8 Penyebab Eksim Basah yang Perlu Dipahami secara Mendalam

- Iritasi kulit kronis akibat paparan zat tertentu menjadi pemicu utama eksim basah
- Reaksi alergi terhadap zat tertentu juga kerap memicu eksim basah
- Lingkungan lembap dan kondisi kulit yang terlalu basah dapat memperparah eksim basah
Eksim basah merupakan bentuk peradangan kulit yang ditandai dengan kemerahan, gatal intens, luka terbuka, hingga keluarnya cairan. Kondisi ini sering berkembang dari iritasi ringan yang tidak ditangani dengan tepat.
Seiring waktu, peradangan yang terus berulang dapat merusak lapisan pelindung kulit dan membuatnya semakin rentan. Berbeda dengan masalah kulit sementara, eksim basah biasanya dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
Karena itulah, mengenali penyebabnya secara menyeluruh sangat penting agar penanganan tidak hanya bersifat sementara. Berikut Popmama.com akan menjelaskan 8 penyebab eksim basah yang perlu dipahami secara mendalam.
1. Iritasi kulit kronis akibat paparan zat tertentu

Iritasi kulit yang terjadi berulang merupakan pemicu utama eksim basah. Zat iritan seperti sabun berbahan keras, deterjen, cairan antiseptik, alkohol, atau bahan kimia rumah tangga dapat merusak skin barrier secara perlahan.
Kerusakan ini tidak selalu langsung terlihat, tetapi membuat kulit kehilangan kemampuan mempertahankan kelembapan alami. Ketika lapisan pelindung kulit melemah, air di dalam kulit mudah menguap dan kulit menjadi kering serta rapuh.
Kondisi ini memicu peradangan yang membuat kulit terasa gatal dan perih. Jika iritasi terus berlanjut tanpa perlindungan atau perawatan yang memadai, peradangan dapat berkembang menjadi luka yang mengeluarkan cairan, ciri khas eksim basah.
Selain itu, iritasi kronis sering diperparah oleh kebiasaan membersihkan kulit terlalu sering. Kulit yang terus “dibersihkan” justru kehilangan minyak alaminya. Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan siklus iritasi dan peradangan yang sulit dihentikan.
2. Reaksi alergi yang memicu respon imun berlebihan

Eksim basah juga kerap dipicu oleh reaksi alergi terhadap zat tertentu. Alergen dapat berupa bahan pakaian, alas kaki, logam, parfum, pewarna tekstil, hingga kandungan kosmetik atau produk perawatan kulit.
Pada individu dengan sensitivitas tinggi, paparan kecil saja sudah cukup untuk memicu reaksi. Saat alergen menyentuh kulit, sistem imun bereaksi dengan melepaskan zat peradangan. Reaksi ini menyebabkan kemerahan, pembengkakan, dan rasa gatal.
Jika paparan berulang dan tidak dihindari, peradangan menjadi semakin berat dan kulit dapat membentuk lepuhan berisi cairan. Kondisi alergi ini sering sulit dikenali karena gejalanya tidak selalu muncul secara instan.
Kadang reaksi baru terlihat setelah paparan berulang dalam jangka waktu lama. Inilah yang membuat eksim basah akibat alergi sering kambuh di area yang sama.
3. Lingkungan lembap dan kondisi kulit yang terlalu basah

Kelembapan berlebih menjadi faktor penting dalam munculnya eksim basah. Kulit yang sering berkeringat, tertutup dalam waktu lama, atau tidak dikeringkan dengan baik menciptakan lingkungan yang ideal untuk peradangan. Kelembapan membuat kulit menjadi lebih lunak dan mudah rusak.
Pada kondisi ini, lapisan luar kulit tidak mampu berfungsi optimal sebagai pelindung. Gesekan ringan saja sudah cukup untuk menimbulkan iritasi. Jika kondisi lembap berlangsung lama, kulit akan semakin rentan mengalami luka terbuka yang mengeluarkan cairan.
Lingkungan lembap juga mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Kombinasi antara kelembapan, iritasi, dan mikroba inilah yang sering memperparah eksim hingga menjadi basah dan sulit sembuh.
4. Infeksi bakteri atau jamur sebagai faktor pemberat

