit dan fibroblas, umumnya muncul di kaki, lengan, atau punggung atas, serta lebih sering dialami perempuan.
  • Penyebab pastinya belum diketahui, namun sering dikaitkan dengan reaksi kulit terhadap cedera ringan seperti gigitan serangga, luka goresan kecil, atau tertusuk serpihan.
  • Pencegahan dilakukan dengan melindungi kulit dari gigitan serangga, berhati-hati saat mencukur, segera mengobati luka kecil, dan mengenakan pakaian pelindung saat beraktivitas fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pernahkah kamu sedang asyik mengoleskan lotion di kaki atau lengan, lalu tiba-tiba merasakan ada sebuah benjolan kecil yang padat di bawah kulit? 

Warnanya mungkin sedikit gelap dan bentuknya sekilas mirip dengan tahi lalat, tapi saat disentuh terasa lebih keras seperti karet. 

Jika kamu pernah mengalaminya, jangan buru-buru panik dan membayangkan yang tidak-tidak. Bisa jadi, benjolan kecil tersebut adalah dermatofibroma.

Lalu apa itu dermatofibroma? Berikut Popmama.com membahas dermatofibroma: definisi, penyebab, dan cara pencegahannya. Yuk, simak sampai habis!

Table of Content

Apa Itu Dermatofibroma?

Apa Itu Dermatofibroma?

Dermatofibroma_ Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya 2.jpg
Wikimedia Commons/Jmarchn

Mengutip dari Harvard Medical School, dermatofibroma atau yang juga sering disebut sebagai histiocytoma adalah pertumbuhan jaringan fibrosa di kulit yang bersifat jinak alias nonkanker. Artinya, benjolan ini tidak akan berubah menjadi kanker kulit yang berbahaya.

Kondisi ini umumnya muncul di area tungkai kaki bagian bawah, lengan, atau punggung bagian atas. 

Fakta menariknya, benjolan ini ternyata lebih sering menyapa perempuan dibandingkan laki-laki. 

Ia terbentuk ketika sel-sel kulit tertentu bernama histiosit dan fibroblas berkembang biak secara berlebihan di lapisan tengah kulit (dermis). Hasilnya? Terbentuklah benjolan kecil yang kokoh dan menetap di sana.

Penyebab Munculnya Dermatofibroma

Dermatofibroma_ Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya 3.jpg
Pexels/MART PRODUCTION

Melansir dari Medical News Today, para ahli sebenarnya belum mengetahui secara pasti apa penyebab utama sel-sel kulit tersebut tumbuh berlebihan. 

Namun, ada satu teori kuat yang paling sering dikaitkan, yakni reaksi berlebihan kulit terhadap trauma atau cedera ringan.

Berikut adalah beberapa hal yang diyakini menjadi pemicu atau penyebab dermatofibroma:

  • Gigitan serangga: Reaksi lokal pada kulit setelah digigit nyamuk atau serangga lainnya sering kali memicu pertumbuhan jaringan fibrosa ini.
  • Luka goresan kecil: Cedera ringan yang sering kita abaikan, seperti tergores duri tanaman atau gesekan kasar, bisa memancing pembentukan benjolan.
  • Tertusuk serpihan: Serpihan kayu kecil (splinter) yang masuk ke dalam kulit dan memicu peradangan ringan juga kerap menjadi biang keroknya.
  • Faktor usia dan jenis kelamin: Meski bisa dialami oleh siapa saja, kondisi ini sangat jarang terjadi pada anak-anak dan didominasi oleh orang dewasa, khususnya perempuan.

