“Keputihan masih bisa dianggap normal jika warnanya masih putih. Kemudian, tidak gatal, tidak bau, tidak ada keluhan, itu masih bisa kita anggap normal. Karena secara normal, vagina adalah organ yang bisa mengeluarkan cairan sendiri,” kata dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS selaku Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RS Pondok Indah - Puri Indah saat diwawacarai secara eksklusif dalam sesi Popmama Talk edisi Maret 2026.
Panduan Kesehatan Vagina: Mengenali Keputihan dan Cara Perawatan Tepat

- Keputihan normal berwarna putih atau bening tanpa rasa gatal dan bau, menandakan vagina bekerja secara alami menjaga kebersihan diri.
- Perubahan warna keputihan menjadi kuning atau hijau bisa menandakan infeksi akibat bakteri atau jamur yang perlu segera diperiksa ke dokter.
- Perawatan vagina cukup dengan air mengalir tanpa sabun khusus agar keseimbangan bakteri baik tetap terjaga dan mencegah infeksi.
Keputihan merupakan kondisi yang cukup umum dialami oleh perempuan. Meski sering terjadi, tidak sedikit yang masih merasa bingung membedakan antara keputihan yang normal dan yang perlu diwaspadai.
Padahal, memahami kondisi ini penting agar kesehatan area kewanitaan tetap terjaga. Pada dasarnya, vagina memiliki mekanisme alami untuk menjaga kebersihannya sendiri, termasuk dengan mengeluarkan cairan.
Namun, perubahan warna, bau, atau munculnya rasa tidak nyaman bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk mengetahui ciri-ciri keputihan normal, penyebab perubahan warna, hingga cara merawat vagina dengan tepat.
Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan berdasarkan penjelasan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.
Table of Content
1. Keputihan putih tanpa keluhan masih tergolong normal

Keputihan sebenarnya merupakan proses alami dari tubuh. Vagina memiliki kemampuan untuk membersihkan dirinya sendiri dengan cara mengeluarkan cairan yang biasanya berwarna putih atau bening.
Selama tidak disertai keluhan tertentu, kondisi ini masih tergolong normal. Keputihan yang normal umumnya tidak menimbulkan rasa gatal, tidak berbau menyengat, dan tidak menyebabkan rasa tidak nyaman pada area kewanitaan.
Kondisi ini justru menjadi tanda bahwa organ reproduksi sedang menjalankan fungsi alaminya dengan baik.
“Tapi, jika memang ada keluhan, misalnya gatal atau bau. Kalau warnanya mungkin sudah berubah, seperti kuning, atau hijau itu harus segera diperiksakan,” lanjutnya.
2. Perubahan warna keputihan bisa menandakan infeksi

Jika warna keputihan mulai berubah menjadi kuning atau kehijauan, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Perubahan warna ini sering kali menjadi tanda adanya infeksi pada area kewanitaan.
Infeksi yang paling sering terjadi biasanya disebabkan oleh bakteri atau jamur. Ketika infeksi muncul, cairan yang awalnya putih bening bisa berubah warna dan terkadang disertai bau yang tidak sedap. Bau tersebut bahkan bisa terasa amis atau menyengat.
“Biasanya paling sering penyebabnya adalah infeksi bakteri atau infeksi jamur, itu akan menyebabkan yang harusnya normal putih bening, menjadi seperti kuning atau kehijauan. Ada yang berbau atau nggak, kalau infeksi biasanya berbau, baunya itu seperti amis atau bahkan bisa sampai berbau busuk,” jelas dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS.
3. Pengobatan keputihan harus disesuaikan dengan penyebabnya

Tidak semua keputihan membutuhkan pengobatan yang sama. Cara penanganannya harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya, apakah berasal dari infeksi jamur, bakteri, atau kondisi lainnya.
Karena itu, pemeriksaan ke dokter sangat disarankan ketika muncul gejala yang tidak biasa. Dengan mengetahui penyebabnya secara pasti, dokter dapat memberikan pengobatan yang tepat sehingga masalah kesehatan tidak semakin berkembang.
“Pengobatannya berbeda-beda tergantung penyebabnya. Itu sebabnya, kalau ada keputihan ada baiknya segera dicek, karena kalau keputihannya masih yang berbau, tapi gatel, bentuknya menggumpal seperti susu basi, itu biasanya lebih mengarah ke jamur. Tapi kalau sudah bau, warnanya hijau, itu biasanya bakteri jadi obatnya beda lagi dari yang cuma putih susu menggumpal,” ujar dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS.
4. Infeksi yang dibiarkan bisa berdampak pada organ reproduksi

Jika keputihan yang disebabkan oleh infeksi tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman.
Dalam jangka pendek, perempuan bisa merasakan area kewanitaan menjadi lebih lembap dan basah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun, yang perlu diwaspadai adalah efek jangka panjangnya. Infeksi yang tidak diobati dapat menyebar ke organ reproduksi lain seperti rahim hingga indung telur.
Kondisi ini tentu berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
“Efek jangka pendek biasanya kita akan merasa nggak nyaman, lebih lembap dan basah. Tapi harus berhati-hati dengan efek jangka panjang, kalau infeksi, dia bisa merembet ke dalam dan menginfeksi saluran kewanitaan yang lain, seperti rahim, atau indung telur, nah itu bisa memebgaruhi sampai ke sana. Makanya kalau ada infeksi sebaiknya diperiksakan segera,” tegas dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS.
5. Membersihkan vagina cukup dengan air mengalir

Banyak orang masih beranggapan bahwa vagina harus dibersihkan menggunakan sabun khusus agar lebih higienis. Padahal, penggunaan sabun secara berlebihan justru bisa mengganggu keseimbangan bakteri baik yang ada di dalam vagina.
Bakteri baik tersebut berfungsi menjaga kesehatan area kewanitaan dan mencegah infeksi. Jika keseimbangannya terganggu, bakteri jahat akan lebih mudah berkembang dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
“Mencuci vagina itu cukup dengan air mengalir saja, jadi tidak perlu menggunakan sabun apalagi sampai berlebihan. Karena secara normal vagina itu punya bakteri baik. Justru kalau bakteri baiknya hilang, itu akan menyebabkan bakteri jahat jadi gampang masuk dan terjaid infeksi. Jadi rekomendasinya cukup menggunakan air saja untuk mencuci vagina,” pungkasnya.
Nah, itu dia ulasan mengenai keputihan dan cara perawatan yang baik serta tepat. Jika muncul gejala yang tidak biasa, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
POPMAMA TALK Maret 2026 - dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RS Pondok Indah - Puri Indah
Senior Editor - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Irma Erdiyanti
Photographer - Hari Firmanto
Videographer - Hari Firmanto
Video Editor - Hari Firmanto
Design - Aristika Medinasari


















