Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Dollar AS Tembus Rp 18 Ribu, Kenapa Rupiah Melemah? Ini Penyebabnya!

Dollar AS Tembus Rp 18 Ribu, Kenapa Rupiah Melemah? Ini Penyebabnya!
Pexels/Polina Tankilevitch
Intinya Sih
  • Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.028 per dolar AS, menjadi level terendah sepanjang sejarah dan menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi nasional.
  • Faktor utama pelemahan rupiah meliputi inflasi tinggi, sentimen pasar negatif, defisit perdagangan, serta kenaikan suku bunga di negara maju yang mendorong arus modal keluar.
  • Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan kebijakan moneter, sementara ketahanan ekonomi domestik tetap jadi kunci memperkuat posisi rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Dari hari ke hari, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. Bahkan, berdasarkan pantauan pagi hari pada Kamis (4/6/2026), rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah yakni sebesar Rp 18.028 per dollar AS. 

Kenaikan ini membuat banyak masyarakat bertanya-tanya mengenai penyebab melemahnya mata uang Indonesia dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. 

Pasalnya, pergerakan kurs tidak hanya memengaruhi aktivitas perdagangan internasional, tetapi juga berpengaruh pada harga barang impor, biaya perjalanan ke luar negeri, hingga kondisi perekonomian nasional secara keseluruhan.

Lantas, apa yang menjadi penyebab rupiah melemah? Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan melansir dari berbagai sumber.

Table of Content

Penyebab Rupiah Melemah

Penyebab Rupiah Melemah

1. Tekanan inflasi yang tinggi

inflasi yang tinggi
Magnific/xb100

Inflasi yang tidak terkendali menjadi salah satu faktor utama yang dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Ketika tingkat inflasi dalam negeri meningkat terlalu tinggi, daya beli masyarakat akan menurun karena harga barang dan jasa terus mengalami kenaikan.

Selain mengurangi kemampuan masyarakat dalam berbelanja, inflasi yang tinggi juga dapat meningkatkan biaya produksi berbagai sektor usaha. Akibatnya, produk-produk dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan produk dari negara lain di pasar internasional.

Kondisi tersebut sering kali membuat investor dan pelaku pasar menghindari mata uang yang nilai riilnya terus menurun. Sebaliknya, ketika inflasi berada pada level yang rendah dan stabil, harga produk domestik dapat tetap bersaing di pasar global. 

Situasi ini berpotensi meningkatkan ekspor dan mendorong permintaan terhadap rupiah, sehingga nilai tukarnya dapat menguat.

2. Sentimen pasar dan spekulasi investor

investor saat rupiah melemah
Pexels/AlphaTradeZone

Pergerakan mata uang sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan pelaku pasar. Karena itu, berbagai informasi yang berkaitan dengan kondisi politik, keamanan, maupun ekonomi suatu negara dapat memberikan dampak besar terhadap nilai tukar.

Ketika muncul kabar negatif atau ketidakpastian yang menimbulkan kekhawatiran, investor cenderung mengambil langkah aman dengan menarik dananya dari pasar domestik. Situasi ini dapat menyebabkan berkurangnya permintaan terhadap rupiah.

Di sisi lain, sentimen negatif sering kali memicu aksi jual secara besar-besaran dalam waktu singkat. Fenomena tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat dan menyebabkan nilainya melemah secara cepat.

3. Dinamika neraca perdagangan

neraca perdagangan
Pexels/Artem Podrez

Neraca perdagangan merupakan salah satu indikator penting yang menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kekuatan nilai tukar rupiah.

Ketika nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor atau terjadi surplus perdagangan, permintaan terhadap rupiah akan meningkat. 

Hal ini terjadi karena pembeli dari luar negeri perlu menukarkan mata uang mereka ke rupiah untuk membayar produk yang dibeli dari Indonesia.

Sebaliknya, jika impor lebih besar daripada ekspor dan terjadi defisit perdagangan, kebutuhan terhadap mata uang asing menjadi lebih tinggi. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah meningkat. 

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia biasanya melakukan berbagai langkah, seperti intervensi di pasar valuta asing maupun penyesuaian suku bunga guna menarik aliran modal asing masuk ke Indonesia.

