Pernah berdiri lama di depan rak telur karena bingung memilih? Kemasannya tampak mirip, padahal tiap butir punya cerita berbeda tentang bagaimana ayamnya dipelihara.
Ternak Ayam Cage-Free, Ini 3 Fakta di Balik Telur Bebas Sangkar

Kampanye Telur Baik oleh Indonesia Cage-Free Association mengenalkan telur bebas sangkar, dengan fokus pada cara ayam dipelihara dan informasi yang dapat dipertimbangkan konsumen.
Dalam sistem cage-free, ayam tidak ditempatkan di kandang baterai sehingga dapat bergerak, bertengger, mengais, mandi debu, dan bertelur di kotak sarang.
Sistem free-range memberi akses luar ruang dan pakan tambahan; kualitas telur juga dipengaruhi pakan serta peran peternak, dengan produk tertentu menonjolkan omega-3 atau vitamin D.
Cerita itulah yang dikenalkan lewat Kampanye Telur Baik, kegiatan edukasi seputar telur ayam bebas sangkar. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Cage-Free Association (ICFA) pada Kamis (29/10/2026) di Jakarta, dijelaskan beberapa fakta di baliknya,
Supaya kamu tidak penasaran sendirian, berikut Popmama.com mengulas ternak ayam cage-free, ini 3 fakta di balik telur bebas sangkar. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Ayam tidak lagi hidup di kandang baterai

Pexels/Calvin Seng Mari mulai dari dasarnya. Dalam sistem pemeliharaan bebas sangkar, ayam tidak ditempatkan di kandang baterai.
Ayam punya ruang untuk bergerak dan menjalani perilaku alaminya, seperti bertengger, mengais, mandi debu, hingga bertelur di kotak sarang. Dengan begitu, kebiasaan sehari-hari mereka bisa tetap terjaga.
“Ada keputusan yang dibuat di peternakan sampai akhirnya tersedia telur ayam bebas sangkar di meja makan. Kami mengundang masyarakat untuk melihatnya secara keseluruhan: siapa peternaknya, bagaimana ayam dipelihara, dan informasi apa yang bisa menjadi pertimbangan mereka,” kata Kristina Yolanda, Ketua ICFA.
2. Ayam free-range bisa berjemur dan mencari pakan tambahan

Pexels/Erwin Bosman Pada sistem free-range, ayam mendapat akses ke area luar ruang kandang. Dari situ, pakan mereka pun jadi lebih variatif.
Salah satu peternak yang ikut dalam kampanye ini menerapkan cara tersebut agar ayamnya bisa berjemur dan mencari pakan alami tambahan. Produk telurnya diklaim memiliki kandungan vitamin D yang lebih tinggi.
“Paparan sinar matahari meningkatkan kandungan vitamin D pada telur, sementara pakan tambahan seperti daun kemangi dan daun pepaya menjadi sumber antioksidan alami bagi ayam,” ujar Bryan, salah satu peternak ayam petelur.
Namun, akses ke luar kandang bukan satu-satunya penentu. Ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu apa yang dimakan ayam setiap hari.
3. Pakan dan peran peternak ikut menentukan kualitas telur

Pexels/Mario H Di kegiatan ini, pengunjung bisa mengenal tiga peternak yang punya karakter produk berbeda. Ketiganya sudah memperoleh sertifikasi internasional yang memastikan hewan dipelihara sesuai standar kesejahteraan.
Salah satunya adalah memberi ayam pakan bersumber dari protein nabati. Peternak lain menonjolkan kandungan omega-3 pada telurnya, sementara satu lagi mengklaim vitamin D yang lebih tinggi.
“Biasanya saat membeli telur, konsumen lebih banyak melihat ukuran atau harganya. Padahal, ada cerita tentang bagaimana ayam yang dipelihara secara alami dapat menghasilkan telur yang sehat dan berkualitas,” jelas Roby, peternak ayam petelur.
Ia juga menjelaskan peranan penting peternak yang sesuai untuk ayam agar menghasilkan produk telur yang berkualitas.
“Tidak lepas dari kualitas makanan ternak yang terbaik dan juga peran peternak dalam berinteraksi dengan sang ayam,” tambah Roby.
Nah, itulah pembahasan mengenai ternak ayam cage-free, ini 3 fakta di balik telur bebas sangkar. Semoga informatif dan bermanfaat!


-J0WpLFCA888HPHJscXPcMeveC9QbqwAf.jpg)








-f4f9908cd1ced5f07575ae33ccb1cf58.png)










