- Sakit kepala hebat
- Nyeri dada
- Pusing
- Sulit bernapas
- Mual dan muntah
- Penglihatan buram atau berubah
- Rasa cemas berlebihan
- Kebingungan
- Telinga berdenging
- Mimisan
- Detak jantung tidak teratur
Mengenal Hipertensi Tingkat 1: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

- Hipertensi tingkat 1 terjadi saat tekanan darah berada di kisaran 130–139/80–89 mmHg dan sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting.
- Penyebab utamanya meliputi pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, serta faktor genetik atau riwayat keluarga dengan hipertensi.
- Penanganan dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup seperti diet seimbang, olahraga teratur, berhenti merokok, membatasi garam dan alkohol, serta pengobatan sesuai anjuran dokter bila diperlukan.
Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kamu mengecek tekanan darah? Buat sebagian besar orang, jawabannya mungkin sudah lama sekali. JIka hasil tes menunjukkan angka 130/85 mmHg yang terlihat biasa saja, itu sebenarnya sudah masuk kategori hipertensi tingkat 1, alias gerbang awal menuju masalah kesehatan yang lebih serius.
Kabar baiknya, hipertensi tingkat 1 masih sangat mungkin dikendalikan asal kamu tahu triknya sejak dini agar bisa dikontrol dan tidak menjadi semakin parah.
Agar kamu dapat memahami hipertensi tingkat 1, berikut Popmama.com merangkum hipertensi tingkat 1: gejala, penyebab, dan cara mengatasinya. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Apa Itu Hipertensi Tingkat 1?

Sebelum masuk ke tingkatannya, penting untuk memahami dahulu apa itu hipertensi secara umum. Melansir World Health Organization (WHO), hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika tekanan di pembuluh darah terlalu tinggi, yaitu di angka 140/90 mmHg atau lebih saat diperiksa pada 2 hari berbeda. Kondisi ini tergolong umum, tetapi dapat berbahaya jika tidak ditangani.
Nah, sebelum sampai di titik itu, tekanan darah biasanya naik pelan-pelan melalui beberapa tahapan. Mengutip Now Serving, hipertensi tingkat 1 adalah tahap ketika tekanan darah sistolik berada di angka 130–139 mmHg atau diastolik di 80–89 mmHg.
Di fase inilah biasanya dokter mulai menyarankan perubahan gaya hidup, karena kalau dibiarkan, angka ini bisa terus merangkak naik menuju hipertensi yang lebih berat.
Gejala Hipertensi Tingkat 1 yang Perlu Diwaspadai

Menurut WHO, mayoritas penderita hipertensi tidak merasakan gejala sama sekali, sehingga satu-satunya cara mengetahuinya adalah dengan rutin memeriksa tekanan darah.
Mengutip Now Serving, hipertensi tingkat 1 tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas, sehingga pemantauan rutin menjadi kunci penting.
Meski begitu, kalau tekanan darah sudah naik sangat tinggi, WHO mencatat beberapa gejala yang bisa muncul dan perlu diwaspadai, di antaranya:
Kalau kamu mengalami beberapa gejala di atas bersamaan dengan tekanan darah yang tinggi, segera cari pertolongan medis, ya.
Penyebab Hipertensi Tingkat 1

Mengutip NowServing, beberapa hal yang berkontribusi terhadap naiknya tekanan darah antara lain:
- Pola makan yang kurang sehat
- Kurangnya aktivitas fisik
- Obesitas atau kelebihan berat badan
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan hipertensi
Menariknya, faktor-faktor ini sebenarnya saling berkaitan. Pola makan yang buruk dapat memicu obesitas. Obesitas menambah beban kerja jantung, dan kalau ditambah riwayat keluarga, risikonya pun makin menumpuk.
Tingkatan Tekanan Darah

