Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Beban Pengasuhan Selalu di Mama? Dilema Jati Diri dan Karier
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
  • Perjalanan menjadi seorang Mama penuh dengan momen berat, mulai dari manajemen waktu yang timpang hingga hilangnya jati diri setelah melepas karier demi anak.

  • Rasa bersalah (guilt) adalah makanan sehari-hari bagi seorang Mama, namun kuncinya bukan menghilangkan perasaan tersebut melainkan belajar berdamai.

  • Pengasuhan anak bukanlah tugas mutlak bagi Mama sendirian, melainkan tanggung jawab bersama dengan keterlibatan aktif dari sosok Papa di rumah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sering kali, beban dan ekspektasi pengasuhan anak secara otomatis tertumpu pada pundak seorang mama, seolah membesarkan anak adalah tugas mutlak perempuan sendirian. 

Padahal, untuk menciptakan tumbuh kembang anak yang optimal, dibutuhkan lingkungan rumah yang suportif dan kerja sama yang setara antara kedua orangtua.

Realita mengenai kompleksitas peran Mama dan pentingnya membangun kerja sama dalam parenting dibahas secara mendalam dalam acara Festival Keluarga Kita 2026 pada Minggu (28/6/2026). 

Para narasumber seperti Zivanna Letisha, Ramanda Salsa, dan Elwina Wilianto (Ibun) membagikan perspektif penting untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada Mama yang benar-benar sempurna di dunia ini.

Berikut Popmama.com rangkum mengenai realita pengasuhan dan pentingnya membangun ekosistem yang suportif di rumah.

1. Titik terberat Mama antara fleksibilitas waktu dan hilangnya jati diri

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Menjalani peran ganda sebagai mama bekerja dengan waktu yang fleksibel sekalipun tetap memiliki titik lelah yang luar biasa, terutama jika harus mengasuh beberapa anak usia dini sekaligus tanpa bantuan support system yang memadai. 

Di sisi lain, tantangan berbeda dihadapi oleh mama yang memilih melepas karier kantoran demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. 

Ada fase di mana seorang mama merasa kehilangan identitas pribadinya setelah menetap di rumah, karena eksistensinya seolah melebur hanya sebagai sosok mama tanpa ada yang menanyakan kabarnya sendiri. 

“Nggak hanya dari pekerjaan, nggak ada yang ingat siapa dia, cuma sebagai Mama dari nama anak, nggak ada juga yang nanya kabar,” ujar Ibun. 

Kerumitan ini diperparah oleh stigma lingkungan yang timpang, misalnya di mana saat anak pintar justru Papa yang dipuji, namun saat anak sakit, justru Mama yang ditegur dan disalahkan.

2. Dilema Mama pekerja dan ancaman keadaan darurat anak

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Bagi seorang Mama yang bekerja kantoran dengan jam kerja terikat dari jam 8 pagi hingga 5 sore, kecemasan terbesar adalah ketika terjadi kondisi darurat pada anak di rumah saat mereka sedang berada di tempat kerja. 

Misalnya ketakutan saat anak tiba-tiba mengalami demam tinggi atau keadaan darurat lainnya di saat posisi Mama jauh di kantor sering kali memicu perang batin. 

Situasi darurat seperti ini sering menjadi titik balik yang membuat para Mama pekerja mempertanyakan kembali keputusan mereka untuk tetap berkarier di tengah risiko kesehatan anak. 

3. Perang batin melawan rasa bersalah yang hadir setiap hari

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Rasa bersalah seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi setiap Mama, baik yang bekerja maupun yang di rumah saja. 

Momen paling berat adalah ketika secara fisik mama sedang mengasuh anak, namun pikiran dan jiwanya tidak bisa hadir 100 persen karena terbagi dengan urusan pekerjaan, atau sebaliknya. 

“Secara badan ada di situ tapi pikiran ada di mana mana. Pas di tempat kerja, badan di kantor tapi pikiran ke rumah. Di mana-mana nggak 100%,” ucap Zivanna. 

Solusi dari dilema ini bukan berusaha menghilangkan rasa bersalah tersebut, melainkan belajar memvalidasi, menerima, dan berdamai dengan keterbatasan diri. 

“Kadang perasaan itu harus diputuskan, dan gapapa kalo keputusan itu buat Mama sendiri bahagia,” ucap Salsa.

Setiap pilihan pengasuhan yang diambil harus disertai ketegasan sikap demi menjaga kesehatan mental mama. 

4. Mengubah rasa tidak sempurna menjadi energi belajar

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu hampir 24 jam bersama anak pun tidak luput dari rasa bersalah, terutama saat mereka merasa jenuh dan sangat ingin memiliki waktu sendiri (me time) tanpa melakukan aktivitas pengasuhan apa pun. 

Namun, merasa bersalah dan merasa tidak sempurna sebagai orangtua sebenarnya bukanlah hal yang buruk. 

“Karena kita jadi akan mencari ilmu lagi untuk memperbaiki anak sendiri,” ucap Ibun menenangkan para Mama agar tidak larut dalam rasa bersalah.

Perasaan tersebut justru menjadi kompas pengingat bahwa kita adalah orangtua yang peduli pada tumbuh kembang anak. 

Ketidaksempurnaan ini sebaiknya diubah menjadi energi positif untuk terus mencari ilmu, belajar, dan memperbaiki kualitas pengasuhan mandiri di rumah tanpa harus terus-menerus menghakimi diri sendiri.

5. Membongkar stigma bare minimum dan keterlibatan sosok papa

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Kualitas pengasuhan anak sejak usia dini di rumah memiliki dampak yang sangat besar bagi pembentukan karakter harian anak, yang nyatanya dibentuk dari lingkungan rumah melalui kerja sama antara Papa dan Mama. 

Selama ini masih ada fenomena pujian berlebih dari masyarakat saat seorang Papa melakukan hal kecil dalam parenting, seperti mengajarkan anak naik sepeda, padahal pengasuhan adalah tugas bersama. 

“Padahal kan pengasuhan tugas Mama dan Papa. Di situ sih yang ingin meluruskan kita sama-sama,” ujar Salsa. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, Mama juga harus memahami latar belakang suami yang mungkin tidak memiliki contoh figur orangtua yang baik di masa kecilnya. 

“Mama harus aware, nggak semua ayah punya sosok ayah yang baik. Mama punya mental mothering, tapi suami nggak,” ucap Ibun. 

Solusinya, Papa harus dibiarkan terlibat langsung, ikut mencoba, dan tidak boleh dilarang-larang agar bisa belajar mengasuh secara mandiri demi mencegah terjadinya fenomena fatherless di rumah.

Perjalanan mengasuh anak memang tidak pernah mudah, namun dengan menurunkan ekspektasi untuk menjadi sempurna dan membuka komunikasi yang sehat dengan pasangan, beban tersebut akan terasa lebih ringan.

Melihat realita parenting di atas, tantangan mana yang paling relevan dan sedang Mama hadapi saat ini di rumah?

Editorial Team

Related Article