10 Tanda Kanker Serviks Sudah Menyebar ke Organ Sekitar

- Nyeri panggul atau punggung bawah yang hebat
- Pembengkakan pada kaki (edema)
- Darah dalam urin (hematuria)
Kanker serviks adalah jenis kanker yang bermula di sel-sel leher rahim, yaitu bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina, yang hampir seluruh kasusnya dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV).
Berdasarkan data medis otoritas dunia dari Cancer Research UK, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala nyata di awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sel ganas sudah mulai bermetastasis atau menyebar ke organ lain.
Memahami tanda-tanda penyebaran ini sangat penting karena pada tahap ini, gejala yang muncul tidak lagi hanya menyerang area kewanitaan, melainkan sudah melibatkan gangguan fungsi organ vital seperti paru-paru, hati, hingga sistem saraf di panggul.
Berikut, Popmama.com akan menjelaskan tentang 10 tanda kanker serviks sudang menyebar ke organ sekitar yang patut diwaspadai. Simak yuk penjelasannya dibawah ini.
Table of Content
1. Nyeri panggul atau punggung bawah yang hebat

Nyeri pada area panggul atau punggung bawah pada stadium lanjut biasanya bersifat menetap dan terasa menusuk bagi penderitanya. Nyeri ini kerap terasa berulang kali oleh penderita.
Rasa sakit ini muncul karena massa tumor telah tumbuh cukup besar sehingga menekan saraf-saraf di sepanjang tulang belakang atau dinding panggul, yang sering kali tidak mereda meskipun sudah beristirahat atau menggunakan obat pereda nyeri biasa.
Tekanan yang intens pada struktur tulang belakang ini juga dapat menyebabkan kekakuan otot panggul yang ekstrem, sehingga membuat penderita kesulitan untuk sekadar duduk atau berbaring dengan posisi yang nyaman.
Selain tekanan pada saraf, nyeri ini juga bisa disebabkan oleh penyebaran kanker ke jaringan lunak atau otot di sekitar rahim yang memicu peradangan hebat di area tersebut.
Dalam beberapa kasus, rasa sakit dapat menjalar hingga ke area paha, yang menandakan bahwa infiltrasi kanker telah mencapai saraf skiatik yang mengontrol pergerakan kaki bawah.
Kondisi ini sering kali diperparah oleh pelepasan zat kimia pemicu nyeri ke otak yang membuat sensasi pegal terus-menerus berubah menjadi rasa tajam seperti terbakar saat tubuh melakukan sedikit pergerakan fisik.
2. Pembengkakan pada kaki (edema)

Pembengkakan kaki atau limfedema, terjadi ketika sel kanker menyebar ke kelenjar getah bening di panggul dan menyumbat sirkulasi cairan limfa secara total.
Cairan yang tersumbat ini kemudian menumpuk di jaringan lunak kaki, menyebabkan salah satu atau kedua kaki membengkak secara signifikan hingga kulit terasa sangat berat, tegang, dan tidak nyaman.
Pembengkakan ini biasanya bersifat asimetris, di mana satu kaki mungkin terlihat jauh lebih besar daripada kaki lainnya disertai tekstur kulit yang tampak mengkilap atau kencang saat ditekan.
Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh tekanan tumor pada pembuluh darah besar (vena) yang bertugas membawa darah kembali dari kaki menuju jantung di area perut bawah.
Jika tidak segera ditangani, pembengkakan ini dapat membatasi mobilitas pasien karena kaki menjadi kaku dan membuat alas kaki yang biasanya pas menjadi tidak muat lagi dalam waktu singkat.
Jika kulit yang bengkak ditekan dengan jari, biasanya akan meninggalkan bekas cekungan yang cukup lama hilang, yang secara medis menunjukkan adanya retensi cairan yang sudah mencapai tahap parah di bawah jaringan kulit.
3. Darah dalam urin (hematuria)

Munculnya darah dalam urin adalah indikasi kuat bahwa sel kanker serviks telah menginvasi dinding kandung kemih yang letaknya berdekatan dengan rahim.
Tumor yang tumbuh menembus lapisan pelindung kandung kemih menyebabkan luka dan pendarahan internal yang kemudian bercampur dengan urin saat dikeluarkan dari tubuh melalui saluran kemih.
Urin mungkin tidak selalu berwarna merah terang seperti terkadang urin tampak keruh, berwarna merah muda pucat, atau bahkan kecokelatan seperti air teh tergantung pada intensitas pendarahan yang terjadi.
Selain perubahan warna, penderita biasanya merasakan sensasi terbakar atau nyeri yang tajam saat berkemih serta dorongan mendesak untuk ke kamar mandi meskipun kandung kemih sebenarnya kosong.
Gejala ini memerlukan pemeriksaan sistoskopi segera untuk melihat sejauh mana kerusakan pada saluran kemih akibat invasi sel kanker yang mulai mengganas tersebut.
Jika perdarahan cukup masif, sering kali terbentuk gumpalan darah kecil yang dapat menyumbat saluran kencing dan memicu rasa nyeri kolik yang luar biasa saat urin berusaha didorong keluar dari tubuh.
4. Gangguan buang air besar (BAB) berdarah