Mengutip Now Serving, berikut tekanan darah ke dalam beberapa kategori berikut:
- Normal: sistolik di bawah 120 mmHg dan diastolik di bawah 80 mmHg
- Meningkat (elevated): sistolik 120–129 mmHg dengan diastolik di bawah 80 mmHg
- Hipertensi tingkat 1: sistolik 130–139 mmHg atau diastolik 80–89 mmHg
- Hipertensi tingkat 2: sistolik 140 mmHg atau lebih, atau diastolik 90 mmHg atau lebih
- Krisis hipertensi: tekanan darah di atas 180/120 mmHg dan butuh penanganan medis segera
Dengan mengetahui posisi angkamu ada di kategori mana, kamu jadi lebih mudah menentukan langkah selanjutnya, apakah cukup dengan mengubah gaya hidup atau sudah perlu bantuan obat-obatan.
Faktor Risiko Hipertensi Tingkat 1

Selain penyebab langsung, ada juga faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami hipertensi. Menurut WHO, faktor risiko ini terbagi menjadi dua jenis.
Faktor yang bisa diubah (modifiable):
- Pola makan tidak sehat, termasuk konsumsi garam berlebihan
- Diet tinggi lemak jenuh dan lemak trans
- Kurang konsumsi buah dan sayur
- Kurang aktivitas fisik
- Konsumsi tembakau dan alkohol
- Kelebihan berat badan atau obesitas
- Paparan polusi udara
Faktor yang tidak bisa diubah (non-modifiable):
- Riwayat keluarga dengan hipertensi
- Usia di atas 65 tahun
- Memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau penyakit ginjal
Cara Mengatasi Hipertensi Tingkat 1

Kabar baiknya, hipertensi tingkat 1 masih ada di fase yang bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup. Melansir WHO, berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba:
- Perbanyak konsumsi sayur dan buah
- Kurangi waktu duduk terlalu lama
- Aktif bergerak, misalnya jalan kaki, lari, berenang, atau menari, minimal 150 menit per minggu untuk aktivitas intensitas sedang
- Lakukan latihan kekuatan otot minimal dua kali seminggu
- Turunkan berat badan jika kamu kelebihan berat badan atau obesitas
- Batasi konsumsi garam, usahakan di bawah 2 gram per hari
- Hindari makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans
- Berhenti merokok atau menggunakan produk tembakau
- Batasi konsumsi alkohol
- Kelola stres dengan baik
- Rutin memeriksa tekanan darah dan menjaga jadwal kontrol ke dokter
Perawatan dan Pengobatan Hipertensi Tingkat 1

Kalau perubahan gaya hidup saja belum cukup, biasanya dokter akan menambahkan perawatan medis. Secara garis besar, penanganannya terbagi menjadi dua pendekatan.
Perawatan non-farmakologis (gaya hidup), menurut WHO meliputi:
- Menjalani pola makan sehat rendah garam
- Menurunkan berat badan
- Aktif bergerak secara rutin
- Berhenti merokok
Perawatan farmakologis (obat-obatan), yang biasanya diresepkan dokter sesuai kebutuhan, di antaranya:
- ACE inhibitor: Seperti enalapril dan lisinopril, yang bekerja melemaskan pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal
- Angiotensin-2 receptor blockers (ARB): Seperti losartan dan telmisartan, dengan fungsi serupa ACE inhibitor
- Calcium channel blockers: Seperti amlodipine dan felodipine, yang membantu melemaskan pembuluh darah
- Diuretik: Seperti hydrochlorothiazide dan chlorthalidone, yang membantu membuang kelebihan cairan dari tubuh sehingga tekanan darah turun
Melansir Now Serving, hydrochlorothiazide kerap menjadi salah satu pilihan obat lini pertama untuk hipertensi. Meski begitu, jenis dan dosis obat tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang, jadi jangan pernah minum obat tekanan darah tanpa resep dokter, ya.
Nah, itulah pembahasan mengenai hipertensi tingkat 1: gejala, penyebab, dan cara mengatasinya. Semoga informatif dan bermanfaat!





