4. Ketahanan pertumbuhan ekonomi nasional

ekonomi nasional
Pexels/Defrino Maasy

Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil menjadi salah satu faktor yang mampu menarik perhatian investor global. Ketika kondisi ekonomi suatu negara dinilai sehat, tingkat kepercayaan pasar biasanya ikut meningkat.

Kepercayaan tersebut mendorong masuknya investasi asing atau capital inflow ke dalam negeri. Semakin banyak dana yang masuk, semakin besar pula permintaan terhadap aset dan mata uang domestik, termasuk rupiah.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang positif memberikan sinyal bahwa risiko investasi relatif rendah. Faktor ini membuat rupiah dipandang lebih bernilai dan memiliki peluang untuk menguat di tengah persaingan pasar global.

5. Fluktuasi harga komoditas dunia

uang rupiah
Unsplash/Mufidpwt

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara eksportir komoditas utama dunia, termasuk minyak sawit dan batu bara. Oleh karena itu, pergerakan harga komoditas global memiliki hubungan yang cukup erat dengan nilai tukar rupiah.

Ketika harga komoditas unggulan Indonesia mengalami kenaikan di pasar internasional, penerimaan devisa negara ikut meningkat. Aliran dana yang masuk tersebut dapat memperkuat posisi rupiah terhadap mata uang asing.

Namun, kondisi sebaliknya dapat terjadi saat harga komoditas dunia mengalami penurunan. Pendapatan devisa berkurang dan arus modal masuk melambat, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan berpotensi menyebabkan depresiasi rupiah.

6. Beban utang luar negeri

beban utang luar negeri
Vecteezy/tri agung susilo haryono

Utang luar negeri juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi lemahnya nilai tukar rupiah. Ketika pemerintah maupun sektor swasta memiliki kewajiban pembayaran utang dalam jumlah besar, kebutuhan terhadap dollar AS akan meningkat.

Permintaan mata uang asing yang tinggi untuk membayar cicilan maupun bunga utang dapat memberikan tekanan terhadap rupiah. Semakin besar kebutuhan dollar, semakin tinggi pula potensi pelemahan nilai tukar mata uang domestik.

Selain untuk membayar utang, ketergantungan pada mata uang asing dalam aktivitas perdagangan internasional juga turut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Faktor ini membuat posisi rupiah menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar global.

7. Kenaikan suku bunga di negara lain

US dollar
Pexels/kaboompics

Kebijakan suku bunga yang diterapkan negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat melalui bank sentralnya, sering kali berdampak langsung terhadap pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketika suku bunga di Amerika Serikat naik, instrumen investasi berbasis dollar menjadi lebih menarik bagi investor karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan tingkat risiko relatif rendah.

Akibatnya, banyak investor memindahkan dana mereka dari negara berkembang ke aset berbasis dollar. Perpindahan modal tersebut menyebabkan permintaan terhadap rupiah menurun dan membuat nilai tukarnya semakin tertekan.

8. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu

dollar cost averaging
Pexels/kaboompics.com

Kekuatan rupiah juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia. Berbagai perubahan yang terjadi di tingkat global dapat memengaruhi keputusan investor dalam menanamkan modal di Indonesia.

Beberapa faktor yang sering memicu ketidakpastian antara lain perubahan kebijakan moneter negara-negara besar, krisis energi, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global. Situasi tersebut dapat membuat investor memilih menarik dananya dari pasar domestik.

Ketika terjadi capital outflow atau arus modal keluar, permintaan terhadap rupiah ikut menurun sehingga nilai tukarnya melemah. 

Namun, apabila ekonomi Indonesia mampu menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan fundamental yang kuat di tengah berbagai tekanan global tersebut, rupiah memiliki peluang untuk tetap bertahan dan bahkan menguat.

Itulah sejumlah faktor yang dapat menyebabkan rupiah melemah terhadap mata uang asing, termasuk dollar AS.

Meski kondisi nilai tukar dipengaruhi banyak faktor, stabilitas ekonomi dalam negeri tetap menjadi salah satu kunci utama untuk menjaga kekuatan rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More