Banyak orang mengira GERD muncul hanya karena telat makan atau terlalu sering konsumsi makanan pedas. Hal ini memanglah benar, namun penyebab GERD juga bisa jauh lebih luas dari itu.
6 Penyebab GERD, Ternyata Bukan Cuma karena Pola Makan

- GERD terjadi saat asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup lambung, menyebabkan sensasi panas di dada dan tenggorokan terasa tidak nyaman.
- Faktor pemicu GERD meliputi tekanan berlebih di perut karena obesitas, kehamilan, pakaian ketat, serta gangguan seperti hernia hiatal dan gastroparesis yang menghambat kerja sistem pencernaan.
- Kebiasaan makan berlebihan, langsung rebahan setelah makan, konsumsi makanan tinggi lemak atau pedas, merokok, efek obat-obatan tertentu, serta kondisi medis seperti asma dapat memperparah gejala GERD.
GERD sendiri terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan rasa panas di dada, mulut terasa pahit, atau tenggorokan seperti mengganjal. Naiknya asam lambung ini biasanya bukan tanpa sebab.
Ada faktor tertentu yang membuat pintu antara lambung dan kerongkongan tidak bekerja dengan baik.
Supaya lebih mudah memahami kenapa GERD bisa sering kambuh, simak 6 penyebab GERD yang telah Popmama.com rangkum berikut ini, yuk!
Table of Content
1. Katup lambung yang melemah

Salah satu penyebab utama GERD adalah masalah pada otot katup di bagian bawah kerongkongan, yang dikenal sebagai lower esophageal sphincter (LES).
University California Los Angeles Health menjelaskan otot ini seharusnya bekerja seperti pintu otomatis yang terbuka saat makanan masuk ke lambung, lalu menutup rapat agar isi lambung tidak naik kembali.
Namun, pada penderita GERD, katup ini bisa melemah atau terlalu sering terbuka tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini berujung pada asam lambung yang lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan rasa panas di dada atau tenggorokan terasa tidak nyaman.
2. Berat badan berlebih, kehamilan, dan tekanan di area perut

Tekanan berlebih pada perut ternyata juga bisa memicu GERD. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, orang dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami refluks asam karena lemak di area perut memberi tekanan ekstra pada lambung.
Tekanan ini membuat isi lambung lebih mudah terdorong naik ke kerongkongan, terutama setelah makan banyak atau saat berbaring.
Hal serupa juga sering dialami ibu hamil. Selain karena posisi janin yang menekan lambung, perubahan hormon selama kehamilan juga dapat membuat otot pencernaan menjadi lebih rileks, termasuk katup lambung. Itulah kenapa keluhan asam lambung juga sering muncul saat trimester akhir kehamilan.
Tidak hanya faktor dari dalam tubuh, tekanan dari luar juga bisa berpengaruh. Richmond Gastroenterology Associates menyebutkan bahwa penggunaan pakaian yang terlalu ketat, ikat pinggang yang sempit, atau korset juga dapat memberi tekanan tambahan pada perut dan memperbesar risiko refluks.
3. Gangguan pada struktur atau gerakan lambung

Pada sebagian orang, GERD terjadi karena ada masalah pada struktur tubuh atau cara kerja sistem pencernaan.
Salah satu kondisi yang cukup sering ditemukan adalah hernia hiatal, yaitu ketika bagian atas lambung bergeser naik melewati diafragma. Kondisi ini membuat dukungan alami untuk katup lambung jadi berkurang, sehingga asam lebih mudah naik.
Selain itu, Northwestern Medicine menjelaskan adanya kondisi bernama gastroparesis, yaitu ketika lambung mengosongkan makanan lebih lambat dari biasanya. Akibatnya, makanan tertahan terlalu lama di lambung dan meningkatkan tekanan di dalamnya.
Pada kondisi tertentu, gangguan jaringan ikat seperti skleroderma juga bisa menjadi pemicu. Kondisi ini membuat gerakan kerongkongan melemah, sehingga asam yang sudah naik menjadi lebih sulit dibersihkan kembali ke lambung.
4. Pola makan dan kebiasaan sehari-hari

Tanpa disadari, kebiasaan kecil sehari-hari bisa membuat GERD lebih mudah kambuh. Salah satunya makan dalam porsi terlalu besar sekaligus atau makan terlalu dekat dengan waktu tidur.
Saat lambung terlalu penuh, tekanan di dalamnya akan meningkat. Kalau setelah makan langsung rebahan, gravitasi tidak lagi membantu menahan isi lambung tetap di bawah, sehingga refluks jadi lebih mudah terjadi.
Selain itu, beberapa makanan dan minuman tertentu juga bisa memengaruhi kerja katup lambung. Makanan tinggi lemak, makanan pedas, kopi, alkohol, cokelat, hingga mint (peppermint) dapat membuat otot katup lambung lebih rileks.
Hal ini menyebabkan asam lambung punya peluang lebih besar untuk naik ke kerongkongan.
Bukan cuma itu, posisi tubuh seperti terlalu sering membungkuk setelah makan, mengangkat beban berat, atau tidur terlalu datar juga bisa memicu gejala GERD menjadi lebih terasa.
5. Merokok dan efek samping obat-obatan

Kebiasaan merokok ternyata tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga bisa memperburuk GERD. Rokok dapat membuat katup lambung menjadi lebih lemah sekaligus mengurangi produksi air liur.
Padahal, air liur punya fungsi penting untuk membantu membersihkan dan menetralkan asam yang naik ke kerongkongan.
Mengutip dari UCLA Health, orang dengan produksi air liur rendah (xerostomia), baik karena kondisi medis tertentu maupun efek samping obat, juga lebih rentan mengalami iritasi akibat refluks asam.
Selain itu, beberapa jenis obat tertentu diketahui dapat memicu GERD pada sebagian orang. Mulai dari obat asma, antihistamin, obat penenang, hingga antidepresan bisa memiliki efek samping berupa pelemahan katup lambung.
6. Kondisi medis tertentu

Beberapa masalah kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya ternyata juga berkaitan dengan GERD. UCLA Health menjelaskan bahwa penderita asma cukup sering mengalami refluks asam, dan hubungan keduanya bisa saling memengaruhi.
Batuk terus-menerus atau tekanan di dada akibat asma dapat memicu naiknya asam lambung. Refluks asam yang mencapai saluran napas juga bisa membuat gejala asma terasa lebih buruk.
Itulah 6 penyebab GERD yang ternyata tidak selalu berkaitan dengan pola makan. Setelah mengetahuinya, yuk mulai lebih peka terhadap kebiasaan yang mungkin tanpa sadar jadi pemicunya!


















