unsplash.com/Eko Herwantoro
Di sisi lain, sebaran asap karhutla yang sempat memasuki atmosfer Jakarta dan wilayah sekitarnya dilaporkan mulai menjauh sejak Sabtu (17/10/2026).
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial Chico Hakim mengatakan, berkurangnya sebaran asap dipengaruhi perubahan pola angin. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mewaspadai kemungkinan perubahan arah angin yang dapat membawa kembali asap ke ibu kota.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap karhutla memasuki atmosfer Jawa bagian barat, meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, pada Jumat (16/10/2026).
Hasil pemantauan satelit sehari kemudian menunjukkan asap mulai bergerak menjauh secara bertahap. Namun, sisa sebaran asap masih terdeteksi di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki atau 3–5,4 kilometer.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan, perubahan pola angin pada ketinggian tersebut memengaruhi pergerakan asap. Ia juga menegaskan bahwa keberadaan asap yang terdeteksi melalui satelit tidak selalu menandakan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan.
Kendati demikian, kualitas udara Jakarta masih perlu diwaspadai. BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran berkisar 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik, dengan kondisi yang berada dalam rentang kategori sedang hingga tidak sehat.