Penyebaran kanker ke arah belakang dapat menekan atau menembus dinding rektum dan usus besar bagian bawah secara langsung karena lokasinya yang sangat dekat.
Hal ini menyebabkan gangguan pola buang air besar yang ekstrem, seperti sembelit yang persisten atau diare kronis, serta adanya darah segar maupun darah gelap yang bercampur dengan feses.
Selain darah, penderita mungkin menyadari bahwa bentuk kotoran atau feses menjadi jauh lebih ramping atau pipih seperti pensil akibat adanya massa tumor yang menyempitkan jalur usus.
Tekanan tumor pada saluran pencernaan bawah juga sering menyebabkan sensasi tidak tuntas atau rasa penuh di rektum setelah buang air besar, sebuah kondisi yang secara medis disebut tenesmus.
Gejala ini menandakan bahwa stadium kanker telah mencapai tahap di mana organ sistem pencernaan mulai terdampak secara fungsional dan struktural akibat desakan massa tumor.
Peradangan kronis pada dinding rektum akibat invasi kanker ini juga bisa memicu keluarnya lendir bersamaan dengan tinja, yang menunjukkan adanya kerusakan lapisan mukosa usus yang sangat serius dan butuh penanganan.
5. Kelelahan ekstrem (fatigue)

Kelelahan pada kanker stadium lanjut berbeda dengan rasa lelah biasa; ini adalah rasa lemas yang luar biasa berat dan tidak hilang meski penderita telah beristirahat total.
Hal ini disebabkan oleh tubuh yang bekerja ekstra keras untuk melawan sel kanker serta adanya ketidakseimbangan metabolisme yang menguras seluruh cadangan energi tubuh penderita.
Sel-sel kanker secara agresif "mencuri" nutrisi penting dari aliran darah, sehingga sel-sel sehat di seluruh tubuh kekurangan bahan bakar untuk menjalankan fungsi dasar mereka sehari-hari.
Faktor tambahan seperti anemia atau kurang darah akibat pendarahan vagina yang terus-menerus juga memperburuk kondisi fisik penderita secara drastis dalam waktu singkat.
Akibatnya, oksigen tidak dapat tersalurkan dengan baik ke otak dan otot, sehingga pasien merasa sangat letih, pening, atau berkunang-kunang bahkan saat melakukan aktivitas ringan seperti duduk tegak.
Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari meskipun sudah tidur lama di malam hari merupakan sinyal kuat bahwa sistem kekebalan tubuh sudah sangat terbebani oleh perkembangan kanker.
6. Penurunan berat badan drastis

Kehilangan berat badan secara signifikan tanpa rencana diet merupakan tanda sistemik yang sangat umum pada keganasan kanker yang sudah menyebar luas.
Sel kanker mengonsumsi sebagian besar energi tubuh dan nutrisi untuk membelah diri secara cepat, sehingga massa otot dan cadangan lemak tubuh menyusut drastis dalam waktu singkat.
Hilangnya massa otot ini biasanya terlihat jelas pada area wajah yang mulai tampak kempot, tulang selangka yang menonjol, serta lengan yang mengecil meskipun penderita masih mencoba makan.
Selain itu, kanker stadium lanjut sering kali melepaskan protein yang disebut sitokin, yang dapat menekan nafsu makan dan mengubah cara tubuh mengolah nutrisi secara total.
Akibatnya, pasien mengalami kondisi kakeksia, di mana tubuh terlihat sangat kurus dan lemah karena metabolisme menjadi tidak beraturan akibat serangan sel kanker.
Perubahan kimia dalam otak akibat kanker ini juga bisa mematikan sinyal lapar, menyebabkan pembakaran kalori terjadi jauh lebih cepat dari batas normal bahkan saat penderita sedang tidur atau tidak beraktivitas.
7. Sesak napas atau batuk darah