Infeksi bukan selalu penyebab awal eksim basah, tetapi sering menjadi faktor yang memperburuk kondisi. Kulit yang meradang dan terluka akibat garukan menjadi pintu masuk bagi bakteri atau jamur. Ketika mikroorganisme ini berkembang, peradangan pada kulit meningkat drastis.
Infeksi menyebabkan kulit menghasilkan cairan, terasa nyeri, dan tampak lebih merah. Dalam beberapa kasus, cairan dapat berbau atau disertai rasa panas. Kondisi ini menandakan bahwa eksim telah memasuki fase basah yang lebih serius.
Tanpa penanganan yang tepat, infeksi dapat menyebar ke area kulit lain. Proses penyembuhan pun menjadi lebih lama karena tubuh harus melawan peradangan sekaligus infeksi.
5. Faktor genetik yang mempengaruhi kekuatan skin barrier

Riwayat keluarga memiliki peran besar dalam terjadinya eksim basah. Faktor genetik dapat memengaruhi struktur dan fungsi lapisan pelindung kulit. Pada orang dengan kecenderungan genetik, kulit lebih mudah kehilangan kelembapan dan lebih sensitif terhadap rangsangan luar.
Kondisi ini membuat kulit cepat bereaksi terhadap iritan atau alergen ringan. Peradangan pun lebih mudah terjadi dan cenderung berlangsung lebih lama. Jika tidak dirawat dengan baik, eksim yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi eksim basah.
Meski faktor genetik tidak bisa diubah, dampaknya dapat diminimalkan. Perawatan kulit yang konsisten sangat penting untuk menjaga fungsi pelindung kulit tetap optimal.
6. Stres berkepanjangan dan pengaruh hormon

Stres memiliki dampak nyata terhadap kondisi kulit. Saat stres, tubuh melepaskan hormon tertentu yang dapat memicu peradangan. Pada penderita eksim, perubahan hormon ini sering memicu kambuhnya gejala.
Selain itu, stres dapat memperburuk persepsi gatal. Rasa gatal terasa lebih intens sehingga keinginan untuk menggaruk meningkat. Garukan berulang inilah yang mempercepat kerusakan kulit dan memicu eksim basah.
Stres yang tidak dikelola juga mengganggu proses regenerasi kulit. Akibatnya, luka menjadi lebih lama sembuh dan peradangan bertahan lebih lama.
7. Kebiasaan menggaruk yang merusak struktur kulit

Menggaruk merupakan respons alami terhadap rasa gatal, tetapi dapat memperparah eksim. Setiap garukan menyebabkan mikro-luka pada kulit yang tidak selalu terlihat. Luka kecil ini memperlemah lapisan pelindung kulit dan memicu keluarnya cairan.
Semakin sering digaruk, semakin parah peradangan yang terjadi. Kulit menjadi lebih tebal, sensitif, dan mudah luka. Siklus gatal–garuk–luka ini menjadi salah satu alasan utama eksim basah sulit sembuh.
Dalam jangka panjang, kebiasaan menggaruk juga meningkatkan resiko infeksi. Hal ini membuat eksim tidak hanya basah, tetapi juga lebih luas dan berat.
8. Kondisi kulit kering dan kurang terawat

Kulit yang kering dan jarang dirawat memiliki daya tahan yang lebih rendah. Tanpa kelembapan yang cukup, lapisan pelindung kulit mudah rusak. Kondisi ini membuat kulit lebih sensitif terhadap iritan dan alergen.
Jika kulit kering terus terpapar pemicu eksim, peradangan dapat berkembang lebih cepat. Tanpa perawatan rutin, kulit kehilangan kemampuan memperbaiki dirinya sendiri. Akibatnya, eksim mudah berubah menjadi bentuk basah.
Perawatan kulit yang tidak konsisten sering menjadi faktor tersembunyi yang memperparah eksim. Padahal, menjaga kelembapan kulit merupakan langkah dasar untuk mencegah eksim basah.
Eksim basah merupakan kondisi kulit yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari iritasi, alergi, lingkungan, hingga faktor genetik dan psikologis. Penyebab-penyebab tersebut sering saling berkaitan dan memperburuk satu sama lain.
Oleh karena itu, penanganan eksim basah tidak bisa hanya fokus pada satu faktor saja. Dengan memahami 8 penyebab eksim basah secara menyeluruh, langkah pencegahan dan perawatan dapat dilakukan lebih efektif.
Jika gejala semakin berat atau sering kambuh, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan agar penanganan lebih tepat dan terarah. Yuk mulai atur kegiatan dengan pola hidup yang sehat serta menjaga ekstra kebersihan tubuh.


