Gejala dan Tanda Khas Dermatofibroma

Dermatofibroma_ Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya 4.jpg
Pexels/Towfiqu barbhuiya

Dilansir dari Britsh Association of Dermatologist, berikut adalah gejala dan tanda-tanda yang perlu kamu perhatikan:

  • Punya dimple sign (efek lesung pipit): Ini adalah cara paling mudah untuk mengenalinya. Coba cubit ringan area kulit di sekitar benjolan dari sisi kanan dan kirinya. Jika benjolan itu justru melesak atau mencekung ke dalam membentuk seperti lesung pipit, kemungkinan besar itu adalah dermatofibroma.
  • Terasa padat dan keras: Saat diraba, benjolan ini tidak terasa lunak atau berisi cairan, melainkan kokoh seperti sebutir kacang hijau atau kancing karet yang tertanam di bawah kulit.
  • Warna yang bervariasi: Pada orang berkulit terang, warnanya bisa merah muda, merah, atau keunguan. Sementara pada kulit yang lebih gelap, warnanya cenderung cokelat hingga kehitaman. Warnanya pun bisa memudar seiring berjalannya waktu.
  • Ukurannya kecil: Biasanya ukurannya hanya berkisar antara 0,5 hingga 1,5 sentimeter. Benjolan ini akan tumbuh perlahan lalu berhenti dan ukurannya akan menetap seperti itu bertahun-tahun.
  • Bisa terasa gatal atau nyeri: Umumnya, benjolan ini tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, sebagian orang mengeluhkan rasa gatal, perih, atau nyeri jika benjolan tersebut tergesek pakaian yang ketat atau tanpa sengaja terluka saat sedang mencukur bulu kaki.

Cara Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Dermatofibroma_ Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya 5.jpg
Pexels/www.kaboompics.com

Mengutip dari Primary Care Dermatology Society, penyebab utama dermatofibroma belum diketahui secara 100% pasti. Memang agak sulit untuk mencegahnya secara absolut. 

Namun, karena pemicu utamanya diyakini berasal dari trauma kecil pada kulit, kamu bisa meminimalisir risikonya dengan langkah-langkah pencegahan berikut ini:

  • Lindungi kulit dari gigitan serangga: Gunakan lotion anti-nyamuk atau kenakan pakaian panjang saat kamu beraktivitas di area yang banyak serangganya, seperti saat berkebun atau mendaki gunung.
  • Berhati-hati saat mencukur: Bagi kamu yang rutin mencukur bulu kaki, gunakan krim cukur dan pisau yang tajam, serta lakukan secara perlahan untuk menghindari risiko kulit terluka atau tergores.
  • Segera obati luka kecil: Jika kamu tergores atau tertusuk duri, jangan biarkan begitu saja. Segera cuci bersih area tersebut dengan sabun dan air, lalu obati agar tidak terjadi peradangan yang memicu pertumbuhan jaringan fibrosa.
  • Kenakan pakaian pelindung: Gunakan sarung tangan atau celana panjang tebal saat melakukan pekerjaan fisik yang berisiko membuat kulit tergores benda tajam.

Pengobatan Dermatofibroma

Dermatofibroma_ Definisi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya 6.jpg
Pexels/Khuram Naseem

Dilansir Medical News Today, pengobatan dermatofibroma sebenarnya tidak diperlukan. Namun, jika letaknya mengganggu penampilan atau sering berdarah karena tergesek baju, kamu bisa mempertimbangkan pengobatan medis. Berikut beberapa opsinya:

  • Observasi bagian kulit: Jika ukurannya kecil, tidak sakit, dan tidak mengganggu, dokter biasanya menyarankan untuk membiarkannya saja. Benjolan ini tidak akan menyebar ke area tubuh lain.
  • Operasi pengangkatan (Eksisi): Dokter kulit dapat memotong dan mengangkat seluruh benjolan ini melalui operasi kecil dengan bius lokal. Namun, perlu diingat, prosedur ini akan meninggalkan bekas luka (jaringan parut) yang mungkin lebih terlihat daripada benjolan aslinya.
  • Krioterapi (Pembekuan): Dokter akan menyemprotkan nitrogen cair untuk membekukan dan meratakan benjolan dengan permukaan kulit. Cara ini tidak terlalu meninggalkan bekas luka, tetapi ada risiko benjolan bisa tumbuh kembali di kemudian hari.
  • Pantang mengobati sendiri: Jangan pernah mencoba memencet, menusuk, atau memotong benjolan ini sendiri di rumah, karena hal itu justru dapat memicu infeksi parah.

Nah, itulah pembahasan mengenai dermatofibroma: definisi, penyebab, dan cara pencegahannya. Semoga bermanfaat!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More