Gejala ini muncul ketika sel kanker serviks telah lepas dari situs utama di rahim dan menetap di jaringan paru-paru, yang secara medis disebut metastasis paru.
Keberadaan tumor di paru-paru mengganggu proses pertukaran oksigen yang vital, yang menyebabkan pasien sering merasa sesak napas atau megap-megap meski hanya sedang duduk diam.
Penderita sering kali merasa ada beban berat di dada yang menghalangi paru-paru untuk mengembang secara sempurna saat mencoba menarik napas dalam-dalam secara manual.
Batuk yang dialami biasanya bersifat kering pada awalnya, namun seiring waktu dapat menjadi batuk kronis yang mengeluarkan dahak disertai bercak darah segar yang mengkhawatirkan.
Kondisi ini menandakan adanya kerusakan pada pembuluh darah di dalam paru-paru akibat pertumbuhan tumor yang merusak jaringan sehat di sekitarnya secara agresif.
Jika cairan mulai menumpuk di sekitar kantung paru-paru (efusi pleura), sesak napas akan terasa semakin mencekik dan merupakan indikasi darurat bahwa kanker telah menyebar jauh ke organ pernapasan.
8. Nyeri tulang yang persisten

Nyeri tulang adalah indikator umum bahwa kanker telah bermetastasis ke sistem kerangka tubuh, paling sering menyerang tulang belakang, tulang rusuk, atau tulang panggul besar.
Nyeri ini biasanya terasa sangat dalam, berdenyut, dan sering kali memburuk secara signifikan pada malam hari atau saat penderita melakukan pergerakan fisik tertentu.
Nyeri ini sering kali sulit dideskripsikan lokasinya secara pasti karena rasa sakitnya seolah-olah berasal dari bagian terdalam sumsum tulang yang tertekan oleh massa kanker.
Penyebaran ke tulang membuat struktur tulang menjadi sangat tipis dan rapuh sehingga penderita rentan mengalami patah tulang meskipun hanya karena cedera kecil atau tekanan ringan saja.
Sel kanker yang merusak jaringan tulang juga akan meningkatkan kadar kalsium dalam darah, yang dapat memicu gejala tambahan seperti kebingungan mental dan rasa mual yang hebat.
Penanganan medis untuk tanda ini biasanya melibatkan radioterapi khusus guna mengurangi rasa nyeri serta memperkuat struktur tulang yang mulai rapuh agar tidak mudah mengalami fraktur.
9. Terbentuknya fistula (kebocoran vagina)

Fistula adalah saluran abnormal atau "lubang" yang terbentuk karena kanker telah merusak jaringan pemisah antar organ di dalam area panggul bawah.
Dalam kasus kanker serviks lanjut, lubang ini bisa terbentuk antara vagina dan kandung kemih atau antara vagina dan rektum akibat hancurnya sekat alami oleh massa tumor.
Kondisi ini sangat menyiksa karena urin atau feses akan keluar melalui liang vagina secara terus-menerus tanpa bisa dikontrol, yang sering kali menimbulkan rasa malu dan depresi bagi pasien.
Selain ketidaknyamanan fisik, keluarnya limbah tubuh melalui vagina menyebabkan iritasi kulit yang parah, bau tidak sedap, serta risiko infeksi saluran kemih yang terjadi secara berulang.
Paparan bahan sisa tubuh ini juga memicu luka lecet di area kewanitaan yang sulit disembuhkan selama kanker masih aktif merusak jaringan sekat antar organ tersebut.
Fistula merupakan tanda nyata bahwa kerusakan jaringan telah mencapai tahap yang sangat lanjut dan memerlukan perawatan paliatif khusus guna menjaga kebersihan serta harga diri penderita.
10. Penyakit kuning (jaundice)

Penyakit kuning ditandai dengan menguningnya kulit dan bagian putih mata akibat penumpukan bilirubin di dalam aliran darah penderita secara berlebihan.
Kondisi ini terjadi jika kanker serviks telah menyebar ke organ hati (liver), sehingga mengganggu fungsi hati dalam menyaring racun dan memproses cairan empedu secara normal.
Selain perubahan warna, penderita mungkin mengalami rasa gatal yang hebat dan tidak tertahankan di seluruh permukaan kulit akibat tumpukan garam empedu yang masuk ke jaringan bawah kulit.
Pasien juga mungkin merasakan nyeri tumpul di perut bagian kanan atas serta melihat perutnya mulai tampak membusung atau membuncit akibat penumpukan cairan yang disebut asites.
Urin yang berwarna sangat gelap seperti cola dan tinja yang berwarna pucat seperti dempul adalah indikasi medis kuat bahwa fungsi hati telah mengalami kegagalan akibat serangan kanker.
Tanda ini menunjukkan bahwa beban kanker di dalam tubuh sudah sangat berat karena telah menyerang organ vital yang sangat krusial untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
10 tanda kanker serviks sudah menyebar ke organ sekitar di atas menunjukkan bahwa kanker serviks tidak lagi terbatas pada area leher rahim, melainkan sudah memengaruhi fungsi organ lain di seluruh tubuh.
Jika Mama ada gejala yang dirasakan, terutama yang bersifat menetap dan mengganggu aktivitas, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Diagnosis yang cepat sangat penting agar penyebaran kanker bisa segera ditangani dengan prosedur medis yang tepat.

















